Kamis, 26 Juli 2012

LIPUTAN: GEMA SEPAK BOLA DALAM GULITA


Kemeriahan pertandingan Sepak Bola rupanya tak hanya menggema dari ajang Piala Eropa saja, melainkan menggema pula di Lapangan Balai Pelatihan Pendidikan Kejuruan (BP DIKJUR) Semarang yang beralamat di Jl. Broto Joyo 1 kota Semarang. Sebuah Turnamen Sepak Bola memang diselenggarakan selama 3 hari yaitu pada tanggal 14 sampai 16 Juni 2012 di BP DIKJUR Semarang. Berbeda dengan Turnamen Sepak Bola pada umumnya yang biasa diisi oleh para pemain dengan kondisi fisik sempurna tanpa ada keterbatasan fisik sedikit pun, pada Turnamen yang satu ini justru diisi oleh para pemain dengan kondisi Disabilitas Netra. Ya, para Tunanetra baik dengan kondisi Totally Blind maupun Low-vision berlomba-lomba memperebutkan gelar juara dalam Turnamen Sepak Bola Tunanetra yang baru pertama kali diselenggarakan di kota Semarang ini.

            Turnamen Sepak Bola Tunanetra Jawa Tengah ini merupakan gawean dari DPD PERTUNI (Persatuan Tunanetra Indonesia) Jawa Tengah sebagai perwujudan dari program kerja tahunan sebagaimana yang telah disusun dalam Musyawarah Daerah (MUSDA) ke-V PERTUNI Jawa Tengah pada tahun 2010 silam. Meskipun baru pertama kali diadakan, namun antusiasme dari para Tunanetra Jawa Tengah begitu besar. Hal itu terbukti dari banyaknya PERTUNI cabang di beberapa kota dan kabupaten di Jawa Tengah yang ingin mengikuti Turnamen unik tersebut. Tercatat ada 9 tim dari beberapa kota/kabupaten di Jawa Tengah yang berlaga dalam Turnamen yang cukup menyita perhatian para pewarta berita baik local maupun nasional ini. Masing-masing tim beranggotakan 6 orang Tunanetra dengan klasifikasi 3 orang dengan kondisi Totally Blind dan 3 orang dengan kondisi Low-Vision. Ke Sembilan tim tersebut yaitu tim dari Salatiga, Brebes, Kudus, , Wonosobo, Magelang, Purworejo, Banjarnegara, Temanggung dan Semarang.

            Menurut Indra Kurniawan, S.h selaku Ketua Panitia Turnamen Sepak Bola Tunanetra Jawa Tengah, latar belakang didiselenggarakannya Turnamen ini karena Turnamen Sepak Bola Tunanetra ini terhitung sebagai kegiatan yang unik, mengundang rasa penasaran, serta mempunyai nilai jual sehingga mampu mengundang perhatian dari masyarakat maupun pemerintah. Selain itu, beliau juga menambahkan bahwa tujuan diselenggarakannya Turnamen Sepak Bola Tunanetra ini adalah sebagai wadah untuk menampung bakat para Tunanetra dalam bidang olahraga, untuk mempererat tali silaturahim diantara Tunanetra se-Jawa Tengah, sekaligus sebagai  sarana menumbuhkan jiwa sportifitas yang dapat dibawa dalam organisasi. Tak hanya itu, Beliau pun menuturkan bahwa Turnamen Sepak Bola Tunanetra ini dapat pula bertujuan sebagai sarana eksistensi PERTUNI dalam masyarakat.

            Ada beberapa teknis dan peraturan yang berlaku dalam Turnamen Sepak Bola Tunanetra Jawa Tengah ini. Namun seperti diakui oleh Indra Kurniawan, S.H, permainan Sepak Bola Tunanetra ini tidaklah sama seperti permainan Sepak Bola pada umumnya maupun permainan Futsal yang sekarang ini tengah “hits” di kalangan masyarakat. Perbedaan yang menyeruak bukan hanya terletak pada para pemain yang notabene adalah Tunanetra, melainkan terletak pula pada system permainan. Perbedaan itu dapat kita lihat pada jumlah pemain dan lapangan tempat berlangsungnya pertandingan. Dalam Turnamen Sepak Bola Tunanetra Jawa Tengah ini hanya terdapat 6 orang pemain dan menggunakan sebuah lapangan terbuka berukuran panjangg 30M dan lebar 20M. Nah, tentu kita semua mengetahui bahwa dalam permainan Sepak Bola harus diisi oleh sebelas pemain, sedangkan dalam Turnamen Sepak Bola Tunanetra Jawa Tengah ini hanya diisi oleh 6 pemain saja. Jika diklasifikasikan ke dalam jenis permainan Futsal pun, permainan mengolah si kulit bundar dengan lakon para Tunanetra se-Jawa Tengah ini tidaklah memenuhi syarat karena tidak menggunakan lapangan in-door.

“Meski Turnamen Sepak Bola ini tidak mengikuti peraturan permainan Sepak Bola yang telah ada, tapi kami telah emmiliki aturan sendiri sesuai dengan kemampuan kami., Yang terpenting bagi kami, Turnamen ini dapat mempererat tali persaudaraan di antara teman-teman Tunanetra di Jawa Tengah,” tutur Indra Kurniawan, S.H yang ditemui pada hari Kamis (14/06).

            Ada pun teknis dan peraturan yang berlaku dalam Turnamen yang memperebutkan Trophy sekaligus uang pembinaan ini yaitu masing-masing tim bermain 2x20 menit dengan syarat pemain Tunanetra dengan kondisi Low-Vision hanya diperbolehkan memasukan Bola ke dalam gawang sebanyak 2 gol dan selebihnya gol harus dicetak oleh pemain dengan kondisi Totally Blind.

            Dengan menggunakan Bola yang mengeluarkan suara gemerincing, para pemain harus berusaha memasukan si kulit bundar ke dalam gawang lawan yang pada masing-masing gawang telah dipasang bynyi-bynyian dari kentongan dan drum yang ditabuh oleh panitia.

            Atmosfer Keseruan pun terjadi dalam Turnamen ini dan tak jarang memicu gelak tawa dari para supporter sekaligus penonton yang berada di pinggir lapangan tanpa mempedulikan panasnya kota Semarang yang meraung-raung di lapangan BP DIKJUR Semarang. Bagaimana tidak, tak jarang para pemain gagal menendang Bola karena salah mengarahkan kaki pada si kulit bundar. Tak hanya itu, tak jarang pula para pemain berlari keluar lapangan. Selain itu, cidera ringan pun tentu mewarnai Turnamen ini. Cidera tersebut biasanya terjadi akibat benturan kaki di antara pemain mengingat keterbatasan penglihatan yang mereka miliki.

“Acaranya seru tapi lumayan capek soalnya aku lebih banyak gerak dibanding temen-temen yang Totally Blind,” ungkap Trio Aji Basuki  sebagai pemain dengan penglihatan Low-Vision dari PERTUNI cabang Brebes yang menamai tim-nya “Jack Poleng”.

Secara keseluruhan tak ada kendala yang berarti selama berlangsungnya perhelatan Turnamen Sepak Bola unik ini. Hanya saja panitia merasa penetapan teknis dan peraturan dalam Turnamen ini belumlah sempurna. Panitia mengaku, pemain umumnya membandingkan peraturan yang berlaku dalam Turnamen Sepak Bola Tunanetra Jawa Tengah tersebut dengan peraturan yang berlaku dalam permainan Sepak Bola Internasional.

“Berhubung Turnamen Sepak Bola semacam ini baru pertama kali kami selenggarakan, jadi disana-sini masih terdapat kekurangan. Biasanya pemain membandingkan peraturan yang panitia buat dengan peraturan yang sudah mereka kenal dalam permainan Sepak Bola Internasional,” ungkap Sigit Martopo selaku panitia sekaligus Mitra Bakti DPD PERTUNI Jawa Tengah.

Ungkapan bernada kecewa terhadap peraturan permainan justru terlontar dari mulut salah satu pemain. Ia merasa kecewa karena dianggap melakukan pelanggaran padahal peristiwa yang dianggap sebagai pelanggaran tersebut terjadi di luar kehendaknya sebagai Tunanetra dengan status penglihatan Totally Blind.

“Ketidak-sempurnaan dalam sebuah pertandingan tentu selalu ada, seperti pada Turnamen ini. Saya diberi kartu kuning karena tak sengaja menendang kaki pemain lain. Saya kan Tunanetra jadi saya tidak tahu yang mana kaki dan yang mana Bola. Tapi saya memaklumi semua itu karena mungkin Turnamen Sepak Bola ini pertama kali diselenggarakan sehingga panitia pun belum begitu memahami,” ungkap Febri Eko A yang tergabung dalam tim “Pandanaran FC” asal kota Semarang selepas bertanding melawan “Jack Poleng” pada Kamis (14/06).

            Menanggapi kekecawaan yang diterima oleh salah satu pemain, panitia mengaku menerima semua masukan yang terlontar dari rasa kecewa tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Suryandaru, S.H., S.S. selaku panitia sekaligus Ketua Umum DPD PERTUNI Jawa Tengah, segala masukan yang mampir kepada pihak penyelanggara akan diterima dengan lapang dada mengingat Turnamen ini baru pertama kali diselenggarakan dan tentunya masih banyak kekurangan disana-sini. Meski demikian, panitia telah baerusaha menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya.

“Panitia meyakini bahwa dalam Turnamen Sepak Bola Tunanetra yang kami selenggarakan ini masih penuh kekurangan, oleh sebab itu kami menerima segala bentuk masukan dari berbagai pihak termasuk dari pemain, seperti halnya masalah sangsi oleh wasit kepada pemain. Dalam sebuah pertandingan Sepak Bola, seorang wasit memiliki hak mengatur jalannya pertandingan termasuk emmberikan sangsi kepada pemain. Dan dalam Turnamen ini wasit sejatinya telah memperhitungkan gerakan pemain yang sekiranya akan membahayakan pemain lain. Jika ada gerakan yang dapat mencelakakan pemain lain, maka mau tidak mau wasit harus memberikan sangsi kepada pemain tersebut,” tutur Suryandaru, S.H., S.S.

“Terkadang pemain tersebut tidak tahu apakah gerakan yang ia lakukan berbahaya atau tidak terhadap pemain lain. Yang mengetahui semua itu pastilah sang wasit,” lanjut beliau.

Setelah bergulat dalam pertandingan yang mendebarkan selama tiga hari berturut-turut, akhirnya pada Sabtu (16/06) diperoleh 3 tim yang berhak mendapat gelar juara I, II, dan III, sekaligus diperoleh satu tim yang berhak mendapat gelar juara harapan. Ketiga tim uara tersebut yaitu tim dari Purworejo sebagai juara I, tim dari Semarang sebagai juara II dan tim dari Kudus sebagai juara III. Sedangkan pada posisi juara harapan diduduki oleh tim dari Wonosobo. Untuk juara I, memperoleh Trophy dan uang pembinaan sebesar Rp 1.000.000,-. Sementara itu untuk jaura II dan III masing-masing memperoleh uang pembinaan sebesar Rp 750.000,- untuk juara II dan Rp 500.000,- untuk juara III. Sama besarnya dengan juara III, juara harapan pun mendapat uang pembinaan sebesar Rp 500.000,-.

“Kami berharap Turnamen ini semakin mempererat tali persaudaraan di antara teman-teman Tunanetra,” ungkap Indra Kurniawan, S.H. menggantungkan harapannya pada Turnamen Sepak Bola Tunanetra Jawa Tengah yang telah berlangsung selama tiga hari tersebut.

Dipostkan di www.kartunet.com

PUISI : ADA NAMUN TIADA

Rindu itu datang padaku
Mengemis cinta, mengais tanya
Indah kah wajahnya yg polos tanpa cumbu kata juga gerak merah jambu???
Lepaskan rindu itu dalam jujur hati tanpa harus ingkar mengingkari!!
Berkawan dengan rasa tanpa kata hanya akan membuat rindu itu mati

Layu mungkin si rindu itu
Nyaris mati karena tak ada yang mau peduli
Lelah sudah rindu itu menari
Berlenggak-lenggok di padang hati sang pesona duniawi
Haus sudah terlanjur basah oleh resah
Gerimis itu tak kunjung basuh haus itu
Sudahlah....
Biarkan tetap sama...
Rindu itu tegar
Tak mudah patah tertiup sikap redup dalam lingkaran temaram

Rindu itu akan tetap bersemi
Menanti gerimis meski kerontang telah merasuk hingga sanubari
Percayalah rindu itu akan selalu ada...
Tetap ada sampai cinta mau berkata padanya...
Sampai tanya tak lagi bersanyawa dalam pengharapannya...

CERITA: UJUNG

Gadis kecil itu memeluk lututnya erat-erat. Tubuh kecilnya menghuni sudut kosong di kamar mungilnya. Gulita ia biarkan menari mengelilinginya, hanya kilau
air mata di kedua pipinya lah yang ia biarkan benderang. Menangis, gadis itu menangis. Tak ada yang tahu apa yang sedang ia tangisi, bahkan dinding kamarnya
pun tak tahu apa yang gadis kecil itu tangisi padahal sudah jelas-jelas kawan sang adis hanyalah dinding-dinding beku kamar itu.
Lagi…air matanya lagi-lagi jatuh di kedua pipinya. Lagi-lagi dia terisak. Tapi kali ini ia lepaskan pelukan tangannya dari lututnya. Perlahan bahkan sangat
pelan, sambil menahan pilu yang ia rasakan, tangan mungilnya meraih sesuatu yang teronggok begitu saja tak jauh dari tempat ia berpilu ria. Sepotong kaki
boneka, itulah yang diraih oleh gadis kecil tanpa kawan itu. Digenggamnya sepotong kaki boneka itu, lalu diamatilah benda tak bernyawa itu. Lekat ia pandangi,
sampai akhirnya gerimis yang begitu lebat kembali menghias wajah polosnya.
“Jangan pergi…” begitu katanya dengan gerimis di kedua mata beningnya.
“Aku takut kalau kau pergi…” untuk yang kedua kalinya ia lemparkan kalimat di antara tangisnya.
“Kalau kau pergi, lalu siapa yang akan menjadi sahabatku?”
“Ayah dan Ibu sudah pergi meninggalkanku, lalu apakah kau pun akan pergi meninggalkanku?” gadis itu berdialog dengan sepotong kaki boneka yang masih ia
genggam.
“Mereka…anak-anak nakal itu…orang-orang dewasa tak punya hati itu…” gadis kecil itu menghentikan kalimatnya. Ia terdiam sejenak, seolah tengah menahan
perih yang teramat dalam di hatinya.
“Gara-gara mereka aku seorang diri di dunia ini…gara-gara mereka Ayah dan Ibu pergi…dan sekarang, gara-gara mereka pula kau akan pergi…” bibir gadis kecil
itu bergetar. Bola mata yang semula bening bagai embun pagi tadi, kini berubah menjadi merah membara bagai ada api yang menyala disana.
Gadis kecil itu kembali menggerakkan tangannya. Diraih kembali sisa-sisa potongan boneka yang teronggok tak jauh darinya. Kini ia dekap potongan-potongan
boneka itu, lalu dibasuhlah boneka yang tak lagi utuh itu dengan air matanya. Perih…seolah hati gadis kecil tiu begitu perih. Lallu dia bangkit dari tempat
duduknya. Ia berjalan di antara gulita yang menyelimutinya. Ia terus berjalan tanpa peduli pekat dan tanpa peduli dinding-dinding kamar yang menelanjanginya.
Dan akhirnya kaki mungilnya terhenti tepat di hadapan jendela yang tertutup rapat dengan sehelai gorden melambai pada pekat malam. Perlahan ia sibak gorden
yang melambai itu. Setelah tak ada lagi gorden yang menghalangi pandangannya, ia pun membuka jendela yang tertutup itu. Tak ada semilir angin atau pun
kerlip bintang, yang ada hanyalah pekat, pekat yang tak seperti malam-malam bisanya.
“Ayah…” bibirnya bergetar dengan gerimis yang masih mengalir di kedua pipinya.
“Ibu…”
“Aku kangen kalian…” ungkapan yang begitu tulus ia hadiahkan untuk Ayah dan Ibunya yang sudah berada di syurga.
“Ayah…Ibu…boleh kan kalau bonekaku ketemu Ayah dan Ibu untuk sampaikan salam rinduku pada kalian?” tatapannya kosong menghempas ke langit lepas yang begitu
pekat. Lalu, potongan tubuh boneka yang semula digenggamnya secepat kilat melulncur keluar jendela dan jatuh menimpa tanah yang berjarak beberapa meter
dari tempatnya berddiri.
“Horeee…sekarang bonekaku sudah ketemu Ayah dan Ibu” gadis kecil itu bertepuk tangan sambil menabur tawa mengerikan di antara aktibvitas tepuk tangannya.

Setelah tak lagi bertepuk tangaan, kini ia melakukan aksi lain. Ia memanjat jendela kamarnya, dan…
Gadis kecil berpita merah jambu itu tertawa kecil sambil memandangi sesosok tubuh gadis kecil yang tergeletak bersimbah darah tepat berdampingan dengan
potongan-potongan boneka. Gadis kecil itu tengah bercermin pada mayat di hadapannya. Mayat itu, mayat yang kaku dengan amis darah, mayat yang tergeletak
bersama boneka itu adalah dia, si pemilik tawa kecil yang mematung di hadapan mayatyang meluncur dari atas jendela kamar yang gelap gulita.
“Sekarang aku bias ketemu Ayah dan Ibu…”
“Sekarang aku gak akan seorang diri lagi…”
“Aku akan menghuni syurga bersama Ayah, Ibu dan bonekaku…” gadis kecil itu tersenyum lebar sambil tetap mengamati dirinya yang tergeletak bersimbah darah
di atas tanah.

Part 1 : Kertas Milik cita

Cerita Ala Oneng

CERLU: UDIN GALAU SEDUNIA!


            Udin ngelamun. Muka eksotis dengan hiasan jerawat di pipi kiri dan kanan, Udin lipat sampai enam bagian. Kalau udah dilipat-lipat begitu, tinggal buang aja deh ke tong sampah. Bibirnya yang seksi dengan jigong yang masih nemplok disana ,kelihatan manyun. Pokoknya tampang si Udin hari ini “gak” pakai “banget”. Berhubung gak ada tokoh lain yang bersedia jadi tokoh utama dalam tulisan ini, jadi mau gak mau penulis pakai jasa cowok berambut kriting ala Marley Mondrow itu. Dihimbau kepada seluruh pembaca, sediakan kantung plastic selama tulisan ini ditayangkan. Diprediksi para pembaca bakalan muntah-muntah bahkan sampai buang air gara-gara ngeliatin muka si Udin.
“Stop dong caci makinya, Mbak penulis! Gue udah capek nih pasang gaya ngelamun, mana ngelamunnya di bawah pohon Mangga lagi. Kalau gue digerayangin ulet bulu gimana?? Ayo dong Mbak, lanjut ke adegan selanjutnya!” protes si Udin. Bener juga kata si Udin, bisa gawat kalau si Udin sampai bersentuhan sama Ulat bulu. Bukan apa-apa, kasihan aja kalau itu Ulat sampai gatel-gatel plus bentol-bentol gara-gara nempel sama si Udin. OK, lanjut aja ke cerita!
            Gak Cuma status Facebook-nya aja yang galau, suasana hati Udin sekarang ini pun lagi galau, bahkan galau stadium akhir. Saking galaunya, dia sering ngelamun di bawah pohon mangga sambil dengerin lagu “Begadang” milik Bang Rhoma. Agak gak nyambung sih sama tema galau yang lagi Udin pajang dalam setiap helaan nafasnya, tapi penulis nurut aja deh. Maklum, itu lagu paforit Udin sejak dia orok, bahkan pas baru keluar dari rahim Ibunya aja dia udah nyanyiin lagu itu.
            Emang apa sih yang bikin si Udin galau? Hmm, sebenernya rada gak enak hati sama si Udin pas penulis bikin tulisan ini. Kesannya penulis underestimate banget sama dia, padahal kesalahan bukan terletak pada alur cerita, tapi kesalahan terletak pada muka Udin yang pas-pasan bahkan lebih “gak banget” dari Suneo. Pada tahu Suneo kan? Itu lho temennya tokoh kartun yang gak pernah ganti baju, si Nobita yang udah bertahun-tahun pakai baju kuning yang itu-itu mulu.
            Aksi 24 jam ber-galau ria ini Udin tunaikan tepat setelah dia nembak cewek beken di sekolahnya. Marsha, itu nama cewek yang habis ditembak Udin pakai pistol maenan punya adeknya. Kalau dipikir-pikir gede juga nyali si Udin. Berani-beraninya dia nembak Marsha yang notabene dikenal sebagai cewek beken, punya body sebelas-dua belas sama Julia Perez, plus punya tampang cantik pakai “banget” ala Dian Sastro. Eits, ada satu lagi, reputasi Marsha sebagai anak dari seorang Pak Lurah, eh salah, maksudnya reputasinya sebagai anak Pejabat penting di daerahnya, sering bikin nyali cowok-cowok jadi ciut kayak upil Nyamuk. Nah lho, si Udin kok malah berani ya nembak Marsha? Cari mati lo, Din! Begitu teriak temen-temen Udin pas denger niat nekad cowok yang salah satu giginya hilang digondol kucing.
            Pernah suatu ketika Udin berujar sesuatu sama temen-temennya. Entah si Udin lagi dalam keadaan sadar atau keadaan mabuk BusWaypas berujar sesuatu itu, soalnya kalimat si Udin agak gak realistis. Bukan agak deng, tapi bener-bener gak realistis!
“Jelas lah kalian pada gak berani nembak Marsha, secara kalian gak punya ‘selling point’ kaya gue. Coba dong kalian lihat gue, perfect banget kan? Cocok banget deh bersanding sama Neng Marsha,” kata Udin ke-Pede-an, pakai acara ngomong Bahasa Inggris segala. Dapet dari mana tuh kosa kata Bahsa Inggris kayak gitu, kemajuan juga si Udin. Ternyata gak Cuma bibirnya aja yang ada kemajuan, tapi otaknya juga ada kemajuan.
“Si Udin lagi mabuk ya? Omongannya kok ngaco gitu. Kasihan!” temen Udin yang namanya Joni bisik-bisik di telinga Ismail yang lagi sibuk nahan ketawa. Gimana gak ketawa denger kalimat super duper PeDe punyanya si Udin. Patung Pancoran sekalipun bakalan cekikikan kalau denger kalimat narsis si Udin.
“Bukan mabuk, Jon, tapi kesambet. Gitu tuh akibatnya kalau sering ngelamun di bawah pohon asem belakang sekolah. Makanya lo jangan suka ngelamun disana Jon, apa lagi sampai kencing sembarangan disitu!” ucap Ismail sekenanya sambil bisik-bisik.
            Prok…prok…prok…kasih applause meriah buat cowok yang punya nama lengkap “Komarudin”. Rupanya Percaya Diri plus bernyali besar juga ya cowok yang satu ini. Meski punya muka ala kadarnya, tapi dia berani unjuk gigi. Ya iya lah, kapan pun dan dimana pun gigi si Udin emang selalu unjuk kebolehan, malah cenderung liar sampai pernah bikin anak kecil umur 4 tahun 2 bulan lebih 3 hari nangis kejer. Penulis sih curiga itu anak nangis gara-gara gigi si Udin. Makanya penulis pernah ngasih saran sama si Udin buat ngerangkeng giginya. Ya semata-mata demi mempertahankan keceriaan anak-anak kecil.
“Oh bebeb Marsha…kenapa dikau tega menolak cintaku? Kurang apa daku ini? Tampang udah mirip Christian Sugiono, tubuh juga udah atletis kaya Bambang Pamuji, eh salah, maksudnya Bambang Pamungas, tapi masih aja dikau membiarkan hati ini layu…” gumam Udin dengan gaya mirip tokoh Gusur dalam cerita “Lupus”.
            Udin menghela nafas panjang. Lalu ia sandarkan tubuh cungringnya pada pohon Mangga yang tegak berdiri di belakangnya. Pandangannya kosong, hanya tertuju pada satu arah yaitu pada seekor Bebek yang lagi asyik berenang di empang gak jauh dari tempat Udin ber-galau ria. Si Bebek yang kata Pak RT berjenis kelamin perempuan itu, terlihat risih sama tatapan si Udin.
“Dasar manusia mesum! Berani-beraninya ya ngintip gue mandi! Gue laporin Pak RT baru tahu rasa lo!” cerocos Bebek betina itu sambil mengenakan handuk dan pergi dari empang itu.
            Udin masih ngelamun. Mukanya masih abstrak. Dan hatinya masih galau. Dia masih aja inget sama peristiwa penolakan itu. Udin gemes sama Marsha. Dia bertanya-tanya, gimana bisa cintanya ditolak padahal dia udah ngorbanin celengan Ayam Jago punya Enyaknya demi beliin kado buat Marsha? Kayaknya Udin pengen loncat aja ke empang yang ada di depannya. Bayangin aja, Udin udah bela-belain kelayaban malem Jum’at kliwon demi dating ke rumahnya Marsha. Udah gitu, Udin juga bela-belain pinjem sepeda Engkongnya buat nyamperin ke rumah cewek impiannya itu. Tapi apa balasan yang didapat Udin??
“Jauh-jauh dari gue deh lo, Din! Masih mending gue deket-deket sama Lalat dari pada harus deket-deket sama lo! Parfume lo, apa lagi muka lo…rasanya bikin gue pengen muntah…”
            Plak!! Udin berasa digampar pakai raket nyamuk pas denger kalimat Marsha itu. Harga dirinya terasa diinjak-injak pakai sandal Bakiak. Lalat, masa Lalat dianggap lebih baik dari Udin. Oh no! Kayaknya habis peristiwa memilukan plus memalukan ini berakhir, Udin langsung beli obat serangga. Lalat-lalat di rumahnya pasti langsung dibombardir sama Udin. Kalau obat serangganya sisa, Udin malah berencana mau nyicipin sambil ngemil kacang kulit di  bawah pohon Mangga.
“Oh Bebeb Marsha…andai dikau tahu, cintaku sedalam empang di depan sana. Kalau dikau menolak cintaku, lebih baik daku…” suara Udin tertahan di tenggorokkan, mirip kejadian pas Udin keselek biji Kedongdong.
“Ah, dasar semut sialan! Berani-beraninya masuk ke baju gue tanpa permisi! Gak tahu apa y ague lagi galau!?!” Udin kelabakan. Dia bangkit dari tempat duduknya. Tangannya sibuk menggaruk-garuk badannya yang diciumin semut. Kayaknya itu semut minta dilempar pakai sandal jepit.
“Wah, ini gara-gara penulis bikin setting di bawah pohon Mangga, gini kan jadinya!”
            Dua menit udah terlewati. Sekarang Udin gak diciumin semut lagi, tapi mukanya yang abstrak itu sekarang jadi bengkak gara-gara gatel. Tapi Udin masih setia nongkrong di pinggir empang, tapi kali ini dia duduk di bawah pohon Nangka. Aduh Din, emangnya gak ada tempat yang kerenan dikit kali ya.
            Udin termangu. Gayanya mirip banget sama Rangga di film “AADC”. Dari balik saku celananya, mengalun lagu Bang Rhoma. Duh, mellow banget sih. Di benak Udin berseliweran sosok Marsha dengan sejuta pesonanya.
            Satu menit…dua menit…tiga menit…sampai akhirnya…
“Gebyurrrr…” air bah turun di atas kepala Udin. Udin gelagapan. Enyak Udin nyiram Udin pakai air bekas cucian piring. Tampang Udin sekarang ini mirip banget sama tikus kecebur got.
“Udin!! Ngapain lo nongkrong di bawah pohon Nangka?! Dari tadi Enyak cariin, eh lo malah asyik ngelamun di sini! Buruan pulang! Tuh Ayam belum lo masukin kandang!”sekarang Enyak Udin ganti teriak-teriak. Udin kesel. Tampang udah cool kayak Rangga gitu, eh disuruh masukin Ayam ke kandang, mana pakai acara disiram air bekas cucian piring segala. Udin…Udin…...

Cerita Menggelitik Si Tunet!


Tunanetra…aku emang belum lama dilabeli Tunanetra, tapi pengalamanku sebagai seorang Tunet alias Tunanetra gak kalah bejibun lho kalo dibandingin sama Tunet senior lainnya. Pengalamanku bareng si Alumunium berandeng-andeng merah, siapa lagi kalo bukan si Tongkat nan baik hati, udah terukir manis di Diary hidupku. Ya, aku udah banyak berpetualang bareng Tongkat-ku, gak lagi kayak dulu yang Cuma bias nongkrong dipojokan kamar sambil meratapi nasib. Ah, gak jaman deh kayak gitu! Sekarang udah jamannya eksis. Ya, eksis di Facebook kek, eksis di Twitter kek, eksis di Skype kek, dan so pasti eksis di jalanan alias tempat umum juga dong. Jangan ngaku eksis kalo kedua kaki kalian (para Tunet) gak pernah nginjek aspal jalanan.

Nah, bagi para Tunet rumahan alias Tunet yang masih belum punya keberanian buat melancong ke halte Bis atau pun Trotoar jalan, gak usah sedih dan berkecil hati…mending mantapkan hati and ikuti jejak mereka;para Tunet yang udah melanglang buana di jalanan heheheh. Ambil Tongkat kalian dan berjalan lah! Yang gak punya Tongkat gmana? Ya pake kayu juga gak masalah hohoho. Dijamin bakalan dapet sensasi yang beda deh ketika kakimu menginjak aspal jalanan. Baklan ada segudang cerita dan pengalaman ktika Tongkatmu kau lipat seusai berpetualang. Gak percaya??? Ok, aku paparin beberapa bukti pengalamanku ya, tapi kayaknya di tulisan kali ini aku khusus maparin soal cerita/pengalaman unik yang pernah dialami Tunet ketika berpetualang bareng Tongkatnya entah ketika di jalan atau pun di dalam kendaraan umum. Yuk kita simak aja!

Jujur, beberapa keuntungan sering aku dapet ketika aku berada di luar rumah bareng Tongkatku. Keuntungan itu menurutku sih merupakan sebuah pengalaman unik yang kadang menggelitik. Sebagai individu dengan sebuah Tongkat Alumunium menghias tanganku, otomatis semua mata tertuju padaku baik ketika aku berdiri di pinggir jalan atau pun duduk di dalam Bis. Nah, aku pernah bahkan sering lho dapet gratisan di Bis. Ya, aku sering banget naik Bis gratis hehehe. Eits, tapi bukan  karena aku males bayar atau gak punya duit ya, tapi lebih karena si kondektur gak mau dibayar. Kayaknya sih kasihan sama aku kali ya. Meskipun gak mau dibayar, aku tetep berusaha ngasih uangku, tapi ya tetep aja hasilnya nihil. Lumyan juga sih, gretong heheheh. Pernah juga suatu kali ada penumpang Bis yang gak kukenal membayar ongkos perjalananku ke kampus. Wah, baik hati sekali beliau! Lumayan untuk kesekian kalinya heheheh…

Ada juga lho pengalaman yang menurutku menggelikan and bikin aku pengen ngakak sekaligus malu hihihi. Apaan emang? Tahu gak sih???? Aku pernah berlakon mirip Kajol di film Bllywood. Hah, kok bias? Ya, aku dibopong gitu sama seorang cowok, tapi itu cowok bukan pacarku apa lagi Bapakku. Mau tahu gak siapa cowok itu? Cowok itu adalah kondektur Bis Coyo Semarang-Cirebon yang pernah kutumpangi pas aku mau pulang kampong ke Brebes. Sumpah, surprise banget hahaha. Aku dibopong lho, beneran dibopong dari atas Bis sampai turun dari Bis. Gila gak tuh? Ngakak gak tuh? Wah, rasanya udah kayak lagi nyanyi-nyanyi di taman bareng Sahrurkhan hahaha. Unik banget! Usut punya usut si Kondektur ngerasa iba sama aku. Dia takut aku jatuh pas turun dari Bis, makanya aku dibopong. Aduh, segitunya deh si Abang hahaha…

Hmm, kayaknya segitu dulu aja kali ya ceritanya. Tapi dari sekian cerita yang pernah kualami sebagai Tunet, yang paling sering ya dapet gratisan pas naek Bis hehehehe. Lumayan! Nah, buat Tunet yang lain, ini pengalamanku, mana pengalamanmu???? Ayo dishare!
Catatan Berseri Puisi Diary Si Oneng