Tuhan, apa ini?
Sebuah rasa yang tak biasa. Ya,
rasa ini tak biasa. Rasa ini merayap nyaris menyentuh titik itu, titik dimana
kagum saja tak lagi cukup. Tak usai aku berupaya, namun perhentian itu tak
kunjung kujumpa. Tak bisa, aku tak punya kuasa atas kagum yang telah meluap
menjadi rasa yang lebih indah namun menyesakkan dada.
Aku harus bagaimana?
Telah kucoba, telah kuminta dan
telah kupaksa, namun nihil hasilnya. Kala detik bergulir, kala masa meranggas
dalam harap yang tak pasti, kagum itu justru berenkarnasi. Kagum telah menjelma
jadi sebentuk hati. Kagum ini menyebar rindu. Kagum ini harus diapakan lagi?
Akan jadi seperti apa kemudian?
Aku ingin terus mengupayakannya,
namun aku masih ingat betul kata-katanya, “Jangan bawa perasaan”. Itu kata-katanya.
Itu inginnya. Itu kata yang telah berbalas setuju dariku. Aku tak akan pernah
‘Membawa’ rasa ini pada setiap gerik kami. Aku telah berkata demikian. Lalu
akan jadi seperti apa esok?
Terlalu banyak perbedaan, ya,
memang begitu. Inginku tak membeda, namun bagaimana dengan inginnya? Tak sama,
inginku dan inginnya tak sama. Perasaan kami tak bermuara di tempat yang sama.
Cukup dan sudah, andai keduanya
bisa menjadi nyata. Ya, andai kagum ini tetap berada di zonanya. Namun,
nyatanya tak begitu. Baiklah, aku bisa menikmati semua ini. Aku bisa menikmati
rindu ini. Aku bisa menikmati ingin ini. Namun sampai kapan?
Mengapa harus dia? Mengapa harus
adam yang tak begitu mengenalku? Baginya aku hanyalah sepintas lalu. Baginya
aku tak kerap hadir di ‘Penglihatannya’. Baginya aku itu siapa?
Tuhan, mengapa harus dia?
Kosong, tak ada siapa pun yang
mengisi rongga itu. Hanya udara hampa, hanya partikel tanpa makna yang melintas
dan berkejaran. Aku tak menghamba pada siapapun. Aku biarkan kosong. Aku
biarkan tak berpenghuni. Aku suka begitu. Namun, mengapa kagum ini kini merayap
dan mencoba berada di kekosongan itu? Mengapa? Rindu pada sosok itu sungguh
membuat sesak, sebab setitik nafas pun tak akan pernah aku dapat.
Mengagumi saja, cukup disitu
saja. Namun mengapa sosoknya terus melintas? Mengapa aku ingin mengenalnya
lebih dari ini?
Dia tak pernah mencoba meliuk
memamerkan pesonanya. Tak pernah kulihat itu. Ia menutupi kilaunya. Aku tak
pernah rasakan inginnya untuk menjadi penghuni benak setiap hawa, juga adam di
bumi. Tak sekalipun. Namun aku menciumnya, aku melihatnya, aku merasakannya dan
aku tahu bahwa dia istimewa, setidaknya bagiku yang sungguh detik ini terjebak
dalam segalajejaknya .
Hay, kau...
Dengarlah...
Jejak, jejak yang kupikir akan
mudah musnah oleh derai hujan. Jejak, jejak yang kupikir akan sangat mudah
luntur oleh bisikan angin. Jejak, jejak yang kupikir akan dengan mudah kuhapus
dengan kagumku pada sosok lain. Ya, semua jejakmu, jejak yang hanya terpatri
sekian saja, namun kini? Perkiraanku tak realis. Perkiraanku imajinatif.
Perkiraanku jauh di luar sana. Jejakmu tetap ada. Jejakmu yang hanya sekian
terus membayang. Jejakmu memanggilku. Jejakmu memintaku diam dan bertahan.
Jejakmu inginkanku terus mencoba. Namun itu mustahil. Katakan padaku, semua itu
benar mustahil kan?
Aku pernah berjanji. Masihkah kau
ingat janjiku? Aku tahu, janjiku memang janji yang hanya terukir di antara
semilir angin. Janjiku bisa saja terbang dan terhapus. Namun itu janjiku. Janji
itu pernah kuucapkan. “Aku tak akan membawa perasaan”, begitu kataku. Namun
sulit, sulit untuk tidak menatap ke arahmu. Ya, sulit untuk menutup mata dan
menghilangkan segala gerikmu. Aku terhenti di titik ini, titik yang bukan kagum
saja, namun titik yang mengukir namamu di hatiku!
Beritahu aku, bagaimana caranya
untuk menanggalkan segala gerikmu yang terpatri kuat di benakku. Beritahu aku
cara untuk kembali ke zona kagum saja. Beritahu aku bahwa aku tak punya jalan
untuk masuk ke dalam hidupmu meski arusku deras. Beritahu aku bila kau tak suka
dengan caraku. Namun, beritahu pula bila keajaiban mulai datang dan rasamu
mulai tumbuh yang kemudian menjelma menjadi sebuah perasaan. Beritahu aku
apapun itu...
Jangan pernah membenciku meski
kau tak pernah punya rasa yang sama. Maafkan aku bila kagum ini menjelma
menjadi lebih dari kagum itu sendiri. Aku terlalu tak mengerti harus bagaimana.
Kau berbeda, kau tak seperti adam-adam yang pernah ada, begitu kurasa.
Istimewa, benar-benar istimewa. Kemarin aku masih memiliki kesadaran penuh
tentang siapa aku dan siapa kamu, namun kini? Aku kehilangan semua itu.
Berbagai pembeda seolah coba tak kupedulikan..
04
Sept 2015 di kamar kos Nakula Raya 2 – Semarang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar