Tampilkan postingan dengan label jurnalistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jurnalistik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juli 2015

ANGGI, MY GUARDIAN ANGEL :)



“Kayaknya orang-orang yang deket sama kamu kalah pamor sampe-sampe gak kuat and pilih dropout dari kampus deh!”
Begitulah kelakar yang dilemparkan oleh temanku di sela-sela aktivitas kongkow lepas tawa yang kerap kami lakukan. Aku tak pernah ambil pusing dengan kelakar itu, karena itu tak lebih dari sekedar kelakar. Pantang bagi kami membawa kelakar di tempat tongkrongan ke kasur impoten di kamar kos. Tapi sesuatu yang menempel di batang otakku seolah geli dengan kalimat itu dan mencoba mengorek ada makna apa di balik kalimat yang sejatinya hanya kelakar.

“Masa iya sih aku penyebab teman-teman dropout dari kampus?”

Tanyaku sesekali meluncur entah ketika nongkrong atau ketika melamun di kamar kos.

“Iya…temen-temen ngerasa kalah pamor sama kamu, Bloh! Mereka gak kuat temenan sama kamu. Kamu terlalu pinter!”

Begitu jawaban yang temanku lemparkan atas tanyaku. Tentu aku berontak mendengar pernytaan itu, meski kutahu itu hanya kelakar.

“Gak mungkin! Masa gara-gara aku sih!”

“Iya lho gara-gara kamu. Coba deh kamu hitung mulai dari Anggi, Rina, dan sekarang Yogi. Andin malah nyaris juga!” tawa meluncur diakhir kalimat.

Anggi…Rina…Yogi…ketiga sosok itu memang sahabat kentalku. Tak pernah kubayangkan sebelumnya mereka akan cabut dari kampus. Tapi fakta berkata demikian. Mereka telah lenyap. Mereka tak lagi silewaren di kampus, atau pun sekedar makan mie ayam Pak Kenyut. Ya, Anggi misalnya…kini tak Nampak lagi curhatannya tentang senior-senior kami yang bias jadi cool. Tak ada lagi Rina yang biasanya numpang tidur di kosku sekaligus guardian angel ketika aku butuh bantuan ke ATM. Atau mungkin Yogi…lelaki yang pendiam namun penuh petuah bijak. Mereka telah pergi, bukan untuk meninggalkanku tapi untuk masa depan di jalan lain, bukan di UDINUS.

Persahabatan kami tentu penuh warna. Ada suka, duka pun tak kalah menghias hari-hari kami di kampus. Semua benar-benar penuh warna dan terangkum jadi satu dalam sebuah ‘genk’ berjuluk ‘Firework’. Yap, kami yang berpersonil aku, Ari, Ical, Guspur, Anggi, Rina, Andien, dan Yogi, memang menyatu dalam tubuh ‘Fireork’ yang kami bentuk di awal semester satu.

Tapi kali ini, khusus kuceritakan kisahku bersama Anggi, si jangkung tipis dari Kudus. Kalau teman-teman Firework bilang, Anggi sama dengan Bella Saphira. Mirip kah? Hmm, mungkin tidak terlalu, tapi entahlah teman-temanku sudah hobby memanggilnya ‘Bella Saphira’. Gadis itu tepat kukenal ketika kami berada di awal kuliah di Sastra Inggris Udinus. Pertama kali aku mengenalnya ketika ia mengulurkan tangannya demi mengantarku ke kamar mandi ketika pelajran dimulai. Dari situlah aku mengenal sosoknya. Sejak saat itu persahabatan kami semakin kental. Dia selalu ada di samppingku, setiap saat dan dalam kegiataan apa pun. Ah, mengingatnya sungguh membuatku rindu!

Dari geriknya di sampingku, aku menilai bahwa dia tulus kepadaku. Bayangkan saja, mana mungkin ada orang yang bersedia menungguiku di toilet kala aku buang air? Mana ada orang yang rela berpanas-panas ria muter-muter mencari kos buatku?? Mana ada orang yang mau hujan-hujanan demi mengantarku pindahan kos?? Anggi, hanya Anggi yang mau melakukannya buatku!

Dari empat personil Firework yang berjenis kelamin perempuan, aku memang paling dekat dengan Anggi. Saking dekatnya, aku lebih nyaman dibantu baik ketika makan, berjalan dan sebagainya oleh gadis berambut panjang itu. Dia sudah mengerti Tunanetra, lebih dari teman-temanku lainnya. Tak hanya itu, kedekatan kami pun berlanjut sampai di kegiatan kampus. Kami berdua bersama-sama tergabung dalam UKM Pers Kampus. Banyak memori bersama, termasuk wara-wiri bersama. Dan dari kegiatan Pers kampus, ada cerita yang datang dari kami berdua.

Suatu malam di acara Pelatihan Jurnalistik Dasar yang diadakan UKM Pers Kampus, ketika yang lain terlelap beralaskan tikar, perutku justru tak dapat dikompromi. Rasanya aku ingin pergi ke toilet. Walhasil kubangunkan Anggi yang tengah damai dengan mimpinya. Awalnya aku ragu meminta bantuannya karena lazimnya orang yang tengah bergumul dengan mimpi enggan untuk bangkit, apa lagi mengantar orang lain ke toilet. Tapi hal itu tak berlaku padanya. Dia rela bangkit dan mengantarku. Lagi, dari geriknya lagi, aku dapat menilai bahwa Anggi tulus melakukan hal itu.

Cerita lainnya antara kami adalah ketika kami harus berjalan beratus-ratus meter demi menunaikan tugas sebagai peserta dalam PJD. Dalam ‘jalan malam’ itu, kami harus berpindah dari satu pos ke pos lainnya demi mengenal Pers kampus lebih dekat. Pada kegiatan yang berlangsung tengah malam itu, kami dibagi ke dalam beberapa grup, dan aku berada dalam satu grup dengan Anggi. Ah, dalam kegiatan itu aku benar-benar berterimakasih padanya. Betapa tidak, dengan perjalanan jauh semacam itu, sekaligus tenggorokan yang haus dan perut yang lapar, Anggi bersedia menuntunku dalam gelapnya malam! Amazing bukan?? Aku tahu, sangat tahu bahwa berjalan dalam keadaan lelah sangat menyulitkan. Jangankan menuntun orang lain, menopang diri sendiri saja rasanya ingin mati. Tapi Anggi, dia mau melakukan hal itu buatku!

Banyak hal yang telah kami lakukan bersama. Suka dan duka kami jalani bersama. Ia sahabatku, meski kami berada jauh sekarang. Ia tak peduli dengan kondisiku sebagai penyandang disabilitas netra. Dia tetap mau berada di sampingku, mengantarku ke toilet, mengambilkan makanan buatku, membetulkan laptopku ketika di kelas, dan banyak lagi hal lainnya!! Dari sosok Anggi aku belajar betapa ketulusan itu ada di tengah-tengah mahasiswa lain yang sibuk menata diri dalam pergaulan masa kini, dan seolah-olah tutup mata dengan temannya yang Tunanetra. Ketika yang lain menjauh, Anggi justru mendekat…itulah yang kusebut dengan ketulusan!
!

Note :
Tulisan ini kubuat udah lama. Aku lupa kapan tepatnya. Aku nulis tulisan ini karena dimintain tolong sama Mas Wahyu, seniorku di kampus :)
Tulisan ini juga kuposting di Facebook pribadiku :)

Senin, 20 April 2015

BEROPINI DALAM KELAKAR SNMPTN 2014

Note : Tulisan ini dibuat ketika masa-masa heboh SNMPTN 2014 yang melarang disabilitas mendaftar di beberapa jurusan...

Sedang mencoba beropini. Bukan dan tanpa bermaksud apa-apa, hanya ingin belajar menulis sekaligus suarakan harapan yang ada. Semoga opini yang ada tak jadi
perpecahan di antara kita. Mari bersama berjabat tangan demi kemajuan dunia pendidikan. Bagi yang ingin ikutan, silahkan layangkan opini lewat kolom komentar.
Sekali lagi tak ada maksud memprovokasi atau cari sensasi, melainkan hanya ingin "Belajar" lewat tulisan. Happy reading!

---

Indonesia belumlah begitu tua. Usianya tak lebih tua dari kakek-nenek kita. Namun siapa sangka wajahnya telah nampak keriput oleh beban yang dicipta oleh

mereka yang merasa penguasa di Indonesia?

Hari demi hari, masalah bertubi datang hampiri Indonesia yang tengah menata diri demi masa depan berarti bagi anak-cucu negeri. Belum usai kasus korupsi
yang rupanya jadi hobi pejabat negeri, kini koloni problematika justru kembali tiba tanpa nurani pada dunia pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri. Tak
cukup puas mengotak-atik sistem pendidikan yang terkadang kurang realistis dengan kondisi bangsa, kini mereka yang duduk di garis kuasa atas Seleksi Nasional
Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sekilas dianggap tengah cari “Gara-gara”.

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2014 kini memang tengah jadi problematika bagi kami penyandang disabilitas yang haknya kerap diperkosa.
Entah tutup mata, entah tutup telinga atau pada nyatanya tak tahu apa-apa, mereka yang duduk pada garis kuasa kebijakan SNMPTN 2014 dengan mudah memberi
“Kode” pada beberapa program studi yang dilelang dalam pesta kelahiran cendekiawan bangsa. Dengan tanpa khotbah atau ceramah, mereka pukul palu pada kami
yang hidup penuh stigma dengan ketunaan yang kami punya. Tanpa bertanya, kami diminta meninggalkan zona terlarang dalam lelang. Kedokteran, keperawatan,
psikologi, Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, bahkan Bahasa Indonesia serta beberapa program studi lainnya menjadi terlarang bagi Tunanetra, Tunarungu, Tunawicara,
Tunadaksa, dengan tak lupa juga bagi mereka yang buta warna. Kami para disabilitas seolah dipaksa menyerah sebelum berperang tanpa ada kesempatan beri
pembuktian.

Ironik memang. Di tengah kerontangnya pemenuhan hak bagi disabilitas, problematika ini justru seolah menjadi belati yang mengoyak nurani. Jangankan diberi
kemudahan akses dalam pendidikan tinggi, justru kami dibuat mati dengan kode-kode yang sepintas mencolok bagai diskriminasi. Sementara itu, Tebalnya peraturan
tentang kesamaan mengakses pendidikan bagi setiap warga negara Indonesia, seolah menjadi tumpukkan kata yang usang dimakan usia. Tak adakah niat lebih
besar tuk membuat kami (disabilitas) “Sejajar”?

Tutup mata kah, tutup telinga kah, atau memang tak tahu apa-apa kah mereka yang duduk di garis kuasa SNMPTN 2014 bila Bahasa Indonesia saja yang notabene
Bahasa kesatuan Republik Indonesia dijadikan terlarang untuk disabilitas? Lucu sekaligus penuh ironi. Ketika bangsa lain berlomba benahi diri hapuskan
diskriminasi bagi disabilitas yang kerap dianggap membebani, bangsa ini justru ciptakan degradasi bagi anak bangsa yang punya mimpi. Dengan dalih mengarahkan
program studi agar lebih “Manusiawi”, mereka putuskan “Syarat fisik” pada beberapa program studi, padahal justru dapat batasi mimpi. Adilkah kelakar semacam
itu? Bila yang berjuluk non-disabilitas saja diberi akses selebar-lebarnya atas program studi yang diminati, lantas mengapa disabilitas justru diberi akses
selebar daun kelor? Memang keterlaluan bila Bahasa Indonesia menjadi terlarang bagi Tunanetra, Tunarungu dan Tunawicara.

Setiap aksi pasti punya reaksi. Setiap kebijakan yang tak pakai nurani pasti datangkan kontroversi. “Disabilitas menggugat”, itulah headline yang pantas
jadi reaksi atas aksi pencantuman kode syarat fisik pada beberapa program studi di Perguruan Tinggi Negeri. Mereka yang panas oleh isu diskriminasi pada
pendidikan tinggi, lari kesana-kemari demi tumbangkan kebijakan yang dibuat tanpa diskusi. Mulai dari petisi hingga turun ke lembaga yang punya relevansi
atas kasus semacam ini, itulah reaksi yang dinjukkan oleh objek yang didzalimi. Geram, muak, penat, tentu ingin ditumpahkan pada si pemnbuat kebijakan.
Namun, haruskah reaksi mentok pada petisi dan emosi?

Banyak opini yang menawarkan diri pada problematika SNMPTN 2014 ini. Namun bagi penulis dan teman-teman di organisasi, petisi dan emosi akan mandul bila
tak dibarengi pembuktian diri. Tentu tak ada salah dengan petisi dan geram yang menjelma pada “Emosi”, namun alur pikiran lain sejatinya bisa dijadikan
alat untuk bereaksi. Bisa jadi kebijakan yang tak memihak pada kaum minoritas ini timbul karena disengaja, meski bisa jadi pula karena ketidaktahuan yang
dipaksa. Bila memang mereka yang duduk di garis kuasa SNMPTN 2014 sengaja tutup mata dan telinga, itu memang tak beda hina dengan benda mati yang tak punya
hati. Namun beda cerita bila kebijakan yang ada dicipta karena ketidaktahuan yang dipaksa. Bila faktanya mereka tak tahu apa-apa namun salah langkah dengan
enggan tuk bertanya, tentu kita (disabilitas) harus buka mata dan telinga mereka tentang siapa diri kita. Lewat pembuktian, lewat dialog aman, itulah alur
pikiran yang penulis dan teman-teman coba tawarkan. Penulis dan teman-teman organisasi beranggapan bahwa bila ingin menggugat mereka, cobalah sadarkan
logika serta nurani yang mereka punya. Terlebih bagi kampus yang telah nyatakan diri sebagai bagian dari kampus inklusif, sejatinya perlu diingatkan kembali
mengapa kode syarat fisik itu perlu membatasi disabilitas. Dalam proses penyadaran lewat dialog itu, coba beri tahu mereka dengan bukti nyata lewat mahasiswa
yang telah atau tengah menimba ilmu pada program studi yang masuk zona terlarang pada SNMPTN 2014. Demo nyata tentang bagaimana disabilitas mengakses perkuliahan,
strategi serta hasil yang sejauh ini didapat, hendaknya menjadi bukti nyata sebagai usaha bukakan mata, hati dan telinga mereka. Secara detail hendaknya
kita (disabilitas) jelentrehkan apa yang kita bisa entah lewat tekhnologi atau media lainnya. Bila mereka telah mengerti bahwa kita (disabilitas) mampu
bersaing dalam program studi yang diminati, tentu mereka tak lagi sangsi. Oleh karena itu, penulis dan teman-teman organisasi beranggapan bahwa dalam tempo
sekarang ini, lebih arif bila coba siapkan diri tunjukkan jati diri. Beritahu lewat demo tekhnologi tentang alat bantu, atau bukti yang bisa mengamini
kemampuan yang dimiliki. Dengan bukti nyata, tak mustahil bila kebijakan diskriminasi itu tumbang tanpa paksaan.

Menyoal tentang kode syarat fisik pada SNMPTN 2014, penulis pribadi merasa tak perlu. Sejatinya tanpa diberi tahu semcam itu, kami (disabilitas) pun sadar
sampai mana batas kemampuan kami. Coba ambil contoh seorang Tunanetra. Tentu Tunanetra akan berpikir ulang ketika hendak mengambil program kedokteran.
Memang dirasa sulit bila Tunanetra harus melakukan bedah pada pasien, seumpama. Namun kesulitan itu bukan berarti jadi larangan. Hak biarkan jadi hak.
Biarkan hak kebebasan mengakses pendidikan dimiliki oleh si Tunanetra atau disabilitas lainnya, smentara menyoal perkara sulitnya akses dalam mempelajari
bedah tubuh, seumpama, biarkan kembalikan pada si disabilitasnya. Kewajiban pejabat negeri adalah berikan hak penuh pada setiap warga. Sekali lagi penulis
pribadi berpendapat bahwa tanpa diberi peringatan berupa kode syarat fisik, kami (disabilitas) pun “Tahu diri”. Yang terpenting adalah hak biarkan tetap
jadi hak.

Untuk info program studi yang terlarang bagi disabilitas, bisa dicek di link berikut :
Universitas Indonesia silahkan di link :
https://web.snmptn.ac.id/ptn/31

Bagi yang Undip silahkan di link :
https://web.snmptn.ac.id/ptn/43-->

Kamis, 26 Juli 2012

LIPUTAN: GEMA SEPAK BOLA DALAM GULITA


Kemeriahan pertandingan Sepak Bola rupanya tak hanya menggema dari ajang Piala Eropa saja, melainkan menggema pula di Lapangan Balai Pelatihan Pendidikan Kejuruan (BP DIKJUR) Semarang yang beralamat di Jl. Broto Joyo 1 kota Semarang. Sebuah Turnamen Sepak Bola memang diselenggarakan selama 3 hari yaitu pada tanggal 14 sampai 16 Juni 2012 di BP DIKJUR Semarang. Berbeda dengan Turnamen Sepak Bola pada umumnya yang biasa diisi oleh para pemain dengan kondisi fisik sempurna tanpa ada keterbatasan fisik sedikit pun, pada Turnamen yang satu ini justru diisi oleh para pemain dengan kondisi Disabilitas Netra. Ya, para Tunanetra baik dengan kondisi Totally Blind maupun Low-vision berlomba-lomba memperebutkan gelar juara dalam Turnamen Sepak Bola Tunanetra yang baru pertama kali diselenggarakan di kota Semarang ini.

            Turnamen Sepak Bola Tunanetra Jawa Tengah ini merupakan gawean dari DPD PERTUNI (Persatuan Tunanetra Indonesia) Jawa Tengah sebagai perwujudan dari program kerja tahunan sebagaimana yang telah disusun dalam Musyawarah Daerah (MUSDA) ke-V PERTUNI Jawa Tengah pada tahun 2010 silam. Meskipun baru pertama kali diadakan, namun antusiasme dari para Tunanetra Jawa Tengah begitu besar. Hal itu terbukti dari banyaknya PERTUNI cabang di beberapa kota dan kabupaten di Jawa Tengah yang ingin mengikuti Turnamen unik tersebut. Tercatat ada 9 tim dari beberapa kota/kabupaten di Jawa Tengah yang berlaga dalam Turnamen yang cukup menyita perhatian para pewarta berita baik local maupun nasional ini. Masing-masing tim beranggotakan 6 orang Tunanetra dengan klasifikasi 3 orang dengan kondisi Totally Blind dan 3 orang dengan kondisi Low-Vision. Ke Sembilan tim tersebut yaitu tim dari Salatiga, Brebes, Kudus, , Wonosobo, Magelang, Purworejo, Banjarnegara, Temanggung dan Semarang.

            Menurut Indra Kurniawan, S.h selaku Ketua Panitia Turnamen Sepak Bola Tunanetra Jawa Tengah, latar belakang didiselenggarakannya Turnamen ini karena Turnamen Sepak Bola Tunanetra ini terhitung sebagai kegiatan yang unik, mengundang rasa penasaran, serta mempunyai nilai jual sehingga mampu mengundang perhatian dari masyarakat maupun pemerintah. Selain itu, beliau juga menambahkan bahwa tujuan diselenggarakannya Turnamen Sepak Bola Tunanetra ini adalah sebagai wadah untuk menampung bakat para Tunanetra dalam bidang olahraga, untuk mempererat tali silaturahim diantara Tunanetra se-Jawa Tengah, sekaligus sebagai  sarana menumbuhkan jiwa sportifitas yang dapat dibawa dalam organisasi. Tak hanya itu, Beliau pun menuturkan bahwa Turnamen Sepak Bola Tunanetra ini dapat pula bertujuan sebagai sarana eksistensi PERTUNI dalam masyarakat.

            Ada beberapa teknis dan peraturan yang berlaku dalam Turnamen Sepak Bola Tunanetra Jawa Tengah ini. Namun seperti diakui oleh Indra Kurniawan, S.H, permainan Sepak Bola Tunanetra ini tidaklah sama seperti permainan Sepak Bola pada umumnya maupun permainan Futsal yang sekarang ini tengah “hits” di kalangan masyarakat. Perbedaan yang menyeruak bukan hanya terletak pada para pemain yang notabene adalah Tunanetra, melainkan terletak pula pada system permainan. Perbedaan itu dapat kita lihat pada jumlah pemain dan lapangan tempat berlangsungnya pertandingan. Dalam Turnamen Sepak Bola Tunanetra Jawa Tengah ini hanya terdapat 6 orang pemain dan menggunakan sebuah lapangan terbuka berukuran panjangg 30M dan lebar 20M. Nah, tentu kita semua mengetahui bahwa dalam permainan Sepak Bola harus diisi oleh sebelas pemain, sedangkan dalam Turnamen Sepak Bola Tunanetra Jawa Tengah ini hanya diisi oleh 6 pemain saja. Jika diklasifikasikan ke dalam jenis permainan Futsal pun, permainan mengolah si kulit bundar dengan lakon para Tunanetra se-Jawa Tengah ini tidaklah memenuhi syarat karena tidak menggunakan lapangan in-door.

“Meski Turnamen Sepak Bola ini tidak mengikuti peraturan permainan Sepak Bola yang telah ada, tapi kami telah emmiliki aturan sendiri sesuai dengan kemampuan kami., Yang terpenting bagi kami, Turnamen ini dapat mempererat tali persaudaraan di antara teman-teman Tunanetra di Jawa Tengah,” tutur Indra Kurniawan, S.H yang ditemui pada hari Kamis (14/06).

            Ada pun teknis dan peraturan yang berlaku dalam Turnamen yang memperebutkan Trophy sekaligus uang pembinaan ini yaitu masing-masing tim bermain 2x20 menit dengan syarat pemain Tunanetra dengan kondisi Low-Vision hanya diperbolehkan memasukan Bola ke dalam gawang sebanyak 2 gol dan selebihnya gol harus dicetak oleh pemain dengan kondisi Totally Blind.

            Dengan menggunakan Bola yang mengeluarkan suara gemerincing, para pemain harus berusaha memasukan si kulit bundar ke dalam gawang lawan yang pada masing-masing gawang telah dipasang bynyi-bynyian dari kentongan dan drum yang ditabuh oleh panitia.

            Atmosfer Keseruan pun terjadi dalam Turnamen ini dan tak jarang memicu gelak tawa dari para supporter sekaligus penonton yang berada di pinggir lapangan tanpa mempedulikan panasnya kota Semarang yang meraung-raung di lapangan BP DIKJUR Semarang. Bagaimana tidak, tak jarang para pemain gagal menendang Bola karena salah mengarahkan kaki pada si kulit bundar. Tak hanya itu, tak jarang pula para pemain berlari keluar lapangan. Selain itu, cidera ringan pun tentu mewarnai Turnamen ini. Cidera tersebut biasanya terjadi akibat benturan kaki di antara pemain mengingat keterbatasan penglihatan yang mereka miliki.

“Acaranya seru tapi lumayan capek soalnya aku lebih banyak gerak dibanding temen-temen yang Totally Blind,” ungkap Trio Aji Basuki  sebagai pemain dengan penglihatan Low-Vision dari PERTUNI cabang Brebes yang menamai tim-nya “Jack Poleng”.

Secara keseluruhan tak ada kendala yang berarti selama berlangsungnya perhelatan Turnamen Sepak Bola unik ini. Hanya saja panitia merasa penetapan teknis dan peraturan dalam Turnamen ini belumlah sempurna. Panitia mengaku, pemain umumnya membandingkan peraturan yang berlaku dalam Turnamen Sepak Bola Tunanetra Jawa Tengah tersebut dengan peraturan yang berlaku dalam permainan Sepak Bola Internasional.

“Berhubung Turnamen Sepak Bola semacam ini baru pertama kali kami selenggarakan, jadi disana-sini masih terdapat kekurangan. Biasanya pemain membandingkan peraturan yang panitia buat dengan peraturan yang sudah mereka kenal dalam permainan Sepak Bola Internasional,” ungkap Sigit Martopo selaku panitia sekaligus Mitra Bakti DPD PERTUNI Jawa Tengah.

Ungkapan bernada kecewa terhadap peraturan permainan justru terlontar dari mulut salah satu pemain. Ia merasa kecewa karena dianggap melakukan pelanggaran padahal peristiwa yang dianggap sebagai pelanggaran tersebut terjadi di luar kehendaknya sebagai Tunanetra dengan status penglihatan Totally Blind.

“Ketidak-sempurnaan dalam sebuah pertandingan tentu selalu ada, seperti pada Turnamen ini. Saya diberi kartu kuning karena tak sengaja menendang kaki pemain lain. Saya kan Tunanetra jadi saya tidak tahu yang mana kaki dan yang mana Bola. Tapi saya memaklumi semua itu karena mungkin Turnamen Sepak Bola ini pertama kali diselenggarakan sehingga panitia pun belum begitu memahami,” ungkap Febri Eko A yang tergabung dalam tim “Pandanaran FC” asal kota Semarang selepas bertanding melawan “Jack Poleng” pada Kamis (14/06).

            Menanggapi kekecawaan yang diterima oleh salah satu pemain, panitia mengaku menerima semua masukan yang terlontar dari rasa kecewa tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Suryandaru, S.H., S.S. selaku panitia sekaligus Ketua Umum DPD PERTUNI Jawa Tengah, segala masukan yang mampir kepada pihak penyelanggara akan diterima dengan lapang dada mengingat Turnamen ini baru pertama kali diselenggarakan dan tentunya masih banyak kekurangan disana-sini. Meski demikian, panitia telah baerusaha menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya.

“Panitia meyakini bahwa dalam Turnamen Sepak Bola Tunanetra yang kami selenggarakan ini masih penuh kekurangan, oleh sebab itu kami menerima segala bentuk masukan dari berbagai pihak termasuk dari pemain, seperti halnya masalah sangsi oleh wasit kepada pemain. Dalam sebuah pertandingan Sepak Bola, seorang wasit memiliki hak mengatur jalannya pertandingan termasuk emmberikan sangsi kepada pemain. Dan dalam Turnamen ini wasit sejatinya telah memperhitungkan gerakan pemain yang sekiranya akan membahayakan pemain lain. Jika ada gerakan yang dapat mencelakakan pemain lain, maka mau tidak mau wasit harus memberikan sangsi kepada pemain tersebut,” tutur Suryandaru, S.H., S.S.

“Terkadang pemain tersebut tidak tahu apakah gerakan yang ia lakukan berbahaya atau tidak terhadap pemain lain. Yang mengetahui semua itu pastilah sang wasit,” lanjut beliau.

Setelah bergulat dalam pertandingan yang mendebarkan selama tiga hari berturut-turut, akhirnya pada Sabtu (16/06) diperoleh 3 tim yang berhak mendapat gelar juara I, II, dan III, sekaligus diperoleh satu tim yang berhak mendapat gelar juara harapan. Ketiga tim uara tersebut yaitu tim dari Purworejo sebagai juara I, tim dari Semarang sebagai juara II dan tim dari Kudus sebagai juara III. Sedangkan pada posisi juara harapan diduduki oleh tim dari Wonosobo. Untuk juara I, memperoleh Trophy dan uang pembinaan sebesar Rp 1.000.000,-. Sementara itu untuk jaura II dan III masing-masing memperoleh uang pembinaan sebesar Rp 750.000,- untuk juara II dan Rp 500.000,- untuk juara III. Sama besarnya dengan juara III, juara harapan pun mendapat uang pembinaan sebesar Rp 500.000,-.

“Kami berharap Turnamen ini semakin mempererat tali persaudaraan di antara teman-teman Tunanetra,” ungkap Indra Kurniawan, S.H. menggantungkan harapannya pada Turnamen Sepak Bola Tunanetra Jawa Tengah yang telah berlangsung selama tiga hari tersebut.

Dipostkan di www.kartunet.com