Minggu, 19 April 2015

SAHABAT IN ACTION : MALU GARA-GARA RAMEN LOL

Salah satu part dalam buku harianku. Hari dan tanggal udah terlewat, tapi siapa tahu ada yang mau baca keseharianku bersama sahabat terkasih. Silahkan baca

dan komen (bagi yang berminat). Tulisan ini tidak mengandung maksud apapun kecuali hiburan dan kesan :))

Kamis, 04 September 2014. Larut malam di kamar kos no 8

Aku bersyukur. Hari ini aku masih hidup. Hari ini aku masih bisa bertemu teman-temanku. Dan yang pasti, hari ini aku masih bisa makan ramen! Well, cerita
hari ini memang ada kaitannya sama ramen. Mau tahu ceritaku? Let’s check it out!!

Pukul 06.30 alarm di Blackberry busukku berdering. “The Monster” mengalun, dan selimut merah pun kutarik hingga menutupi kepala seiring lantunan lagu itu.
Ganggu saja! Pikirku. Dan satu lagi, kupikir selimut yang menutupi kepalaku bisa sedikit meredam musik yang rasa-rasanya tak pantas mengalun di pagi yang
terasa masih buta bagi mahasiswa yang mencoba menikmati detik-detik terakhir liburan semester ini.

“Ganggu saja! Siapa sih yang nyalain alarm sepagi ini!” pekikku dalam hati dengan aksi menyalahkan orang lain. “The Monster” yang terbentuk dari keagungan
daya kreatifitas seorang seniman itu entah mengapa terdengar betul-betul mirip “Monster”. Monster paling payah, bahkan lebih payah dari “Shown Max Alester”,
salah satu tokoh paling sok keren dan sok ganteng di novel “Kilau Bintang Menerangi Bumi” miliknya Shidney Shelton. Ops, salah deng, si om Shown itu memang
bukan monster, tapi kelihatannya ia pantas diberi gelar “Monster” atas kelakuan bejadnya kepada “Lara Cameron” di sebuah hotel jadul yang nyaris ambruk.
Kalau penasaran dengan novel keren satu itu, silahkan cari novelnya, tapi jangan sampai terpaku dengan adegan-adegan mesum di dalamnya ya, sebab ada nilai-nilai
kehidupan yang jauh lebih berharga dari adegan-adegan dewasa itu.

10 detik telah berlalu, tapi “The Monster” masih mengalun keras-keras tepat di telingaku. Terkadang aku menyesal dan merasa bodoh ketika kusadari kalau
akulah yang dengan sadar diri mengatur lagu itu sebagai dering alarmku, setidaknya kalau kondisinya mengoyak ‘Kemapanan’ tidurku macam pagi ini.

“Setidaknya lagu ini lebih bersahabat di bagian pembukaan bila dibandingkan dengan ‘Treasure’ miliknya Mas Bruno!” kataku suatu hari ketika hendak memasang
“The Monster” itu. Dan pagi ini, “The Monster” yang terpilih di antara sekian deret lagu keren di hp-ku itu kehilangan kekerenannya sama sekali.

“Ah…” aku menggeliat, menurunkan selimut yang menutupi kepalaku lantas dengan enggan mencari-cari keberadaan BB busukku. Tapi ternyata kondisi mata yang
belum bisa terbuka sepenuhnya menyulitkan konsentrasiku. Otakku jadi ngalor-ngidul! Tentu saja hal itu membuat perintah dari otak ke tangan menjadi kacau
balau. Alhasil…beginilah jadinya…

Barang pertama yang kugenggam adalah gulungan tissue…kemudian jepit rambut…kemudian dompet…kemudian charger hp…kemudian…kesabaranku habis!

Cepat-cepat kutegakkan tubuhku, kemudian kusapu seluruh tempat tidur dengan tangan yang belakangan ini terasa lebih besar dari biasanya.

“Dimana HP menyebalkan itu? Perasaan tadi deket banget sama kupingku!” aku mengoceh dalam hati seraya memperhatikan dering lagu yang masih mengalun.

“Dapat juga kau!” kataku tepat setelah berhasil menggenggam HP yang dibagian baterainya kusumpel tissue agar tak mati-mati.

“Dismiss” screen readerku berkata dengan suara mirip orang teler. Mungkin software itu masih mengantuk sama sepertiku. Tanpa pikir panjang, kuat-kuat kutekan
tombol “Dismiss” itu. Dan ajaib! Aku terbebas dari “The Monster” yang memekakan telinga.

“Tidur lagi!” aku bersiap kembali memejamkan mata dengan kepala yang telah jatuh ke atas bantal. Tapi tiba-tiba aku teringat agendaku hari ini. Ketika
alarm kubunyikan pagi-pagi, itu tandanya aku harus pergi ke suatu tempat. Tapi kemana ya?

“Ngampus…proposal…diknas…Pak Arief…”

Kata-kata itu merangsek begitu saja ke otakku. Kata-kata itu membuat aku gelagapan, bukan secara nyata, tapi secara mental. Aku harus bangkit, mandi, pergi
ke kampus, dan meeting dengan dosen yang UAS Semantics kemarin memberi nilai 100 padaku. Tapi, tidak adakah kesempatan bagiku untuk kembali terlelap barang
10 menit? Toh ini kan dua jam setengah lagi menuju meeting, jadi aku masih punya waktu untuk memanjakan bola mataku yang menyedihkan ini.

Alhasil, aku kembali memejamkan mata. Tapi sebelum itu, aku sempatkan mengatur “The Monster” itu agar mau berdering pada pukul 07.45. Kali ini aku sungguh-sungguh
menginginkan musik itu mengalun, sebab kalau sampai membisu, aku bisa telat ke kampus, dan itu tentu saja akan berdampak pada performaku di hadapan dosen.


“Selamat tidur,” ucapku pada diri sendiri.

Satu jam lebih telah berlalu. Kini “The Monster” kembali memekakan telingaku. Aku gondok untuk kedua kalinya. Kalau saja aku punya banyak uang, tentu akan
kulempar HP-ku ke tengah-tengah “Banjir Kanal”, biar tenggelam, biar bergumul dengan barang-barang rongsok yang mungkin juga dilempar oleh orang-orang
gondok sepertiku.

“Bodoh!” umpatku pada diri sendiri setelah kusadari kalau aku sama sekali tak tahu di Semarang daerah mana “Banjir Kanal” itu berada. Jadi, percuma saja
niatku melempar HP ke Kanal tak akan terealisasi, terlebih lagi jika ditambah dengan fakta bahwa uangku di dompet Cuma tersisa kurang dari dua puluh ribu,
sehingga mana mungkin aku bisa mendapatkan HP baru setelah itu.

07.45…jarum jam pasti menunjukkan pukul itu sekarang ini. Dengan mata yang masih sulit terbuka, kupaksakan me-dismiss alarm yang berbunyi. Cepat sekali
satu jam berlalu, pikirku. Tapi buru-buru kutepis rasa kantukku dan mencoba membuka inbox di HP.

“Pagi Eka. Maaf baru balas. Iya, bisa, jam sembilan juga tidak apa-apa”

Itulah SMS yang pertama kubaca di inbox. Pengirimnya tentu bukan fansku, tapi Pak Arief sang dosen Semantics lah yang mengirimnya. Semalam aku memang mengirimkan
SMS terkait meeting hari ini. Dengan datangnya SMS itu, aku pun lagnsung megnirim pesan pada dua cowok jangkung, Ari dan Ical.

“Guys, nanti jadi ketemu Pak Arief jam sembilan. Dia udah setuju,”

Kalau tidak salah begitulah bunyi SMS yang kukirimkan pada Ari dan Ical. Beberapa saat kemudian, ada balasan dari Ari. Alhasil kami pun terlibat percakapan
lewat SMS. Yang kutahu, cowok tunanetra itu telah berada di kos yang bisa dibilang mirip gubug setelah melewatkan liburan di rumah orang tuanya di Ungaran.
Tanpa disadari, HP terlepas dari genggamanku dan hanya menyisakan helaan nafas yang kalau orang tak faham, bisa dikira “Dengkuran”. Dengan kata lain, aku
mulai tak sadarkan diri, dan tenggelam dalam tidur pulasku.

08.57, aku terbangun dari mimpi. Lenka…Pangeran berkuda putih…Jokowi…ah entah tokoh-tokoh siapa lagi yang mampir di mimpiku, aku tak ingat lagi. Yang jelas,
aku sekarang betul-betul gelagapan. Tiga menit lagi aku harus bertemu Pak Arief, tapi lihat wajahku, lihat rambutku, lihat iler di sudut bibirku, benar-benar
tak bisa dibilang “Rapi” untuk pergi ke kampus. Aku harus mandi, tapi mana bisa tepat waktu. Akhrinya buru-buru kuputuskan mengontak Pak Arief, Ari dan
Ical. Tentu pada Pak Arief aku tak sampai hati mengatakan bahwa aku terlambat bangun, tapi khusus pada dua sahabatku, aku berkata jujur. Aku menyuruh mereka
untuk bertemu Pak Arief terlebih dahulu, tapi ternyata respon Ari benar-benar di luar dugaan. Dia marah! Tanduk di kepalanya bermunculan! Wajahnya berubah
mirip Hulk! Bibir merahnya masih tetap merah, tapi dua buah taring tajam mencuat dari balik bibir itu! Dari hidungnya keluar asap tiap kali ia mendengus
kesal! Benar-benar menyeramkan imajinasiku! Hey, tapi kau harus ingat, Ari sebetulnya jauh lebih ganteng dari imajinasiku itu *hahaha*.

“Aku kasih waktu 5 menit dari sekarang!” itu bunyi SMS dari Ari. Dia marah, tentu saja. Bagaimana tidak, dia itu adalah seseorang yang tak suka bila ia
tak dibagi roti keju. Ops, bukan begitu, maksudku adalah, Ari merupakan tipe cowok yang tak suka bila rencana yang telah disusun secara terstruktur, sistematis
dan massive harus dinodai dengan keteledoran seorang cewek yang tidurnya mirip kebo.

“Bodo amat!” kataku menanggapi kemarahan Ari. Dengan gontai kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Dan sekian menit setelah itu, aku telah wangi sabun
cair Lifeboy Ungu. Aku sungguh-sungguh merasakan kesegaran dan ketenangan pikiran yang tiada tara. Tapi ketika kuingat meeting hari ini, adrenalinku kembali
berpacu. Aku telah berdosa. Aku menelantarkan dosen dan teman-temanku. Aku mirip merpati yang ingkar janji *dapet kata-kata itu setelah nemu novel dengan
judul yang sama haahaa*.

“Kalau udah siap, kasih kabar,” lagi-lagi Ari yang mengirim SMS padaku. Aku manyun membaca SMS itu. Dalam benakku aku berimajinasi yang tidak-tidak. Aku
membayangkan Ari memakai daster renda-renda merah jambu dengan roll rambut di kepala. Ah, sungguh aku tak bermaksud begitu, hanya saja aku ingin mencoba
membayangkan sikap cerewet SMS dia yang mirip emak-emak.

“Baru selesai mandi tahu!” aku mengirim SMS itu padanya tanpa peduli apakah nanti tubuhku akan dimakan hidup-hidup oleh cowok yang beberapa orang bilang
memiliki wajah mirip denganku. Entahlah, dari mana opini itu berasal, sebab aku pribadi tak pernah merasa memiliki wajah mirip dengannya.

Beberapa sat kemudian, aku telah rapi dengan pakaianku. Aku mengunci pintu kamar dan bersiap lari ke bawah menemui dua cowok yang rupanya tak sanggup bertemu
Pak Arief tanpa kehadiranku. Tapi tiba-tiba aku menepuk jidatku tepat setelah kunci kamar kumasukkan ke dalam saku jaket merahku.

“Tongkatku kan masih di dalam,”

Aku teringat pada tongkat putihku, tapi bayangan Pak Arief dan dua sahabatku yang terus melayang-layang di benakku seolah membuatku lemah jika harus kembali
masuk ke dalam kamar. Aku telah menghitungnya masak-masak. Kalau aku kembali membuka kamar untuk mengambil tongkat, bisa-bisa aku digoreng oleh Ari dan
Ical kemudian dilempar ke sekumpulan gorengan di warung kucingan Mak’e yang biasa beroperasi dekat kampus.

Tanpa mempedulikan tongkat, aku pun berlari menuruni tangga menuju kedua sahabatku. Beruntung aku tak memakai bedak, sehingga aku tak perlu cemas bedakku
luntur akibat keringat yang muncul karena berlari.

Pada tangga terakhir, kudengar suara TV mengalun dari kamar Mbak Dina, salah seorang teman kosku yang kamarnya tepat berada di bawah tangga. Sebagai teman
kos yang baik, tentu kusempatkan diriku untuk menyapa cewek bersuara lembut itu, toh menyapanya tak membutuhkan waktu lama; aku hanya perlu mengucapkannya
sambil berlalu. Tapi ternyata perkiraanku salah kaprah! ‘Say hello’ yang kulontarkan pada Mbak Dina justru menjadi boomerang buatku. Ia malah menghentikan
langkahku dan mengajakku berbincang. Ah, sungguh menambah kegalauanku! Begini, bukan apa-apa, hanya saja moment nya kurang tepat jika aku harus berbincang
dengan Mbak Dina sedang sahabat dan dosenku tengah menunggu kemunculanku.

“Mbak Eka kalau jam segini Esdo udah buka belum ya?” tanya Mbak Dina, polos. Aku berusaha tak cemberut, dan memasang wajah semanis mungkin. Jujur aku berusaha
meniru ekspresi dan senyum Mbak-mbak pegawai Bank BRI dekat SMP-ku demi memperoleh kesan ramah pada Mbak Dina.

“Biasanya jam segini udah buka kok, Mbak. Coba pesan saja,” timpalku dengan harapan obrolan terputus layaknya ketika aku menelpon menggunakan gratisan
di HP-ku.

“Oh, gitu ya,” jawabnya. Aku girang mendengar kata-kata itu, dan bersiap melangkah pergi. Tapi ternyata Mbak Dina masih membutuhkan informasi dariku.

“Kalau Mbak Eka biasanya pesan apa?” Pertanyaan Mbak Dina terus mengalir dan tentu saja “Gawat! Ari dan Ical pasti udah bawa penggorengan plus spatula,
dan siap menggorengku sampai kering dan renyah!” pekikku dalam hati seraya membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk tapi terelaisasi begitu menggelikan
dalam imajinasiku.

“Aku sih biasanya beli pindang dibumbuin gitu, Mbak. Pakai sambel juga biasanya…” kataku singkat. Dan sebelum Mbak Dina sempat membalas, buru-buru kukatakan
say goodbye padanya. Berhasil! Aku akhirnya bisa lari dari Mbak Dina yang cantik. Tapi nampaknya aku tak seberuntung yang dibayangkan. Tahukah kau apa
yang terjadi padaku tepat setelah kulangkahkan kakiku keluar pintu kos menuju garasi? Adakah Ari dan Ical bersiap di depan gerbang dengan peralatan masaknya
dan siap menggorengku hidup-hidup?

“Aw!” aku memekik kesakitan. Kepalaku nyaris nyungsep ke lantai. Kakiku senut-senut sakit sekali. Bencana ternyata datang lagi!

“Aduh, siapa sih yang naro motor sembarangan?!” aku berteriak kesal sambil meringis kesakitan. Tapi percuma saja, kekesalan dan rasa sakit yang kuderita
akibat sepeda motor yang parkir sembarangan di garasi sama sekali tak mengundang perhatian siapa pun, termasuk dua sahabatku, Ari dan Ical. Dimanakah mereka?
Tidakkah mereka mendengar pekikanku tadi? Selanjutnya, aku berjalan gontai ke luar garasi. Wajahku cemberut dengan pipi tembem dan bibir manyun. Ah, sungguh
jelek rupaku! Membayangkan wajahku sendiri, aku jadi ingat permainan “Chubby Bunny” yang nampak konyol bila kumainkan bersama Ari beberapa waktu lalu.


Sesampainya di teras kos, aku celingukan. Sepi, tak ada suara centil Ical menyambutku. Dimana mereka? Apakah mereka meninggalkanku dan bertemu Pak Arief
lebih dulu?

“Dasar cowok-cowok gak punya belas kasihan sama cewek!” umpatku kesal. Betapa tidak, beberapa waktu lalu Ari memintaku memberi kabar padanya pabila aku
telah siap berangkat ke kampus, tapi faktanya? Mereka ingkar janji! Aku jadi kesal. Aku sudah berlari sekuat tenaga menuruni tangga, menghadapi obrolan
dengan Mbak Dina, sampai akhirnya nyaris nyungsep gara-gara sepeda motor di garasi, tapi ternyata apa balasan yang kudapat? Aku ditinggalkantanpa kabar!


Tapi, di tengah-tengah kekesalanku, kudengar suara plastik dari arah kursi yang sengaja disediakan di teras kos demi menjaga-jaga jika ada tamu yang mampir.
Plastik itu tak bersuara, tentu saja. Tapi maksudku, sosok di balik plastik itu tak bersuara. Siapa gerangan sosok itu? Sambil menimbang-nimbang, aku teringat
pada Rizki, mahasiswa tunanetra tetangga kamarku.

“Rizki…” kataku mantap.

“Kok kamu tahu ini aku sih?” Rizki malah melempar tanya padaku. Aku tersenyum bangga. Aku merasa menjadi tunanetra keren karena mampu mendeteksi keberadaan
makhluk lain, eh maksudku sosok lain meski aku tak dapat melihatnya dengan kedua mataku.

“Tahu dong!” kataku masih dengan senyum bangga meski kurasa itu percuma sebab cewek tunanetra itu pasti tak dapat melihat senyum manis tingkat akut yang
kulemparkan.

“Keren ya. Kok kamu bisa tahu sih?” dia mengulangi pertanyaan yang sama.

“Tahu dari mana? Kamu peka sekali ya!” Rizki terus melemparkan kekagumannya padaku. Aku yang berdiri tak jauh darinya jadi salah tingkah, jadi sedikit
melayang meninggalkan pijakan kakiku.

“Tahu dong!” Jawabku singkat.

“Kok bisa tahu sih? Hebat ya kamu…” ia lagi-lagi mengemukakan rasa kagumnya padaku. Tapi terlalu sering mendengar kalimat dengan tone yang sama pun kurasa
tak terlalu baik untuk kesehatanku, alhasil kuputuskan untuk mengarang bebas di hadapan Rizki.

“Aku tahu dari aroma kamu, Riz!” kataku sambil menahan tawa.

“Ah, masa?”

“Iya, aku tahu dari aroma dan auramu!”

Well, itu dia sesi mengarang bebas yang kubuat spesial untuk Rizki, cewek tunaentra yang memiliki skill di bidang musik. Kuharap ceritaku itu bisa meyakinkan
dirinya, meski dari analisaku, Rizki tak percaya bahwa aku dapat mendeteksi dirinya lewat aroma yang ia pancarkan. No no no, aku jadi geli bila membayangkan
wajahnya. Dalam imajinasiku, di atas kepala Rizki bermunculan banyak emoticon wajah kebingungan dan garuk-garuk kepala. Betapa tidak, kata ‘Aroma’ dan
‘Aura’ yang kulemparkan padanya memang terdengan kurang masuk akal. Biar saja, pikirku. Hatiku terlalu gondok untuk bercerita yang sebenarnya. Bukan, aku
bukan sedang gondok pada Rizki, tapi aku gondok pada kesialanku sendiri. Bagaimana bisa aku berlari-lari menuruni tangga dan setelah itu nyaris nyungsep
gara-gara menabrak sepeda motor yang tak tahu sopan santun?!?!

Lantas, dari mana sebetulnya ilham yang kudapat sehingga aku dapat menebak dengan tepat bahwa gadis plastik itu Rizki? Begini ceritanya…*Flashback*

Setelah aku berkata “Bodo amat!” pada SMS Ari, aku melangkah gontai menuju kamar mandi. Setibanya di depan kamar mandi, aku mendengar Rizki menyapaku.
Tapi ada hal lain yang juga menyita perhatianku. Apa itu? “Plastik”, itu dia jawabannya. Rizki menyapaku sambil meremas-remas (nampaknya) plastik yang
ia genggam. Kemudian aku melaju masuk ke kamar mandi dan mengganggap suara-suara plastik itu hanya angin lalu.

Sekian menit kemudian, di teras kos, aku mendengar suara plastik yang sama. Oleh karena itulah aku langsung menebak bahwa Rizki lah sosok di balik plastik
itu. Ternyata tebakanku benar. Beruntung sekali kan? So, “Tunanetra peka”, selayaknya belum pantas kusandang. Betapa tidak, selama hidup menjadi seorang
tunanetra, aku merasa menjadi tunanetra paling gak keren karena kebodohanku dalam orientasi maupun mobilitas, termasuk di dalamnya mendeteksi apa pun yang
ada di sekitarku. Jadi, aroma dan aura itu hanya dua kata kunci dalam karangan bebas yang kulontarkan pada Rizki. Ah, geli deh!

“Terus ini kamu mau kemana, sayang?” tanya Rizki melepas obrolan tentang ‘Aroma’ dan ‘Aura’.

“Mau ngampus, Riz. Tapi ini kok temanku belum muncul ya, mana aku lupa bawa tongkat juga,” kataku sok sedih.

“Ya sudah pakai tongkatku saja. Tidak apa-apa, pakai saja ini…” Rizki menyodorkan tongkatnya padaku. Aku terkesima dengan kebaikan cewek yang gemar makan
sayur itu, tapi rasanya aku tak perlu membawa tongkat miliknya, sebab kusadari betul bahwa Rizki pun membutuhkan tongkat itu untuk mobilitas ke warteg
dalam rangka mempertahankan hidup dari cacing-cacing kelaparan dalam perut.

“Gak usah, Riz. Aku biar digandeng temen saja. Biar kamu pakai sendiri saja tongkatmu,” aku menolak dengan halus seraya memencet-mencet HP mencoba menghubungi
dua cowok yang sering terlihat bersamaku.

“Aduh, sudah, tidak apa-apa, pakai saja ini tongkatku. Jangan tergantung terus sama orang lain,” Rizki sedikit memaksa dan sedikit berceramah. Mau bagaimana
lagi, akhirnya kuterima pinjaman tongkat darinya.

Obrolan antara aku dan Rizki pun terputus setelah tongkatnya beralih ke tanganku. Dia asyik dengan Biolanya, dan aku asyik dengan BB busukku yang tak kunjung
memberikan koneksi pada Ari dan Ical. Ah, aku jadi gondok untuk kesekian kalinya. Sulit sekali mengontak mereka. Tapi keadaan yang terburu-buru dan panik
terkadang justru semakin menyudutkan kita. Dengan wajah putus asa dan menyedihkan, aku pun berjalan menuju gerbang dan bermaksud melangkahkan kaki ke kampus.
Tapi tiba-tiba ada sebuah tangan besar yang meraih lenganku. Aku terperanjat, kaget. Kupikir penculik dari mana pagi-pagi begini. Ternyata aku salah. Sosok
di balik tangan besar itu bukan penculik melainkan…

“Ical!” seruku pada sosok itu.

“Sok tahu deh!” Ari tiba-tiba menimpali. Dari nada suaranya aku bisa menangkap kalau ia sedang ingin bercanda denganku, tapi hatiku terlanjur mangkel.
Akhirnya, tanpa dikomando, aku lagnsung menyemprot mereka dengan serentetan kata tanpa ampun.

“Kalian ini gimana sih?! Disuruh nemuin Pak Arief duluan aja gak mau!” aku nyerocos sambil goyang kanan kiri, tapi bukan karena bergaya ala foto model,
melainkan langkah kaki cowok-cowok di depanku yang sempoyongan buatku.

“Kalian kan tahu aku bangun kesiangan, kenapa sih gak duluan aja!”

“Nyebelin deh!”

“Kalian tahu gak sih? Tadi aku lari-lari, lupa pakai bedak, dan tahu gak sih? Kakiku sakit gara-gara nabrak motor di garasi!”

“Tapi kalian malah telat ditungguin dari tadi!”

Sepanjang jalan seolah ada angin ribut. Ya, tentu itu karena omelanku pada Ari dan Ical. Tapi sepertinya kedua cowok itu sama sekali tak peduli dengan
serentetan kata-kataku, dan Ical justru berkata, “Sssstttt, berisik banget sih! Udah dong stop! Cerewet deh!”

Jlep…rasanya benar-benar menohok. Mereka tak peduli. Mereka cuek. Mereka asyik dengan obrolan mereka. Ah, aku jadi galau. Rasanya ingin sekali aku kembali
ke kos dan menangis di babawah guyuran shower dengan tak lupa memutar lagu galau abad ini. Tapi, gambaran dua buah kamar mandi sempit dengan bak dan kloset
yang penuh lumut menyadarkanku bahwa kamar mandi kosku sama sekali tak memiliki shower! Akhirnya, aku tutup mulut, manyun dan lesu mengikuti jejak langkah
dua cowok di depanku. Pasrah saja, pikirku.

Sekian menit kemudian, kami bertiga duduk di lantai tiga fakultas. Kini kegalauanku telah sirna, pupus karena sebuah ‘Korset’ yang telah lama kuimpikan
demi merekayasa perut buncitku. Hari ini aku berhasil mendapatkan korset itu! Happy, aku benar-benar happy. Kegalauanku pagi tadi telah binasa, meski sehrusnya
aku tetap galau karena Pak Arief tak terlihat batang hidungnya di ruang dosen.

“Ini salahmu, Eka! Andai kamu tak bangun kesiangan, pasti tak begini jadinya. Kau telah mengecewakan Pak Arief!” tiba-tiba suara mirip Julia Perez merangsek
ke pikiranku. Suara itu menggelikan tapi tetap mengerikan. Betapa tidak, kata-kata yang diucapkan makhluk itu bernada ‘Menyalahkan’, dan tentu saja akulah
sosok yang patut disalahkan. Mungkin aku memang salah. Seandainya aku disiplin dan tak lali dengan waktu, sudah barang tentu sekarang ini kami telah meeting
bersama Pak Arief.

“Ini salahmu, Eka! Ini salahmu! Ini salahmu!” suara menggelikan itu terus terngiang di benakku, tapi cepat-cepat kubuyarkan suara-suara itu demi menghilangkan
rasa bersalah yang mulai tumbuh dan merajai setiap alam pikiranku.

“Gimana nih, guys? Apa kita harus cari Pak Arief ya?” kataku menyela obrolan di antara Ari dan Ical.

“Boleh juga! SanaSMS!” seru Ari bersemangat.

Tak tik tuk tak tik tuk, and send! SMS pun akhirnya berhasil kukirim ke Pak Arief. Aku sedikit tenang setelahnya, dan memang betul, aku dan kedua sahabatku
kemudian kembali saling lempar canda tawa mulai dari mencoba korset satu persatu, menggosip tentang kawan-kawan, sampai obrolan kurang penting lainnya.
Tapi kemudian kami merasa penantian kami harus segera diakhiri, sebab setelah sekian menit menunggu, tak ada balasan sama sekali dari Pak Arief.

“Telpon saja dong!” Ari memberi usul. Aku pun mengangguk mengiyakan, dan segera menyodorkan HP Android-ku pada Ical. Tapi belum sempat Ical berbicara dengan
Pak Arief, “Royal” mengalun dari tasku. Ada telpon, pekikku. Dengan sigap kuraih BB yang bersembunyi di dalam tas kemudian menyodorkan layar BB ke arah
Ical.

“Pak Arief…Pak Arief..ayo angkat…” Ical bersorak mirip tim penggembira.

“Hallo, Ka!” Pak Arief pun berbicara dari ujung telpon dan setelah itu kami telah berada di Biro Kemahasiswaan kampus.

Di Bima, aku, Ical, Ari, Pak Arief dan Bu widya saling berkomunikasi perihal presentasi proposal kami yang lolos dan masih banyak lagi hal lain yang kami
perbincangkan. Suasana yang tercipta benar-benar hangat. Segala macam jenis kecanggungan dan malu-malu kucing sirna sama sekali. Sampai akhirnya obrolan
pun terhenti dan kami keluar dari Bima dengan senyum mengembang.

11.30, urusan dengan dosen pun selesai dan kini kami telah berada di Simpang Lima. Kami bertiga menuruni Taxi dan berjalan di antara riuhnya kendaraan.
Amazing sebetulnya. Betapa tidak, Ical yang notabene anak kemarin sore, siang ini terlihat dewasa dan mengagumkan karena ‘nekad’ menggandeng dua tunanetra
yaitu Ari dan aku, padahal menurutku, hal itu lumayan menyulitkan terlebih lagi kami harus menyebrang di antara kendaraan yang berlalu lalang. Sekian menit
kemudian, kami telah berada di kawasan elektronik. Kami berputar-putar bak kereta api. Betapa tidak, langkah kami berderet ke belakang dengan Ical sebgai
kepala dan aku sebagai ekornya. Entahlah bagaimana pandangan orang sekitar yang melihat kami, yang jelas kami happy dengan aktifitas yang kami lakukan.


12.30, kami puas berputar-putar, lebih tepatnya kami pegal-pegal dan kelaparan. Kemudian kami memutuskan mampir untuk mengisi perut, dan tempat yang kami
pilih adalah Shibuya, resto makanan Jepang yang kerap kami kunjungi. Sebetulnya kami memutuskan datang ke tempat itu setelah menimbang dan memperhatikan
lewat jalur hom pim pa *hahaha*.

Sedetik setelah kami memasuki Shibuya, yang kami rasakan adalah kelengangan. Tumben, padahal biasanya Shibuya ramai oleh pengunjung. Ada apa gerangan?
Meski demikian, aku pribadi merasa senang, sebab kami tak perlu malu ketika harus memesan menu ‘Magic’ yang kerap kami pesan.

“Gimana nih? Pesan menu biasa?” tanya Ari.

“Iya dong!” timpal aku dan Ical berbarengan.

“Oia, gimana kalau kita pesan double tiap anak?” Ari kini memberi usul. Aku dan Ical terdiam sebentar meski kudengar suara cekikikan dari mulut Ical. Dari
suara itu, aku bisa menangkap bahwa Ical merasa konyol dengan usulan Ari, tapi kemudian aku dan Ical telah mengiyakan usulan Ari.

“Well, aku pesan Ramen Slice Beef and Ramen Kare. Kamu apa, Wo?” Ari memberi aba-aba untuk pertama kali.

“Hmm, apa ya? Hmm…” aku kebingungan. Begitulah penyakitku. Tiap kali akan memesan sesuatu, aku pasti kebingungan dan bahkan mencapai titik galau akut.
Terbayang kan bagaimana kacaunya aku? Konyol kan, mana mungkin seseorang bisa galau hanya karena memilih menu. Alhasil, kuputuskan untuk memilih menu yang
sama dengan Ari, tapi aku menambahkan catatan penting pada Ical.

“Jangan lupa ‘Pedes banget’! Pokoknya kalau gak pedes pakai banget, aku bakalan nangis. Bener lho, Cal!”

“Iya…iya…” Ical mengiyakan dengan malas.

“Kalau kamu pesen apa, Cal?

“Aku pesen Kari dong, itu udah pasti…”

Kami pun telah memilih menu masing-masing. Kami merasa puas dan tertawa terbahak. Crazy ya? Hmm, bisa jadi, tapi itu wajar dialami oleh mereka yang merasa
puas karena berhasil mendapatkan makanan dengan setengah harga. Sampai akhirnya peristiwa menggelikan itu pun terjadi…

“Pesan apa, Kak?” tanya sang pelayan.

“Untuk enam orang?” pelayan itu terkaget-kaget dengan pesanan kami. Lebay, pikirku. Memang ada yang salah ya? Kurasa kesalahan terletak pada si pelayan.
Tentu tak jadi soal dong ketika konsumen membeli enam mangkuk ramen meski yang duduk di kursi hanya tiga orang.

“Ini beneran untuk enam orang, Kak?” dia mengulangi pertanyaannya, dan masih dengan pertanyaan ‘Tak habis pikir’.

“Iya…” kami menjawab. Tapi buru-buru aku berinisiatif untuk menanyakan perihal promo yang biasanya berlangsung di Shibuya.

“Oia, promonya masih kan? Beli satu dapat satu itu lho!” kataku penuh percaya diri, meskipun kalau kupikir-pikir agak memalukan juga.

“Oh iya, Kak, masih ada…” Yes, aku bersorak dalam hati. Dan kurasa kedua sahabatku pun ikut bersorak penuh kemenangan.

“Tapi, Kak…” pelayan itu melanjutkan kata-katanya. Aku tiba-tiba mendapat firasat buruk dengan kata-kata itu.

“Promonya berlangsung dari jam dua siang sampai jam enam sore, Kak. Sedangkan sekarang masih jam 12.30…”

Jlep! Mendengar kata-kata itu tubuhku serasa dilempar ke panggung sirkus raksasa terus disiram pakai coklat basi dan dicelupkan ke dalam abon sapi yang
telah basi. Terbayang kan bagaimana tidak mengenakannya? Malu, rasanya benar-benar malu.

“Kakak-kakak tidak melihat papan promo yang terpasang di depan ya, Kak? Kan dari jam dua sampai jam enam, Kak…”

“Sudah…hentikan…hentikan…gak usah diulang lagi dong, Mas!” pintaku dalam hati. Pelayan itu seolah-olah tertawa di atas penderitaan kami. Dengan kata-katanya
seolah-olah ia ingin menambah beban mental yang kami rasakan.

“Hmm, gimana dong?” tanyaku memecah keheningan pada kedua sahabatku.

“Gak bisa ya, Mas, promonya dimajuin jam sekarang?” Ical tiba-tiba bertanya hal konyol pada pelayan yang masih berdiri di samping kami.

“Aduh, gak bisa, Kak. Bisa-bisa saya kena marah bos…”

“Ya udah, beli tiga saja, Mas…” kata Ari lesu.

Panggung sirkus pun berakhir dengan tiga mangkuk ramen tanpa minum karena tiga gelas milk tea yang telah kami beli di luar dengan maksud mengirit. Kami
melongo dan kemudian terbahak. Konyol sekali! Niat hati ingin ngirit dan mendapat jatah dua mangkuk per anak, tapi nyatanya kami salah jam. Pantas saja
Shibuya lengang, jangan-jangan para konsumen sengaja menunggu jam dua agar mendapat promo ramen itu. Ah, sial. Gak jadi makan lebih dengan harga murah,
malah justru satu mangkuk dengan harga mahal. Disamping itu, rasa malu tak terperi pun harus kami terima gara-gara enam mangkuk ramen yang menyusut menjadi
tiga mangkuk saja, ditambah lagi tak ada segelas pun minuman yang kami pesan. Dasar kantong mahasiswa!

Begitulah kurang lebih satu hari yang kujalani bersama dua sahabat karibku, Ical dan Ari. Ini hari pertama kami berjalan ke mall bertiga, dan ini hari
pertama bagi Ical menggandeng dua tunanetra di tempat keramaian macam mall. Menakjubkan! Dan tentu saja, pengalaman ramen itu takkan terlupakan. Love you,
guys!

Sweet memory with friends-Udinus-Sastra Inggirs

Foot note :
Esdo adalah singkatan dari Es the Gado-gado, sebuha tempat makan di dekat kampus Udinus yang biasanya menerima jasa delivery makanan
Catatan Berseri Puisi Diary Si Oneng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar