Rabu, 29 Juli 2015

2NET CORNER : TANDA TANGAN KOK CENTANG?



Taylor Swift sedang melantunkan lagu ‘Forever and Always’ ketika Eka tengah mengerucutkan bibirnya seraya menatap langit-langit kamar yang entah apa warnanya. Dahinya berkerut dan bibirnya masih saja mengerucut. Hal itu benar-benar kontras dengan lagu yang mengalun dari laptop di sebelahnya. Entah apa yang sedang terjadi padanya, tak ada yang tahu, bahkan akun Facebook yang biasa menjadi tempat pelampiasan isi hati pun menggeleng bila kita bertanya perihal bibir Eka yang mengerucut.

“Rese deh!”

Eka tiba-tiba berteriak, mengagetkan boneka yang tadi dipeluknya sehingga boneka itu melonjak dan terjatuh di lantai. Tidak, sebetulnya boneka itu tidak melonjak kaget, melainkan terlempar jatuh karena Eka sengaja melemparnya begitu saja tanpa dosa dan tanpa peduli kesakitan yang dirasakan oleh boneka koala yang selalu menemaninya tidur itu.

Sepertinya gadis penderita Glaukoma itu sedang galau karena cinta, atau mungkin datang bulan? Kemungkinan paling besar sepertinya yang kedua. Gadis itu biasa uring-uringan tak jelas bila ia sedang datang bulan. Jangan berani-berani mendekati gadis itu bila ia sedang kedatangan tamu, salah-salah bisa digigit dan dilempar macam boneka koala yang kini tersungkur di lantai.

Eka membalikkan tubuhnya. Langit-lagnit kamar kini tak lagi ia pelototi. Wajahnya kini terbenam di bantal. Nafasnya naik turun cepat sekali. Ia tak bisa bernafas sepertinya, tapi lihatlah, ia tak bergeming. Ia masih bertahan menenggelamkan wajah kusutnya pada bantal yang beruntung baru kemarin dibersihkan.

“Aaahhh…” suranya tertahan oleh bantal. Coba bila tak ada bantal, suaranya pasti sudah menggema di seluruh sudut kos, bahkan bisa meruntuhkan Tugu Muda yang tak jauh dari tempat tinggalnya itu.

Ia kesal sepertinya. Kesal sekali. Belum pernah ia kesal semacam itu, setidaknya empat minggu lalu ketika dadanya dihentak oleh pernyataan yang membuat tanduk di kepalanya muncul. Pernyataan yang tak pernah ia bayankan akan meluncur dari mulut sosok itu; sosok yang ia anggap berwibawa dan patut dihormati.

Star star star

Kelas telah ramai ketika tubuh jangkung berbalut bisana serba biru melangkah terbata menuju kursi kosong. Ruangan itu benar-benar sesak oleh suara-suara yang saling bersahutan dan tawa yang saling beradu satu sama lain. Sosok berbusana biru itu mengerutkan keningnya seraya berjalan mengikuti lengan yang memapahnya, hingga akhirnya ia tiba di sebuah kursi kosong yang posisinya berada di deretan paling belakang. Ia asing dengan posisi itu, sebab biasanya ia menempati kursi deretan paling depan, atau setidaknya nomer dua dan tiga.

“Baik, sudah jelas kan dengan tugasnya?”

Pria di depan sana bertanya pada seisi kelas. Suaranya berat tapi terdngar masih fresh dan maco. Gadis itu tahu betul siapa orang di depan sana tanpa perlu dikenalkan oleh teman atau bahkan pria itu sendiri.

“Ada yang belum jelas?” pria itu bertanya sekali lagi dan hal itu membuat gadis berbusana biru itu berteriak-teriak dalam hati dan rasanya ingin sekali mengatakan bahwa ia belum mengerti dengan tugas yang sedari tadi pria itu lontarkan. Tapi ia urung melakukannya. Ia sadar diri kalau ia datang terlambat ke kelas, jadi sudah barang tentu ketidaktahuannya menjadi konsekuensi telak baginya.

“Nanti tanya temen aja deh!” seru gadis itu dalam hati.

“Baiklah kalau sudah mengerti…” ucap pria itu masih dengan suara maconya.

“Siapa yang absen hari ini?” pria itu lagi-lagi bertanya, tapi pertanyaannaya kali ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang pria itu bicarakan sejak tadi.

Kelas masih riuh. Tawa masih menggema disana-sini. Pria itu memang terkenal santai bila sedang di kelas, sampai-sampai tak pernah meperdulikan anak-anak yang gaduh.

“Eka Pratiwi Taufanti!”

Gadis itu terperanjat. Lamunanya seketika buyar ketika pria itu menyebut namanya dengan lantang, lantang sekali. Refleks gadis pemilik nama itu mengangkat tngannya tinggi-tinggi, seolah bila ia tidak melakukannya, pria di depan sana tak bisa melihat tubuh jangkungnya yang terbenam di kursi belakang.

“Tanda tangan kok centang!”

Deg! Eka tertegun. Wajahnya merah padam mirip wajah yang baru saja terpapar sinar matahari berskala tinggi. Dadanya berdegup kencang. Ingin marah, ia ingin marah pada pria di depan sana, tapi ia tahu bila ia marah, hal itu hanya akan membuat harga dirinya runtuh karena dianggap berbuat hal konyol. Tapi…tapi…rasa di dadanya, rasa yang entah apa namanya, terlalu tak mengenakan baginya. Ia ingin lari, keluar dari ruangan itu, kemudian bersembunyi di kamarnya sambil memeluk boneka koalanya.

Tegakah pria itu? Ia berkali-kali berpikir dan hampir bahkan telah berpikir negatif pada pria di depan sana. Tahukah ia akan kondisiku? Pertanyaan itu berkelebat di benak Eka dan ia lebih suka pertanyaan itu dari pada pertanyaan yang pertama yaitu tentang ‘tega’.

Eka tak sadar ternyata ia sedari tadi terlalu sibuk dengan pikiran dan rasa tak enak di dadanya. Kelas telah hampir kosong, dan Eka baru menyadari itu ketika salah seorang temannya menempuk bahunya seraya berkata, “Gimana Mbak Eka, tanda tangan kok centang?”

Pemuda itu terkekeh. Eka tahu betul ia sedang bergurau, mengulangi perkataan pria bersuara maco yang sempat membuat dadanya sesak. Eka hanya melempar senyum terpaksa pada mahasiswa itu. Sudah jelas detik itu Eka masih memendam rasa tak enak akibat insiden biasa tapi luar biasa baginya.
Star star star

“Kok pak dosen yang tadi bilang gitu ya samasi tante? Tega bener!”

Salah seorang pemuda dari segerombolan mahasisswa yang tengah menuruni tangga menuju lobi itu bertanya entah pada siapa. Ia sebetulnya tak ambil pusing perihal siapa yang menjawab pertanyaannya, yang penting baginya adalah tak kehabisan bahan pembicaraan selama perjalanan menuruni tangga yang tak ia ketahui berapa jumlahnya meski setiap Senin hingga Jum’at ia selalu menjejakkan kakinya disana.

“Tahu tuh!” Eka berseru, seolah tak terjadi apa-apa di dadanya. Ia berpura-pura santai, seolah-olah wajahnya tak merah padam ketika berada di kelas tadi.

“Tega nian…tanda tangan kok centang!” kini pemuda lainnya ikut mengulangi kalimat yang sebetulnya tak ingin lagi Eka dengar. Tapi ia tak mampu berbuat apa-apa, apa lagi melarang sahabat-sahabatnya melontarkan kalimat itu, salah-salah ia bisa dikira orang tersinggungan meski bisa jadi tuduhan itu betul.

“Sabar ya, tante!” kini ada kalimat yang berusaha membuat Eka tenang. Eka terlonjak mendengar kalimat itu. Wajahnya memancarkan semburat kemerahan. Cepat-cepat ia menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan ekspresinya. Ia sebetulnya heran, mengapa sahabatnya melontarkan kalimat yang seolah-olah Eka sedang menderita tingkat akut meski malu-malu ia akui, ia tengah menderita sekali mendengar ucapan pria tadi, pria yang sebetulnya adlah salah satu dosen yang mengajarnya selama semester dua ini.

“Mungkin dia gak tahu aku tunanetra, makanya pak dosen satu itu mempermasalahkan tanda tangan centang di daftar kehadiran mahasiswa!” Tepat pada anak tangga terakhir Eka mengucapkan kalimat itu; kalimat yang ia harap dapat menentramkan hatinya sekaligus tak membuat sahabat-sahabatnya kembali mengulangi kalimat yang menyesakkan itu.

Star star star

Wajah Eka masih tertelungkup di atas bantal. Nafasnya kini semakin cepat naik turun. Hembusan-hembusan nafas bernada ‘huh huh huh’ mirip seseorang yang mencoba memberi nafas buatan pada korban tenggelam nampak jelas. Tapi sayangnya kondisinya terbalik; bukan Eka yang sedang memberikan nafas buatan, melainkan ia sendiri butuh diberi nafas buatan akibat hidung dan mulut yang tersumpal oleh bantal tidurnya!

“Ahhhh…” Eka kembali berteriak. Suaranya lantang sekali, nyaris memecahkan kaca jendela kamarnya. Beruntung Tugu Muda tak hancur karenanya meski dapat diakui suaranya keras dan lantang.

Eka meniup-niupkan udara ke langit-langit kamar. Dadanya naik turun cepat sekali. Nafasnya tersengal. Ia kehabisan nafas. Ia tak tahan bila harus berlama-lama membenamkan wajahnya di atas bantal meski faktanya ia baru lima menit melakukan tindakan konyol itu. Mau apa sebtulnya gadis itu? Ingin bunuh diri? Ah, sepertinya tidak. Lantas? Mungkin ia ingin menghilangkan galau yang melayang-layang di benaknya, mondar-mandir tak jelas, dan hanya membuatnya pusing kepala. Ya, sepertinya ia ingin melakukan itu. Tapi, apa sebetulnya kegalauan yang ia miliki? Adakah kaitannya dengan ingatan yang beberapa saat tadi melintas di pikirannya? Ya, adakah kaitannya dengan pria bersuara maco, tanda tangan centang, dan…ah, Eka tak ingin mengingatnya lagi! Sungguh mengingatnya membuat dada Eka sesak dan stres berkepanjangan!

“Kenapa sih urusannya jadi panjang gini?” Eka menggerutu dengan nafas yang belum sepenuhnya teratur.

“Jangan-jangan dosen satu itu emang pengen bikin aku susah…” ekspresi kebencian kentara sekali pada wajah Eka, meski sebetulnya ia tak sungguh-sungguh mengeluarkan ekspresi semacam itu.

“Seorang pendidik seharusnya memberikan solusi buat mahasiswanya yang kesulitan, apa lagi Tunanetra macam aku…” Eka masih menggerutu. Poni di keningnya melambai-lambai tertiup kipas angin yang menempel di tembok. Sementara itu, Taylor Swift tak lagi bersuara. Kini suaranya digantikan oleh Lenka yang riang melantunkan lagu kesukaan Eka, ‘We will not grow old’, tapi nampaknya Eka tak sedang bernafsu dengan lagu itu. Lihat saja mulutnya yang bukannya berkomat-kamit melantunkan lagu kesuakaannya, tapi ia justru manyun jelek sekali.

“Cari gara-gara…itu dosen kayaknya cari gara-gara deh!” Eka masih sewot. Lenka sama sekali tak dihiraukannya. Musik di sampingnya, dan pikiran yang menggelayut di atas kepalanya, seolah berjalan berlawanan, tak ada benang merah, sama sekali tak sinkron!

Penuh amarah gadis yang memiliki seorang adik laki-laki itu membalikkan tubuhnya. Wajah kesalnya kembali ia benamkan di atas bantal. Tapi sepertinya ia teringat penderitaannya beberapa saat lalu ketika ia kehabisan nafas akibat tingkah konyolnya, alhasil ia pun urung menenggelamkan wajahnya di atas bantal. Kini kepalanya miring. Bola matanya tepat menghujam Kola yang tersungkur di lantai. Tatapan Eka berapi-api. Amarah betul-betul sedang menguasai dirinya sampai-sampai Koala kesayangannya mengkerut ketakutandan diam. Koala itu tak punya banyak keberanian untuk bergerak, atau bahkan untuk menelan ludah sekalipun, sebab salah-salah ia bisa dilempar dari lantai dua oleh tuannya itu.
 “Apa lagi sih yang harus dilakukan? Tugas…tugas…tugas…menyebalkan! Gak ngasih jalan keluar sama sekali!”

Dalam amarah yang tengah meraung-raung berlomba-lomba dengan hawa panas Kota Semarang, Eka tiba-tiba teringat wejangan dari salah seorang lelaki yang bisa dibilang berjasa dalam Perjalanan pendidikan Eka. Wejangan itu melayang dari masa lampau, terbang berayun tertiup semilir angin gersang, bagai layang-layang di musim kemarau, dan jatuh begitu saja di atas piringan hitam di otak gadis yang sempat ditinggal kekasihnya karena ketunanetraannya itu.

Eka mengerjap-ngerjapkan matanya. Bola mata itu terasa keras bagai batu tepat ketika kelopak matanya berkedip-kedip, mirip seperti nyala lampu kota Tegal ketika dulu ia masih menjadi mahasiswa di salah satu universitas swasta disana. Dulu, ya, dulu sekali, ketika Glaukoma itu belum sampai hati mempersuntingnya dan merampas obor di bola matanya. Sejurus dengan kelopak mata yang berkedip-kedip, piringan hitam di otak Eka berputar. Syahdu dan agak sedikit cacat disana-sini, memori itu terus terputar, menampilkan untaian kata. Meski agak sedikit cacat, agak tak utuh piringan hitam itu terputar, tapi Eka bisa menangkap maksud dari apa yang tengah ia ‘ingat-ingat’.

“Saya pesan kepada kalian, tolong kalau ada kendala kaitannya dengan perkuliahan, sampaikan saja ke dosen masing-masing. Yang terpenting adalah komunikasi dengan dosen. Tidak boleh pasif karena yang tahu apa yang kalian butuhkan ya diri kalian sendiri. Jadi, komunikasikan kepada mereka, apa kendala yang kalian hadapi selama mengakses perkuliahan sebagai mahasiswa Tunanetra…” kata-kata itu meluncur deras dari bibir Suryandaru, seorang bapak satu anak yang menjabat sebagai ketua pada organisasi yang Eka ikuti bersama Ari, teman sekelasnya yang juga tak memiliki obor di bola matanya.

Piringan hitam itu terhenti, tepat berbarengan dengan Lenka yang tak lagi bersuara. Sejurus dengan itu, Eka kembali ke alam sadarnya. Ia kembali dikuasai oleh amarahnya meski beberapa detik berlalu, ia sempat melupakan amarahnya dan tenggelam bersama ingatan masa lalunya. Nafasnya memburu, persis seekor banteng yang tengah bersiap menghujamkan tanduknya pada kain merah yang dibawa sang matador.

“Komunikasi…seharusnya ampuh, tapi buat dosen satu itu, sama sekali gak ampuh!” Eka menyemburkan kata-kata itu ke udara. Percikan kata-kata bernada amarah itu mengenai benda-benda mati yang dulu sempat jadi saksi bisu percakapan di antara dua anak adam dan hawa yang nyatanya kini percakapan itu menyulut amarah gadis berlesung pipi bernama Eka.

Star star star

“Gimana, mas, kamu udah ngehubungi beliau? Terus gimana hasilnya? Ada jalan keluar buat tugas kita ini kan? Kamu dapet soft file nya kan? Atau kita dikasih tugas pengganti? Apa…apa…apa mas hasilnya?” Eka memborbardir sahabatnya di telepon.

“Sabar dong! Nyerocos aja nih. Kalau ngomong tuh pelan-pelan dong!” pemuda bernama Ari yang kerap disapa ‘Mas’ oleh Eka itu berkomentar. Eka mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Bukan…bukan untuk bungkam dan menuruti apa yang Ari katakan, tapi ia begitu karena sebal sebab disuruh diam padahal berjuta pertanyaan dan rasa penasaran bergelayut di pikiran Eka.

Ari diam, Eka pun diam. Bibir Eka benar-benar terkatup, sama sekali tak ada celah disana. Meski begitu, meski tak ada satu pun kata yang keluar dari bibir Eka, meski udara sekali pun tak berani menyelusup mencari celah untuk keluar lewat celah di bibir Eka, tapi sebetulnya gadis itu berteriak-teriak dalam hatinya; berteriak agar Ari cepat menjelentrehkan segala jawaban atas rasa penasaran Eka. Tapi ternyata? Ari diam, tak ada suara yang keluar. Nampaknya pemuda itu kesal pada gadis yang sudah lama dekat dengannya itu. Sejak mengenal Eka lebih dalam, Ari memang tak begitu menyukai tabiat Eka yang cerewet yang suaranya mengalir deras dan cepat seolah tak ada tanda titik atau pun koma saat Eka mengucapkannya.

“Ehem…” Eka berdehem meski tenggorokannya sebetulnya sama sekali tak gatal. Hanya saja, ribuan pertanyaan di otaknya melonjak-lonjak tak karuan, menuntut jawaban, dan ujung-ujungnya membuat kulit kepala Eka gatal. Tapi entahlah, gatal di kulit kepala mengapa Eka justru berdehem seolah tenggorokannya lah yang sedang gatal.

“Hey, buruan jawab! Buruan! Buruan!” Eka mengomel dalam hati. Sampai detik kesekian, Eka masih belum berani mengeluarkan kecerewetannya.

“Ehem…” Eka berdehem sekali lagi. Kini batuk yang dibuat-buat itu terdengagr lebih keras. Sekali lagi kita harus tahu, gadis itu sedang tidak gatal di tenggorokan, tapi ia sedang penasaran, dan batuk itu, batuk yang dibuat-buat itu sebetulnya sinyal yang ia lemparkan pada pemuda di ujung telepon yang sepertinya tak terlalu sensitif untuk permasalahan urgent bagi Eka ini.

Eka benar-benar tak sabar. Ada apa dengan pemuda di ujung telepon itu? Eka terus bertanya-tanya, dan itu membuat kulit kepalanya semakin gatal!

“Mas! Buruan dong jawab! Apa yang kamu dapet!?!”

Pecah sudah kebungkaman Eka. Pertahaanannya jebol. Ia tak sanggup, sungguh tak sanggup lagi bila harus berlama-lama mengunci mulutnya. Ia tak lagi peduli dengan amarah yang mungkin saja ia dapat dari Ari, pemuda yang memang tak menyukai suara Eka. Bukan, bukan suara, tapi gaya bicara Eka yang cerewet yang sama sekali jauh dari kata ‘kalem’ dan kerap membuat gendang telinga Ari serasa mau pecah!

“Bisa gak sih ngomongnya pelan dikit?” bukannya menjelentrehkan jawaban atas pertanyaan yang melonjak-lonjak di balik tempurung kepala Eka, Ari justru menyuruh gadis itu menurunkan volume suaranya. Mendengar hal itu, Eka kembali manyun, sementara tangan kirinya yang kosong tak menggenggam apa pun ia gunakan untuk meremas-remas seprai kasurnya. Dari remasan tangan Eka, nampaknya ia sedang jengkel karena Ari tak kunjung memberitahunya perihal kabar yang telah ia nanti-nanti sejak semalam.

“Ehem…” kini gantian Ari yang berdehem, tapi deheman Ari tidaklah dibuat-buat. Tenggorokannya memang tengah gatal.

“Begini…” Ari mulai melontarkan satu kata yang Eka tahu betul kata itu akan mengantarnya pada jawaban yang ia tunggu-tunggu. Tubuh Eka seketika terpelanjat dan tegak berdiri. Ia benar-benar antusias menunggu kata-kata Ari selanjutnya. Dari ekspresinya, gadis itu tengah mengharap kabar baik, meski terkadang di dunia ini harapan tak selalu berjalan beriringan dengan kenyataan. Dan Eka lupa akan hal itu!

“Semalem aku udah ketemu beliau…” suara Ari tertahan. Tak ada kata-kata selanjutnya, dan yang terdengar hanya bunyi kasak-kusuk. Eka kesal dan bertanya-tanya perihal apa yang tengah pemuda itu lakukan di tengah-tengah pembicaraan yang Eka anggap serius meski bagi Ari sama sekali tak serius.

“Terus? Terus gimana? Terus beliau bilang apa? Terus terus?” penyakit cerewet Eka kambuh lagi. Ia kembali tak sabar menunggu Ari yang entah sedang apa. Eka tak sama sekali tak kuasa menahan mulutnya untuk tidak berkata-kata meski hanya satu atau dua menit.

“Kita disuruh cari e-book nya. Gak ada jalan keluar lain selain cari e-book nya..”

“Apa? Cari e-book? Ah, kan udah dicari, dan hasilnya nihil!” Eka nyerocos tidak puas dengan apa yang dilontarkan Ari.

“Mau gimana lagi, orang disuruhnya begitu...”

“Masa iya sih kita harus beli trus scan itu buku. Parah!” gerutu Eka.

“Tau deh! Pasrah aja lah!”

Kata-kata Ari mengakhiri pembicaraan singkat lewat telpon. Eka kembali bersungut-sungut. Nampaknya amarah yang ia miliki terhadap dosen itu pun masih membara. Benci kah dia? Tidak nampaknya, hanya saja ia kesal dengan apa yang ia dapat. Namun ia kembali merenung bahwa menjalani hari-hari sebagai mahasiswa tunanetra tidaklah semudah membalikan telapak tangan, maka wajar saja jika sekarang ini ia menjumpai kerikil yang menusuk kakinya.

“Jangan emosi, Eka. Jangan emosi. Baru segini doang...” kata gadis berlesung pipi itu mencoba menghibur diri sendiri.

“Jangan selalu berharap orang lain mengerti kamu, Eka. Cobalah memahami mereka juga...”

“Gak mungkin ada dosen yang benci atau mencoba bikin kamu kesusahan, Eka..”

“Semangat...jangan menyerah hanya karena tugas ini...”


Diposting juga di Facebook pribadi

AWAS BAHAYA BALAS DENDAM BERKADAR 5%



Senin, 29 Juni 2015, pagi-pagi di kamar kos...

“Bikin cerpen itu enak, empuk-empuk nyemek gimana gitu, tapi ya sulit dijalani”

Kayaknya kalimat di atas bisa jadi kutipanku pagi ini. Ya, aku emang lagi ngubek-ngubek Google buat nyari referensi cerpen tugas “Creashit Writing”, oppsss, maksudku “Creative Writing”. Jujur rada males sih sebenernya nulis cerpen kali ini. Kenapa? Ya tentu aja karena berbahasa Inggris dan temanya itu lho, gak nahan. Yep, tema cerpen tugas ini adalah....adalah...adalah...*Penasaran ya?*

“When I met an Alien”

Nah, itu dia temanya. Asyik kan? Yep, asyik sih, tapi asyik buat bapak dosen yang kasih tugas cerpen ini, tapi buatku yang daya imajinasinya gak lebih gede dari upil nyamuk ini rasanya pengen banget berdiri di pinggir jurang dan berkata, “Bang, aku sakit perut. Boleh pup di jurang ini gak?” *Hahahah alay*

Ilustrasi jurang itu tuh maksudnya aku gak nahan banget sama tugas cerpen ini. Sulit, Bo, sulit sangat deh. Coba kalau temanya Cabe-cabean, aku pasti semangat bikinnya *Maklum mantan cabe-cabean ahahhaah*

Well, akhirnya aku sumpek deh ngudek-ngudek Google yang mukanya ngebosenin banget, kayak guru Bahasa Mongol pas aku SD *Pertanyaannya, emang ada gitu pelajaran Bahasa Mongol pas SD? Hahahah*. Intinya tuh aku bosen, ya bosen akut deh! Akhirnya aku relain deh buka tab baru dan nyampah di Facebook plus ngepoin cowok-cowok di jejaring sosial sepanjang masa itu.

Pas lagi asyik-asyiknya ngupil, eh maksudku ngusil di komentar foto temen, eh HP BB *Bau Badan ahahahah* berdering.

“What would I do without your smart mouth...”

Tuh lagu sepanjang masa “All of me” berdering di HP-ku. Deg, aku kaget dan gak bertanya-tanya sih soalnya aku tahu siapa yang punya dering telepon itu. Maklum deh aku biasa kasih nada dering beda-beda gitu tiap kontak di HP-ku. Semisal ada 300 kontak, ya aku pasang 300 lagu buat masing-masing kontak. Keren kan? Yep, tentu keren sampe-sampe aku lupa and ketuker-tuker. Makanya buat temen-temen cowok, jangan heran ya kalau tiba-tiba aku bilang, “Cin, gue pinjem pembalut loe dong. Kehabisan nih!”. Bukan sengaja, Bro, tapi emang salah tangkep pas nelpon!

“Hallooo...” aku mengembek dengan suara nyemek-nyemek pedes *nah lho, gimana tuh suara nyemek-nyemek pedes?*.

“Halloooo...” suara di ujung sana juga ikutan mengembek.

“Piye...piye...ada apa?* kataku.

“Kamu udah ngerjain tugas bikin cerpen? tanya Mas Kamboja *sebut saja begitu*.

“Belum...” kataku singkat.

“Kenapa, kok belum?”

“Males aja. Males kalau bikin cerita harus googling cari referensi. Bikin perut mual...” jawabku sekenanya.

Belum sempat ada obrolan selanjutnya, Om JAWS (nama screen reader di laptopku) mengembek genit. Embekan si Om JAWS rupanya mancing rasa penasaran si Mas Kamboja. Alhasil dia tanya, “Lha itu lagi ngapain?”

“Lagi nongki-nongki cantik di closet” gitu kataku dalam hati.

“Lagi googling, sambil Facebook-an. Pokoknya males deh ngerjain cerpen” timpalku sambil mencet-mencet keyboard laptop.

“Gini lho, kalau nulis cerita trus ada...” suara Mas Kamboja hilang kayak radio yang mau ganti frequensi.

“Belebek blebek blebek blebek blebek blebek blebek blebek...” suara Mas Kamboja berubah blebek blebek blur di bagian belakang. Yang kedengeran Cuma blebek blebek blebek kayak kambing sendawa di dalam kolam ikan.

Wah, suara blebek apaan tuh?

Jujur ya, itu Cuma kreatifitas penulis note ini. Sebenernya aku gak tahu si Mas Kamboja ngomong apa alias gak merhatiin pas dia ngomong, makanya aku tulis blebek blebek blebek sebagai tanda gak tahu harus nulis apaan *gaje hahahaha*.

“Hahahahahahaaa....” aku malah ketawa. Ketawa bukan karena denger suara kambing sendawa, tapi ketawa karena Mas Kamboja tanya soal cara nulis cerita. Amazing gitu lho. Sedetik setelah aku ketawa, tepat ketika bibir atasku nyentuh bibir bawah alias mengatup abis ketawa, aku kepikiran ide jahil. Hmm, kalau boleh jujur, itu gak sepenuhnya ide jahil, tapi ada juga dendam kesumat *iiihhh ngeri*. Tapi tenang aja, dendam kesumatnya Cuma berkadar 5%, jadi gak memabukan. Serius gak memabukan? Yep, kayaknya sih gak, palingan efeknya bikin orang ngumpat-ngumpat hahahah.

“Baca dong...makanya baca tulisan-tulisanku. Sana baca, jadi bisa tahu cara penulisannya kayak gimana...” jebret, aku ngomong gitu. Kupikir si Mas Kamboja gak respon parah, tapi nyatanya gak gitu.

“Gini aja, kamu order ke aku aja gimana? Lima puluh ribu deh cukup. Mau gak?” godaku.

“Gak, aku gak mau. Kamu tukang bohong. Dulu pas ngajak aku ambil matkul Creative Writing katanya mau bantu, tapi sekarang malah ngorder...” katanya jutek.

“Hahahahah...” aku malah ketawa. Ngerasa pengen bilang, “Syukurin loe! Susah kan masuk CW?”

“Kenapa malah ketawa? Kalau gak mau diajak ngomong ya bilang...” si Mas Kamboja ngembek asam pedes gitu, tapi aku malah terus ketawa, ngekek ngikik cekekek cekikik.

“Ya udah deh kalau gak mau diajak ngomong. Malah ketawa gitu!” dia ngomong lagi, ya udah aku malah ketawa lagi, tambah ngekek malah.

“Ya udah, aku matiin telponnya...” ancam si Mas Kamboja. Aku masih ketawa trus bilang, Iya iya, mau tanya apaan?”

“Ya tadi itu, cepet jawab!” aku malah ketawa lagi. Trus Mas Kamboja kayaknya tambah kesel.

“Ya udah tadi itu aku tanya apa...”

“Aku gak denger, Mas, gak merhatiin pertanyaan kamu. Sumpah deh. Coba ulang lagi...” kataku jujur sejujur-jujurnya sambil masih cekikikan.

“Gak mungkin kamu gak denger. Cepetan jawab...”

“Serius aku gak merhatiin pertanyaan kamu...”

“Ya udah lah...”

Pip! Dia matiin telponnya. Aku masih cekikikan, nahan ketawa dan nahan laper *Maklum lagi puasa*. Aku geleng-geleng kepala lihat tingkah jahilku ke dia, tapi puas juga sih bikin dia ngambek. Tapi...tiba-tiba...ada angin berhembus kencang menerpa wajahku *kipas angin tuh*. Wush wush wush seiring angin yang menderu, muncul sesosok pria bergaun putih dengan jepit merah jambu di kepala.

“Cin...puasamu gak afdol tuh! Kamu ngusilin orang! Sadar, Cin...” dia mengembek manja gitu. Aku belum mau respon, masih nunggu aja gimana kemanjaan cara ngomong tuh sosok bergaun putih.

“Cin, kamu sadar gak sih itu si Kamboja butuh bantuan kamu? Kenapa gak bantu? Masih kesel gara-gara tragedi antara kalian belakangan ini? Apa gimana sih? Gak boleh gitu, Cin...” Lanjut si sosok yang sebut saja namanya “Angelwati”.

“Ya, gue kesel! Gue kesel dengan apa yang udah dia lakuin ke gue belakangan ini. Gue sakit. Gue terhina. Gue gak dianggep...” kataku sok merana.

“Cin, udah sih, gak boleh balas dendam gitu. Gak baik. Kalau dia minta bantuan, ya dibantu, jangan dijahatin. Inget juga apa yang udah dia lakuin ke kamu. Dia sering bantu kamu juga. Iya kan, Cin?”

“Tapi...sakit...gue sakit...giliran butuh aja nyamperin gue, tapi kalau gak, gue rasa gue gak berguna dan jadi sampah...”

“Ssssttttt, gak usah curcol di note ini. Gak baik buat hati, ok?” kata si Angelwati sok bijak.

“Gini deh, Cin, sekarang coba kamu kontak dia dan tanya apa yang dia butuhin terkait tugas cerpen kalian. Ok?” aku pun mengangguk.

Pip pip pip, aku mencet beberapa tombol. Gak lama setelah itu, telponku tersambung...

“Halloo...” kataku.

“Gimana tadi, mau tanya apa? Lanjutku.

“Ya udah tinggal jawab aja...” jawabnya bikin aku gak ngerti.

“Iya, tapi tadi kamu tanya apa. Aku gak merhatiin...” timpalku.

“Udah deh, cepetan jawab. Gak usah pura-pura...”

“Lho...gimana aku mau jawab kalau pertanyaannya aja aku gak tahu. Tadi kamu mau tanya soal penulisan apa? Tanda baca apa gimana?”

“Udah pinter aja sombong, gak mau bantu!” bledak, jlep, dia ngeluarin kata-kata yang gak banget. Aku jadi esmosi nih!

“Kan aku gak tahu, gimana sih. Ya udah kalau gak mau tanya...” kataku dengan akhiran bunyi bip tanda telpon berakhir.

Well, gitu aja sih cerita pagi tadi. Tapi jujur banyak moral value yang kudapat sih. Pertama, balas dendam sekecil apapun kadarnya, tetep gak boleh dan bisa bikin siapa aja yang jadi objeknya mabok gitu. Lihat kan cerita di atas, meskipun kadar balas dendam Cuma 5%, efeknya lumayan ngeri. Kedua, gak usah ngusilin orang pagi-pagi. Lihat kan efeknya, jadi pada bete dan ya jadi ada yang update di status kan. Ga sehat ah begitu! Ketiga, kalau ada yang minta bantuan, bantuin dong, jangan malah diusilin. Ya mungkin pembelaan dari si pelaku adalah, “Gue pengen dia ngerasain gimana rasanya dicuekin dan gak dianggep”, tapi itu tetep salah karena masih termuat unsur balas dendam juga di dalamnya. Gak baik ya, gak baik tuh! Keempat, dari sisi si korban, ya ada baiknya intropeksi diri dan ya gak ada salahnya ngerasain gimana rsanya gak dianggep sama orang lain, dicuekin, dianggap upil nyamuk, ya biar tahu gimana sakitnya. Untung itu Cuma keusilan si pelaku, jadi ya gak begitu jlep *Kayaknya*. Coba kalau jadi si pelaku dengan segala traumatik yang dia rasa, weleh weleh pasti gak sebanding deh *apaan sih? Ahahha*.

Well, soal tugas cerpen, tahu deh gimana nasibnya. Semoga aja si Mas Kamboja bisa dapet nilai bagus, mungkin lebih bagus dari aku yang katanya “Pinter tapi sombong” ini. Tapi...jujur aku gak ada maksud sombong, apa lagi sombong masalah tulisan dan kepenulisan yang notabene sakral buat penulis amatir kayak aku *apaan sih? Hahaha*. Tapi ya sudah lah kalau interpretasi kdia kayak gitu...

Good luck for your exam!
Diposting juga di Facebook pribadi

Jumat, 17 Juli 2015

YANG BUTA ATAU YANG PUNYA MATA, ORANG TUA ATAU CINTA, PILIH YANG MANA?

Kemarin, ketika aku baru dipersunting Glaukoma dengan mas kawin sebuah ketunanetraan, aku merasa diriku kerdil dan tak berguna. Mau jadi apa, sama sekali tak punya gambaran. Mau melakukan apa, juga sama saja, tak ada gambaran. Lebih-lebih bila ingin bicara soal cinta-cintaan. “Mana ada cowok yang mau sama aku si Tunanetra ini!”, begitu komentarku ketika bayangan akan cinta dan rumah tangga melintas di benakku.  Miris memang. Tapi itu fakta yang melanda diriku ketika itu, ketika dunia terasa hancur dan menghimpit aku yang jadi buta karena penyakit “Gila” bernama “Glaukoma”. Segala sesuatu yang ada di dunia ini seolah bukan buat aku. Segalanya hanya buat mereka yang punya “Mata”. Betul…itu betul…itu memang pikiranku ketika itu. Aku tak pernah bisa membayangkan akan ada cowok yang punya gairah mempersuntingku. Parah memang, seolah-olah aku mengingkari kalimat “Jodoh, maut dan rezeki ada di tangan Tuhan”. Tapi mau apa dan bagaimana lagi??? Ketika itu diriku memang tak hanya buta secara fisik, tapi juga buta informasi soal kehebatan Tunanetra.  Hey, wake up! Yang kutulis tadi adalah aku yang dulu, dimana aku benar-benar kerdil dan tak punya “Selling point” heehehe. Tapi seiring berjalannya waktu, seiring terangnya duniaku berkat orang-orang hebat yang menginspirasiku, termasuk Kartunet, aku tak lagi kerdil. Aku bangkit dan kubangkitkan pula percaya diriku. Lalu hasilnya? Ada beberapa cowok yang naksir aku tanpa peduli aku buta hehehe *narsis*. Ya, semua itu berkat percaya diriku yang tumbuh. Bukankah ada orang bilang kalau percaya diri bisa merubah wajah jelek jadi cantik? Merubah badan gemuk jadi langsing singset? Merubah si pendek jadi tinggi semampai? Heheheh..teori dari mana ya itu?? Ya, yang jelas percaya diri adalah sumber gerakanmu. Kalau sudah punya rasa percaya diri, maka ketika bergerak pun tak kan jadi soal.  Tapi..tahukah apa pikiranku kemudian??? Aku percaya diri, aku tak peduli lagi dengan label Tunanetraku, tapi orang lain???? Ketika kujalin hubungan dengan lawan jenis yang kebetulan sejenis denganku (Tunanetra) heheeh, timbul obrolan di antara kami. Tapi yang kutahu, kami berdua tak menyoal tentang sepasang Tunanetra yang akan hidup bersama. Dengan kata lain, dia tak peduli dengan kondisiku, begitu pun denganku karena aku pribadi mengganggap bahwa Tunanetra dan orang awas sama saja, sama-sama bisa akses informasi, memberdayakan dirinya di bangku pendidikan maupun pekerjaan, dan lain sebagainya. Kalau sudah begitu, terus mau apa lagi??? “Pacaran sama sesama Tunet, gak masalah tuh!” itu saja kalimat yang bisa kulontarkan bila obrolan soal “Cinta diantara Tunet” itu menyeruak.  Tapi…seiring berjalannya waktu. Penolakan itu datang! Bencana! Benar-benar bencana! Itu yang kupikirkan. Betapa tidak, dengan sama-sama menjadi penyandang Tunanetra saja masih dilarang, lalu harus bagaimana? Kalau dahulu, ketika aku masih baru-barunya jaddi Tunanetra, cintaku terhalang karena cowoku tak mau punya pacar buta, tapi sekarang?? Haruskah terulang lagi penolakan itu? Bukan kah cowokku yang sekarang sudah sama-sama Tunanetra??  Wajar mungkin. Ya, penolakan itu mungkin wajar adanya, lebih-lebih bila orang tua yang melakukannya. Mungkin orang tua yang punya anak Tunanetra merasa anaknya perlu mendapat pasangan yang bukan Tunanetra agar dapat meringankan kegiatannya, tapi adilkah itu? Apakah cinta harus dibatasi dengan hal-hal semacam itu? Omong kosong! Menurutku, bila ada seseorang yang sudah sebegitu dekat dengan Tunaneta, lebih-lebih orang tua, hrusnya tahu kemampuan Tunanetra bahwa Tunanetra itu tak ada beda dengan orang-orang berpenglihatan awas. Kurasa dengan ditolaknya ‘calon mantu’ yang juga Tunanetra merupakan pelemahan terhadap Tunanetra, atau dengan kata lain orang tua tersebut tidak mengakui bahwa Tunanetra itu punya kemampuan dan mampu mendayung bahtera rumah tangga bersama.  Tapi tunggu dulu…  Jangan-jangan analisaku itu salah. Jangan-jangan karena sudah sangat tahu tentang Tunanetra, orang tua tersebut jadi perlu menyusun strategi agar anaknya bahagia dengan pasangan yang bisa mengantar ke pasar, ke food court, ke mall, atau mungkin ke tempat kerja?? Ya, mungkin begitu. Jadi, Tunanetra memang tidak boleh dengan sesama Tunanetra??? Ya, sepertinya begitu. Bukankah kalau sepasang Tunanetra hidup bersama, kasihan putra-putrinya kelak??? Begitu kah???  Tapi akal sehatku benar-benar belum bisa menerima semua itu!!  Adakah yang salah bila sepasang Tunanetra hidup bersama, punya keluarga dan membesarkan putra-putri bersama???  Tak ada masalah kan???  Tunanetra itu hebat, benar-benar hebat. Mereka dapat melakukan segalanya, meski memang ada beberapa hal yang perlu dibantu. Tapi ‘perlu dibantu’ bukan berarti harus punya pasangan yang bukan Tunanetra kan??? Kalau memang alasan mencari pasangan yang bukan Tunanetra itu demi kemudahan mobilitas, lebih baik cari saja tukang ojek untuk dijadikan pasangan. Atau mungkin bisa mencari baby sitter untuk pasangan??  Please…hidup tidak hanya menyoal tentang mudah atau sulitnya aktivitas!!  Kenapa sih masih meragukan Tunanetra??? Bukan kah para orang tua yang punya anak Tunanetra bangga terhadap anaknya? Kenapa masih meragukan kemampuan Tunanetra lain?? Kalau Tunanetra lain diragukan, apa itu sama dengan meragukan pula kemampuan anaknya yang juga Tunanetra?  Kenapa pasangan Tunanetra harus dilarang? Takut memiliki anak yang sama-sama Tunanetra? Kalau si orang tua menjadi Tunaentra bukan karena genetiks, masihkah larangan itu ada??  Benar-benar tak habis pikir. Tolong berikan alasan yang logis buatku agar aku bisa menerima pernyataan ‘Tunanetra harus punya pasangan bukan Tunanetra’! Kalau alasan yang diberikan hanya berkutat pada kemudahan aktivitas seperti mobilitas, aktivitas mengurus rumah tangga dan anak, serta alasan serupa lainnya, kurasa sudah tak mempan buatku. Adakah alasan lain??  Sudah sejak itu, sejak aku kenal dia, si Tunanetra pria, aku dilanda tekanan perihal penolakan itu. Aku tahu hal itu bukan kelakar sebuah kebencian dari orang yang menolak, tapi mungkin itu karena keadaan. Tapi tidakkah persepsi orang tua tersebut diubah agar tak lagi ada larangan?? Kurang ajarkah jika seorang anak membantah orang tua yang melarang hubungan percintaan diantara Tunanetra? Dosakah? Bukankah pernikahan di antara Tunanetra tidak dilarang di kitab suci sehingga siapa saja yang melanggar (menikah dengan sesama Tunanetra) akan masuk neraka?? Sejauh pengetahuanku, tidak ada larangan seperti itu. Jadi, dosakah bila membantah orang tua yang melarang cinta diantara Tunanetra??  Telah banyak kisah tentang pernikahan diantara sesama Tunanetra. Telah banyak pula pernikahan diantara Tunanetra dengan bukan Tunanetra. Kedua pasangan itu sama-sama menghadapi masalah, sama-sama bisa menyelesaikannya juga. Sebetulnya hal itu tergantung dari individunya masing-masing. Jadi, perlukah larangan pernikahan diantara sesama Tunanetra??  Beberapa kali kutanyai teman-teman Tunanetraku baik cowok maupun cewek. Komentar mereka bervariatif. Ada yang mengatakan bahwa Tunanetra harus punya pasangan awas agar lebih mudah melakukan aktivitas, tapi tak sedikit juga yang justru memilih psangan sesama Tunanetra dengan alasan agar tidak dibohongi. Lucu juga. Ternyata sebagian teman-teman Tunanetraku yang memilih pasangan Tunanetra termakan oleh info soal Tunanetra yang dibohongi oleh pasangannya yang bukan Tunanetra. Menurut kawan-kawanku itu, kemungkinan pasangan selingkuh itu besar kalau kita punya pasangan awas. Hmm, tapi argumen itu belum sepenuhnya benar sih menurutku. Kalau aku pribadi, sebetulnya tak jadi soal akan mendapat pasangan awas maupun Tunaentra, karena yang menilai semua itu adalah hati. Begitu menurutku. Jadi, jika sekarang ini adalah Tunanetra yang bisa memikat hatiku, tak apa kan? Tapi, cinta tak hanya antara dua orang, melainkan cinta itu perlu keluarga. Kalau keluarga tak merestui, mau bagaimana????  Adakah solusi bagi kami yang tertekan dan terganjal masalah restu karena label Tunaentra yang dimiliki???  Jujur, aku tertekan bila harus mendengar kalimat-kalimat bernada sumbang soal hibungan diantara sesama Tunanetra. Entahlah antara ingin membantah atau pasrah. Mau membantah pun kurasa sulit karena orang tua adalah orang tua dimana seorang anak lahir karena perantara mereka, lebih-lebih seorang ibu. Dan masalah akan lebih pelik bila yang melarang itu adalah ibu. Dilema kan? Ibu adalah seseorang yang merawat anaknya dengan penuh kasih sayang bahkan lebih dari aya sekalipun. Seorang ibu akan merasa sedih bila melihat anaknya yang Tunanetra menabrak benda. Lalu bagaimana bisa anaknya yang dirawat sedemikian rupa itu jatuh ke tangan seseorang yang juga memiliki masalah dengan penglihatan?? Aku maklum sebetulnya. Lalu lebih baik pasrah? Hmm, kalau pasrah, bisakah hati menerima semuanya dan lapang dada? Adilkah itu??  Menurut teman teman, baiknya bagaimana bila ada kasus penolakan dan tak adanya restu dari orang tua terhadap cinta diantara Tunanetra? Membantah atau pasrah???

Diposting juga di kartunet.com dan facebook pribadi "Eka Pratiwi Taufanty"

Selasa, 14 Juli 2015

ANGGI, MY GUARDIAN ANGEL :)



“Kayaknya orang-orang yang deket sama kamu kalah pamor sampe-sampe gak kuat and pilih dropout dari kampus deh!”
Begitulah kelakar yang dilemparkan oleh temanku di sela-sela aktivitas kongkow lepas tawa yang kerap kami lakukan. Aku tak pernah ambil pusing dengan kelakar itu, karena itu tak lebih dari sekedar kelakar. Pantang bagi kami membawa kelakar di tempat tongkrongan ke kasur impoten di kamar kos. Tapi sesuatu yang menempel di batang otakku seolah geli dengan kalimat itu dan mencoba mengorek ada makna apa di balik kalimat yang sejatinya hanya kelakar.

“Masa iya sih aku penyebab teman-teman dropout dari kampus?”

Tanyaku sesekali meluncur entah ketika nongkrong atau ketika melamun di kamar kos.

“Iya…temen-temen ngerasa kalah pamor sama kamu, Bloh! Mereka gak kuat temenan sama kamu. Kamu terlalu pinter!”

Begitu jawaban yang temanku lemparkan atas tanyaku. Tentu aku berontak mendengar pernytaan itu, meski kutahu itu hanya kelakar.

“Gak mungkin! Masa gara-gara aku sih!”

“Iya lho gara-gara kamu. Coba deh kamu hitung mulai dari Anggi, Rina, dan sekarang Yogi. Andin malah nyaris juga!” tawa meluncur diakhir kalimat.

Anggi…Rina…Yogi…ketiga sosok itu memang sahabat kentalku. Tak pernah kubayangkan sebelumnya mereka akan cabut dari kampus. Tapi fakta berkata demikian. Mereka telah lenyap. Mereka tak lagi silewaren di kampus, atau pun sekedar makan mie ayam Pak Kenyut. Ya, Anggi misalnya…kini tak Nampak lagi curhatannya tentang senior-senior kami yang bias jadi cool. Tak ada lagi Rina yang biasanya numpang tidur di kosku sekaligus guardian angel ketika aku butuh bantuan ke ATM. Atau mungkin Yogi…lelaki yang pendiam namun penuh petuah bijak. Mereka telah pergi, bukan untuk meninggalkanku tapi untuk masa depan di jalan lain, bukan di UDINUS.

Persahabatan kami tentu penuh warna. Ada suka, duka pun tak kalah menghias hari-hari kami di kampus. Semua benar-benar penuh warna dan terangkum jadi satu dalam sebuah ‘genk’ berjuluk ‘Firework’. Yap, kami yang berpersonil aku, Ari, Ical, Guspur, Anggi, Rina, Andien, dan Yogi, memang menyatu dalam tubuh ‘Fireork’ yang kami bentuk di awal semester satu.

Tapi kali ini, khusus kuceritakan kisahku bersama Anggi, si jangkung tipis dari Kudus. Kalau teman-teman Firework bilang, Anggi sama dengan Bella Saphira. Mirip kah? Hmm, mungkin tidak terlalu, tapi entahlah teman-temanku sudah hobby memanggilnya ‘Bella Saphira’. Gadis itu tepat kukenal ketika kami berada di awal kuliah di Sastra Inggris Udinus. Pertama kali aku mengenalnya ketika ia mengulurkan tangannya demi mengantarku ke kamar mandi ketika pelajran dimulai. Dari situlah aku mengenal sosoknya. Sejak saat itu persahabatan kami semakin kental. Dia selalu ada di samppingku, setiap saat dan dalam kegiataan apa pun. Ah, mengingatnya sungguh membuatku rindu!

Dari geriknya di sampingku, aku menilai bahwa dia tulus kepadaku. Bayangkan saja, mana mungkin ada orang yang bersedia menungguiku di toilet kala aku buang air? Mana ada orang yang rela berpanas-panas ria muter-muter mencari kos buatku?? Mana ada orang yang mau hujan-hujanan demi mengantarku pindahan kos?? Anggi, hanya Anggi yang mau melakukannya buatku!

Dari empat personil Firework yang berjenis kelamin perempuan, aku memang paling dekat dengan Anggi. Saking dekatnya, aku lebih nyaman dibantu baik ketika makan, berjalan dan sebagainya oleh gadis berambut panjang itu. Dia sudah mengerti Tunanetra, lebih dari teman-temanku lainnya. Tak hanya itu, kedekatan kami pun berlanjut sampai di kegiatan kampus. Kami berdua bersama-sama tergabung dalam UKM Pers Kampus. Banyak memori bersama, termasuk wara-wiri bersama. Dan dari kegiatan Pers kampus, ada cerita yang datang dari kami berdua.

Suatu malam di acara Pelatihan Jurnalistik Dasar yang diadakan UKM Pers Kampus, ketika yang lain terlelap beralaskan tikar, perutku justru tak dapat dikompromi. Rasanya aku ingin pergi ke toilet. Walhasil kubangunkan Anggi yang tengah damai dengan mimpinya. Awalnya aku ragu meminta bantuannya karena lazimnya orang yang tengah bergumul dengan mimpi enggan untuk bangkit, apa lagi mengantar orang lain ke toilet. Tapi hal itu tak berlaku padanya. Dia rela bangkit dan mengantarku. Lagi, dari geriknya lagi, aku dapat menilai bahwa Anggi tulus melakukan hal itu.

Cerita lainnya antara kami adalah ketika kami harus berjalan beratus-ratus meter demi menunaikan tugas sebagai peserta dalam PJD. Dalam ‘jalan malam’ itu, kami harus berpindah dari satu pos ke pos lainnya demi mengenal Pers kampus lebih dekat. Pada kegiatan yang berlangsung tengah malam itu, kami dibagi ke dalam beberapa grup, dan aku berada dalam satu grup dengan Anggi. Ah, dalam kegiatan itu aku benar-benar berterimakasih padanya. Betapa tidak, dengan perjalanan jauh semacam itu, sekaligus tenggorokan yang haus dan perut yang lapar, Anggi bersedia menuntunku dalam gelapnya malam! Amazing bukan?? Aku tahu, sangat tahu bahwa berjalan dalam keadaan lelah sangat menyulitkan. Jangankan menuntun orang lain, menopang diri sendiri saja rasanya ingin mati. Tapi Anggi, dia mau melakukan hal itu buatku!

Banyak hal yang telah kami lakukan bersama. Suka dan duka kami jalani bersama. Ia sahabatku, meski kami berada jauh sekarang. Ia tak peduli dengan kondisiku sebagai penyandang disabilitas netra. Dia tetap mau berada di sampingku, mengantarku ke toilet, mengambilkan makanan buatku, membetulkan laptopku ketika di kelas, dan banyak lagi hal lainnya!! Dari sosok Anggi aku belajar betapa ketulusan itu ada di tengah-tengah mahasiswa lain yang sibuk menata diri dalam pergaulan masa kini, dan seolah-olah tutup mata dengan temannya yang Tunanetra. Ketika yang lain menjauh, Anggi justru mendekat…itulah yang kusebut dengan ketulusan!
!

Note :
Tulisan ini kubuat udah lama. Aku lupa kapan tepatnya. Aku nulis tulisan ini karena dimintain tolong sama Mas Wahyu, seniorku di kampus :)
Tulisan ini juga kuposting di Facebook pribadiku :)