Senin, 10 Agustus 2015

DUKA TUNANETRA : AWAS BAHAYA OKNUM TUKANG OJEK!



Ditulis di kos Nakula Raya, tahun 2014...

Sekitar tanggal 13 Februari lalu, kosku dikagetkan dengan kedatangan seorang lelaki berseragam dosen kampusku. Lelaki itu datang seorang diri dan langsung menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana kamarku dan ebberapa kamar lainnya berada. Aneh sekali, bagaimana bisa seorang lelaki masuk ke kosku yang notabene terlarang untuk kaum adam??? Setelah dipergoki oleh salah seorang teman, lelaki itu mengaku sedang mencari kamar no. 14. Alamak, kamar itu kan kamarku. Namun an anehnya, setelah mengetahui kamarku, dia langsung cabut tanpa jelas apa tujuannya.

Hal tersebut tentu saja mengusik ketenangan seisi kos, lebih-lebih aku yang notabene mudah paranoid dengan hal-hal semacam itu. Maklum saja, sebagai seorang Tunaentra tentu aku tak dapat melihat situasi di sekelilingku, dan itu membuatku takut akan ada tindak kriminalitas di kosku.

Menurut cerita dari bebrapa teman, kejadian seperti itu sudah kerap terjadi. Biasanya orang yang kepergok langsung pura-pura cari kamar, setelah itu langsung cabut lagi. Hal semacam itu pun terjadi belum lama ini di kos-kosan tak jauh dari rumahku. Pasalnya, ada seorang lelaki kepergok masuk kos-kosan dengan membawa parang dan benda tajam sejenisnya. Dan ketika kepergok, dia mengaku sedang mencari seseorang, padahal orang yang dia cari tak ada di kos tersebut.

Ah, kalau bicara soal kriminalitas yang mengancam keselamatan perempuan, aku jadi teringat diriku sendiri yang notabene perempuan sekaligus tunanetra. Kenapa aku jadi teringat diriku sndiri?? Ya, tentu karena aku pernah menjadi korban, korban pelecehan lebih tepatnya.

Siapa pun orangnya, entah Tunanetra atau pun orang awas, memiliki kemungkinan menjadi korban kriminalitas atau pun pelecehan. Fakta di lapangan pun ternyata berkata demikian. Selain aku yang pernah mengalami pelecehan, ternyata teman-teman peremppuan lainnya pun mengalami hal serupa. Dari pengalamanku itu, akhirnya aku tergelitik untuk bertanya pada teman-teman Tunaentra perempuan Tunanetra baik yang ada di sekitarku atau pun yang ada di luar kota. Ternyata pengalaman teman-teman lain juga cukup variatif dan cukup mengerikan. Aku sempat bergidik ketika mendengar curahan dari teman-teman yang mengatakan “Ada yang sampai hamil lho!”

Astaghfirullah…aku langsung istighfar dan mengelus dada. Kenapa para pelaku itu tega berbuat demikian pada perempuan, apa lagi Tunanetra. Dimana kah hati dan nurani mereka? Apakah karena perempuan Tunaentra dianggap lemah???

Yuk gimana kalo coba menyimak pengalamanku kaitannya dengan keselamatan sebagai seorang perempuan yang juga Tunanetra?!? Tapi sebelumnya aku informasikan bahwa tulisan ini tak bermaksud menakut-nakuti atau mengecilkan hati para perempuan Tunaentra ya. Aku sekedar sharing informasi yang aku harap dapat menjadi kaca agar ke depannya perempuan Tunanetra lebih berhati-hati lagi dalam melakukan aktivitas.

Pengalamanku ini terjadi pas aku semester 1 dulu. Ketika itu aku belum tinggal di rumah kos, melainkan tinggal di rumah orang tua angkatku di daerah Semarang selatan, di kabupaten Semarang sih lebih tepatnya. Bila sudah mepet jam masuk kuliah, biasanya aku memakai jasa ojek agar tak perlu lama menunggu Bis yang hobinya ngetem. Dan kebetulan di sekitar tempat tinggalku itu ada ojek yang beberapa kali kumintai jasanya mengantarku ke kampus. Abang ojek itu berusia tak jauh beda denganku, tapi dia sudah memiliki seorang istri.

Beberapa kali aku menumpang motornya, tak ada gelagat aneh; tak lebih dari SMS ‘gak jelas’ yang melayang tiap malam menjelang tidur. Kupikir SMS dia itu hanya iseng, pasalnya dia sudah memiliki seorang istri, tak mungkin dia benar-benar menyukaiku. Kebetulan waktu itu dia mengirim SMS layaknya pengemar kepada idolanya. Sebetulnya aku risih dengan SMS itu, tapi aku hanya menyikapinya dengan tak bereaksi alias diam tak membalas SMS-nya.

Hari demi hari berlanjut. SMS ‘gaje’ alias ‘gak jelas’ itu terus mampir ke Handphone-ku. Tak hanya itu, semakin hari dia semakin berani memintaku duduk ‘mepet’ dengannya ketika berada di motor. Kesal! Tentu aku kesal mendengar permintaannya itu, tapi aku Cuma diam tak peduli dengan alasan dia yang menyatakan bahwa permintaannya itu semata-mata karena menjaga keseimbangan laju kendaraannya. Tapi, ada suatu hari dimana kesabaranku telah mencapai puncaknya.

Suatu sore ketika aku hendak ‘pindah rumah’ dari rumah orang tua angkatku menuju rumah kos, insiden tidak menyenangkan itu terjadi. Ketika itu aku memang memutuskan untuk kos karena Alhamdulillah kondisi ekonomi keluargaku sudah agak mendingan shingga orang tua kandungku yang bekerja berjualan nasi di luar jawa mampu membiayai kosku. Dalam proses memindahkan barang dari rumah orang tua angkatku menuju kos, aku memakai jasa abang ojek itu karena memang tak ada yang mengantar dan membawakan barang. Akhirnya, dengan cuaca yang mendung dan kurang bersahabat, aku pun melaju di atas sepeda motor si ojek tersebut.

Di perjalanan, hujan pun turun cukup deras. Alhasil motor yang kutumpangi pun berhenti di suatu tempat. Aku tak menaruh curiga ketika motor ojek itu terhenti karena kupikir paling-paling berhenti di pinggir jalan di depan toko atau bengkel karena umumnya orang yang berteduh melakukan hal tersebut. Tapi siapa sangka aku berada di tempat asing berupa rumah huni???

Ketika motor terhenti, aku hanya terpaku dengan helm yang masih terpasang di kepalaku. Aku tak melakukan apa pun kecuali mengotak-atik Handphone-ku. Lalu si abang ojek memintaku beralih dari pinggir motor menuju tempat lain yang lebih nyaman. Aku menolak, karena kupikir tempatku sudah cukup nyaman. Tapi dia terus meminta. Akhirnya aku pun bergerak.

Tak lama setelah berjalan, aku didudukan pada sebuah kursi. Lagi-lagi aku tak menaruh curiga. Kupikir tempat yang kudiami itu adalah emperan toko atau apa. Sambil menunggu hujan reda, kumainkan jemariku di atas keypad Handphone-ku. Tapi betapa terkejutnya aku ketika kudengar suara kurang pantas terdengar dari Handphone si abang tukang ojek itu. Usut punya usut si abang ojek sedang memutar video kurang pantas! Kontan aku langsung istighfar. Aku berusaha tenang, lebih-lebih ketika tangannya mencoba menyentuh salah satu pahaku. Langsung aku bergeser menjauh, tapi tak bereaksi marah. Ketika aku bergeser, dia ikut bergeser ke arahku, tapi video di Handphone-nya tersebut telah ia matikan.

Dimana aku sekarang ini??? Pikirku ketika itu. Segala macam perasaan campur aduk. Marah, kesal, jengkel, takut, dan tangan gatal ingin menampar orang itu pun berkecamuk dalam hati dan pikiran. Tapi aku berusaha menguasai keadaanku dengan tidak bereaksi marah atau memukulnya, karena aku berpikiran bahwa jika aku melakukan itu, aku takut dia akan lebih nekad kepadaku. Akhirnya, dengan dada yang berdegup kencang, aku berpura-pura menelpon temanku. Aku benar-benar berpura-pura ketika itu! Di dalam percakapan telepon itu, aku berpura-pura mendapat informasi dari temanku bahwa teman yang mengetahui alamat kosku akan segera pergi, sehingga aku harus segera datang. Alhasil dengan alasan yang kubuat itu, kupaksa si abang ojek untuk segera mengantarku.

“Mas, ayo kita langsung ke kos aja. Temenku mau pergi soalnya!” kataku dengan berpura-pura tetap tenang, padahal jantungku berdegup kencang sekali.

“Ini kan masih hujan, Mbak!” timpal si abang tukang ojek dengan video ‘Kurang pantas’ yang sudah dimatikan.

“Gak apa-apa, Mas, soalnya kalau temenku udah pergi, nanti siapa yang nunjukin kosku?” sanggahku masih tetap pura-pura.

“Ya udah deh kalau Mbak Eka maksa...”

Kami pun beranjak dari tempat duduk. Akhirnya aku pun berjalan menuju motor dengan upaya dia menuntunku, tapi tanpa pikir panjang aku langsung menolak niatnya itu dengan berjalan sendiri menuju motor. Dan ketika itu aku kaget karena kudapati dia mengunci pintu sebelum menghampiriku yang sudah berdiri di pinggir motor. Astaghfirullah, ternyata tadi aku berada di sebuah ruangan dan bukan berada di emperan toko atau apa.

Ternyata tindakan kurang senonohnya itu tak berhenti sampai disitu. Ketika sampai di kampus dan menungu temanku datang, dia berani bertindak kurang ajar! Dia berusaha menyentuh bagian terlarang. Untung saja niatnya itu tak berhasil karena aku langsung menangkis tangannya. Berbeda dengan sebelumnya, kali itu aku berani memarahi dia dan mengumpatnya karena di tempat aku berdiri adalah kawasan kampusku.

Ya kurang lebih begitu pengalamanku. Biasa saja memang, tapi buatku pribadi hal itu cukup mengguncang jiwaku. Betapa orang yang sebelumnya ‘sok alim’ dan ‘sok ngajarin agam’ kepadaku ternyata berkelakuan seperti itu! Apa yang ada dipikiran dia sebetulnya? Apa dia berpikir bahwa aku lemah? Bahwa aku Tunanetra?? Bahwa aku bisa dimanfaatkan??? Kesal, benar-benar kesal! Sejak saat itu aku tak lagi menggunakan jasa ojeknya, termasuk menggubris SMS dan telpon darinya. Cukup sudah cukup pelecehan yang dia lakukan!! Harga diriku terasa diinjak-injak!!

Dari pengalamanku itu, aku bisa mengambil hikmah yang bisa juga dijadikan tips untuk teman-teman. Mungkin jika nanti teman-teman ada yang mengalami hal serupa, kalau bisa jangan bereaksi marah atau bagaimana, pura-pura tidak tahu, karena jika kita bereaksi marah, dia bisa semakin nekad kepada kita. Selanjutnya, mungkin kita bisa mengirim SMS kepada teman tentang kondisi kita agar jika terjadi apa-apa dapat segera dilacak. Jika perlu, lakukan sedikit akting menelpon kepada teman hehehhee agar dapat terhindar dari tempat kita berada. Tips lainnya mungkin lebih aware dengan lingkungan ya karena aku akui bahwa aku kurang aware dengan lingkungan sampai-sampai aku tak tahu dibawa kemana! Tips lainnya mungkin bisa ditambahkan oleh kartuneters lainnya!

Oiya, untuk pengalaman dan cerita tentang perempuan tunanetra dan keselamatan bisa aku bagi di part selanjutnya ya! Thank you for reading!

-          Eka Pratiwi Taufanty –

Diposting pertama kali di web-nya Kartunet
Diposting juga di blog pribadi tulipe-imajiner.blogspot.com
Diposting juga di Facebook pribadi-ku

ON CAMPUZ : MEMBANGUN INDONESIA LEWAT HARMONISASI ALAM DAN KEHIDUPAN

Indonesia adalah bangsa yang penuh pesona. Telah menjadi garis dari sang kuasa bahwa Indonesia terlahir dengan beranekaragam corak warna. Dari Sabang hingga Merauke, terhampar berbagai corak warna bangsa kita yang tergambar pada penduduk juga alam nusantara. Namun beruntunglah Indonesia karena warna-warni yang ada, tak membuat perpecahan di antara kita, sebab Bhineka Tunggal Ika menjadi semboyan yang rekatkan penduduk bangsa. Dengan kata lain, “Unity in Diversity” itu nyata menjadi wajah bangsa dan tak jarang menarik perhatian penduduk dunia.

‘Menarik perhatian penduduk dunia’, tentu itu bukan hanya isapan jempol belaka. Sudah banyak mereka yang bukan warga negara Indonesia, mampir bahkan numpang ‘menanam’ pohon uang di tanah Indonesia. Dari sekian penduduk dunia yang tiba di Indonesia, sebagian besar adalah orang-orang yang menaruh minat pada pariwisata. Tentu hal itu tak menjadi heran bagi kita, sebab kembali kita ingat bahwa kekayaan alam menjadi salah satu warna nusantara.

Dari adanya minat serta perhatian penduduk dunia terhadap Indonesia, sejatinya dapat dijadikan kesempatan untuk membangun bangsa, dan justru bukan untuk menjadikan perkara. Coba kita lihat betapa banyak kekayaan alam seperti pantai, barisan pegunungan, bukit dan danau-danau tersebar di setiap penjuru nusantara. Sebagian dari kekayaan alam itu memang telah ‘go public’ atau dikenal secara meluas baik oleh penduduk Indonesia, atau bahkan penduduk dunia. Namun, tak sedikit pula dari serentetan kekayaan alam yang ada, masih perawan dan belum terjamah oleh manusia.

Sebagai contoh, Bali dengan deretan pantai terkenal seperti Kuta dan Tanah Lot, serta bukit-bukit menawan seperti Bedugul, telah sejak dulu menjadi icon pariwisata bangsa Indonesia. Hampir seluruh penduduk dunia mengenal Bali, bahkan kepopuleran Bali melebihi nama Indonesia sendiri. Banyak wisatawan dalam maupun luar negeri datang ke Pulau yang dikenal dengan pulau seribu candi. Hal itu tentu membawa keuntungan bagi negeri. Devisa negara tentu akan meningkat, nama Indonesia pun akan terangkat di mata dunia, dan tentu saja pengangguran menurun karena adanya lapangan pekerjaan pada objek pariwisata. Bila sudah demikian, perlukah berkata, “Sulit membangun bangsa” bila alternatif lewat pariwisata telah ada di depan mata?

Contoh lain atas kekayaan alam nusantara yaitu berada di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kawasan Puncak memang telah dikenal oleh penduduk Indonesia, khususnya penduduk di sekitar Bogor. Penduduk Kota Jakarta merupakan salah satu ‘pelanggan’ dari kawasan yang telah menjadi objek wisata tersebut. Tentu Puncak menjadi alternatif paling tepat bagi mereka yang penat dengan udara serta kemacetan ibu kota. Jika sudah demikian, apa yang terjadi di Bali pun terjadi di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Lapangan pekerjaan tersedia di kawasan tersebut, begitu pun dengan pemasukan untuk pemerintah daerah mengalir bagai air.

Meski demikian, masih banyak kawasan nusantara yang belum dikenal oleh wisatawan. Contohnya adalah kawasan yang terdapat tak jauh dari Pulau Bali, tepatnya di Pulau Penida. ‘Pasih Uug’, itulah nama dari pantai unik nan indah yang belum populer seperti pantai-pantai lainnya di Indonesia. Pantai Pasih Uug menjadi unik karena laguna dengan air jernih serta deretan tebing karang yang dimilikinya. Keunikan serta kacantikan Pantai Pasih Uug itu hendaknya dijadikan pula sebagai bahan pembangun bangsa. Seluruh elemen bangsa, khususnya instansi yang punya peran dalam hal pengembangan kekayaan alam nusantara, hendaknya berani merumuskan langkah demi mempopulerkan Pasih Uug menjadi bagian dari katalog wisata di Indonesia. Tak hanya Pasih Uug tentunya, melainkan tempat-tempat yang belum terekspolrasi pun diharap akan menyusul menjadi bagian dari pengokoh bangsa.

Pasih Uug di Pulau Penida dan kekayaan alam lainnya tentu lahir dari alam yang mutlak dicipta oleh Tuhan, sehingga kuasa penuh tentu ada di tangan Tuhan. Oleh karena itu, dalam mempopulerkan serta mendirikan pariwisata haruslah patuh pada alam. Jangan sampai si pembuat kebijakan atas Pasih Uug dan tempat-tempat lainnya mendasarkan aturan dan kebijakan pada pemikiran berbumbu ambisi manusia semata. Dialog dengan alam haruslah dilakukan. Apa-apa saja yang dapat melukai alam, tentu harus ditanggalkan, sebab segalanya akan sia-sia bila wisata yang lahir dari alam justru merusak alam itu sendiri.

Mandulnya alam atas kepongahan serta ambisi manusia sejatinya nampak pada berbagai destinasi pariwasata di nusantara. Kawasan Bali dan Puncak Bogor, keduanya dapat dijadikan contoh atas kemandulan alam akibat ambisi manusia. Keduanya tak hanya populer dan punya pesona luar biasa, melainkan ada sebuah kemandulan yang bersembunyi di balik pesonanya. Misalkan saja di Pulau Dewata Bali dimana belakangan ini pencemaran dan pengalihan lahan menjadi isu yang resahkan pemilik pulau para dewa tersebut. Subak, yang merupakan sistem perairan warga Bali sekaligus penanda budaya asli disana, rupa-rupanya jadi korban pula. Akibat adanya pendirian lahan bisnis seperti hotel, restoran, maupun bangunan yang ditanam investor. Jika hal itu terus dibiarkan, cepat atau lambat ternyata mengganggu dan merusak sistem perairan yang notabene menjadi nadi dari sistem pertanian di Bali. Bila sudah seperti itu, tentu tak ada lagi keselarasan di antara alam dan manusia. Manusia tak patuh pada alam, maka alam pun pasti tak akan peduli pada manusia. Dan benar saja, alam pun kemudian murka lewat polusi udara yang menjadikan Bali sebagai penyumbang polusi di dunia. Pencapaian itu tentu tak berbadning lurus dengan prestasi Bali sebagai tempat wisata termashur di dunia.

Hal serupa juga ditunjukkan oleh kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Keindahan, keelokan serta harmonisasi yang dicipta oleh alam di sana ternyata tak diimbangi oleh kearifan penikmatnya. Lihat saja di Puncak telah bercokol banyak villa liar yang berdiri dengan pongah tanpa peduli akan alam sekitar. Bangunan-bangunan permanen tegak berdiri, tata ruang kota jadi carut-marut, dan lantas apa yang terjadi??? Tentu peresapan air berkurang, akibatnya banjir pasti datang. Hal itu tentu menjadi problematika sebab Bogor adalah kota hujan. Bila sedikit saja hujan turun dapat mengakibatkan banjir, maka dapat dibayangkan banjir macam apa yang akan terjadi. Murkanya alam ternyata tak hanya akan menghantui mereka yang hidup di sekitar kawasan, namun titik lain pun akan ikut terkena imbasnya. Seperti pencemaran yang terjadi di Bali yang pada akhirnya menghantui seluruh dunia, pun terjadi pada kasus Puncak Bogor. Dari adanya bangunan liar serta tata letak kota yang carut marut itu, kemudian memberi imbas pada Kota Jakarta. Kita tentu tahu bahwa Jakarta tak dapat lepas dari banjir. Dan ternyata salah satu faktor penyumbang banjir di Jakarta adalah carut marutnya kawasan Puncak. Jika hujan datang, dataran tinggi Puncak tak dapat menampung atau meresap air, akibatnya air akan turun ke hilir dan menggenangi Kota Jakarta.

Tentu miris bila suatu kawasan yang salah urus pada akhirnya harus membawa bencana ke kawasan lainnya, apa lagi Kota Jakarta yang notabene ibu kota negara Indonesia. Jika banjir yang juga bersumber dari carut marutnya kawasan Puncak terus menghantui Kota Jakarta, tak pelak suatu saat nanti destinasi wisata di Jakarta pun ditinggalkan. Coba kita bayangkan, apa yang akan terjadi bila ibu kota suatu negara saja tak memiliki daya tarik wisata? Apa jadinya bila wajah ibu kota negara carut marut karena banjir? Tentu bad mark akan diberikan oleh penduduk dunia atas bangsa kita. Jangan sampai hal semacam itu terjadi pada bangsa kita. Oleh karena itu, dalam menciptakan suatu kawasan wisata dalam upaya pembangunan bangsa, perlu adanya langkah yang arif dan ramah terhadap lingkungan dan alam.

Alam harus selaras dengan kehidupan. Pembangunan bangsa lewat jalur wisata pun harus diciptakan. Namun pembangunan yang arif dan ramah pun harus menjadi pertimbangan pembuat kebijakan. Jangan sampai mengedepankan pendapatan suatu kawasan, namun mengesampingkan keselamatan dari bencana alam yang kerap datang karena tindakan yang manusia lakukan. Bangunan permanen yang berlebihan, hendaknya tak perlu menjadi pemanis pada objek wisata yang tengah dipopulerkan. Biarkan bangunan berdiri ala kadarnya sesuai kemampuan kawasan tersebut, dan jangan selalu turuti keinginan dan kebutuhan pasar yang sudah jelas-jelas akan membawa dampak pencemaran dan rusaknya lahan alam. Rancangan tata letak kawasan objek wisata patut ada. Batasan-batasan tentang ruang untuk bangunan, kiranya harus ditaati jangan sampai melebihi batas. Bila kawasan hutan seperti Puncak memiliki fungsi utama sebagai lahan penyerapan air, maka biarkan fungsinya berjalan sebagaimana mestinya.

Kemajuan suatu bangsa sejatinya tak hanya terlihat dari megah dan canggihnya bangunan yang ada di dalamnya. ‘Politik Mercusuar’ hendaknya tak perlu dikedepankan. Coba dekati alam, coba berdialog dengan alam, coba ajak alam membangun Indonesia lewat keelokan dan kecantikannya. Apa yang alam punya sejatinya lebih menjanjikan dari pada mall yang menjulang atau bangunan-bangunan industri yang tegak mengepulkan asap pembuat berbagai penyakit mematikan. Lewat kekayaan alam nusantara, mari ciptakan dan bangun bangsa Indonesia menjadi bangsa besar yang besar bukan karena kecanggihan peralatannya, melainkan karena keanekaragaman alam yang diola dengan ramah dan selaras dengan alam!


Note : Tulisan ini aku buat ketika aku diminta untuk menjadi salah satu perwakilan Pers Kampus “Warta Dinus” untuk mengikuti kompetisi menulis yang diadakan oleh Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia di lombok. Tulisan ini kubuat ketika semester 4 lalu kalau tidak salah. Sayang sekali aku kalah di kompetisi itu ehhehe..

Rabu, 29 Juli 2015

TETANGGA MASA GITU (PART I) : EDISI ADA APA DENGAN TETANGGAKU?



Catatan ini merupakan true story dan ditulis di Bangka, tahun 2015 di kamar kontrakan punyanya Mbak Thalia...

Gue nulis catatan ini pas gue liburan kuliah semester 5 mau ke semester 6. Gue liburan di Bangka buat ketemu nyokap, adek, nenek and keluarga lainnya. Mumpung nyokap lagi baik, mumpung nyokap lagi punya duit buat bayarin tiket pesawat, ya udah deh, jalani aja ehehehhe. Tapi gak disangka gak dinyana, masa-masa liburan gue rada merinding disco plus ngeri-ngeri sedap gitu gara-gara ada si ‘Tetangga Masa Gitu’.

Siapa tuh si ‘Tetangga Masa Gitu’?

Penasaran?

Yuk simak aja cerita gue di bawah ini!

“Ceu!! Gawat!” adek gue bisik-bisik sambil goncang-goncang badan gue. Ah, sial, pikir gue. Ngapain sih nih bocah bisik-bisik segala, mana mulutnya bau naga yang abis minum jus pete!

“Apaan sih, Mun?” bentak gue kesel.

“Udah sana pergi! Udah jam segini nih, mamah kan harus ke pasar!” lanjut gue sambil nutupin idung pake baju. Gak nahan deh itu aroma yang adek gue hempaskan pagi-pagi gini.

“Gawat ceu! Gue gak mau pergi ah. Gue takut. Takut, pokoknya takut!” adek gue masih bisik-bisik. Gue makin gak nahan deh. Rasanya pengen banget nyemprotin pengharum ruangan ke mulutnya.

“Gue gak mau pokoknya!” lanjut dia sambil tetep bisik-bisik. Rese juga nih bocah, pikir gue. Ini udah jam 5 lebih, matahari udah nongol meskipun masih malu-malu, ngapain juga ini bocah takut. Badan doang yang gede, tapi nyali Cuma segede upil nyamuk. Payah!

“Takut apaan sih? Ini udah pagi. Matahari udah nongol. Orang-orang udah pada lalu lalang di jalanan. Loe ngapain takut sih?!” kata gue rada sedikit bohong. Gue bohong ke adek dengan bilang kalau di luar udah banyak orang, padahal di sekitar rumah kontrakan nyokap, Cuma ada satu orang aja yang kedengeran udah beraktifitas, sedangkan yang lainnya, masih asyik sama mimpinya.

“Udah deh, gak usah alesan. Sekarang cepetan keluarin motor and anterin mamah ke pasar. Dia udah nunggu di warung. Kalau hari ini dia gak ke pasar, berarti gak ada yang bisa dijual, dan itu tandanya perekonomian keluarga gak jalan. Ngerti?” lanjut gue sok bijak, padahal dalam hati sih males juga pagi-pagi ke luar rumah.

“Loe tahu gak sih, Ceu…tetangga kita lagi berdiri depan pintu. Gue takut, sumpah takut. Gue gak mau.”

Deg! Gue kaget denger kata-kata adek gue. Si “Tetangga masa gitu” lagi berdiri depan pintu katanya. Lho kok bisa? Padahal beberapa menit lalu nyokap ngasih tahu kalau si “Tetangga masa gitu” udah jalan kaki tahu deh mau kemana. Belum sempet gue nimpalin omongan adek, eh adek yang jam 9.30 nanti terbang ke Jakarta udah nyemprotin kata-kata baru.

“Dia lagi nyender depan pintu, Ceu! Serem banget! Dia nyender depan pintu kita!”

“Serius?” mata gue kebelalak. Mulut gue mangap, untung air liur gue gak sampe netes. Gue kaget, shocked, and pengen pingsan. Ops, tapi pengen pingsannya sih bukan gara-gara si “Tetangga masa gitu”, tapi karena aroma mulut adek gue itu tuh.

“Masa iya sih dia nyender depan pintu rumah ini? Ngapain coba? Bohong kan?” pas ngeluarin kata-kata ini, pikiran gue melayang kemana-mana. Kejadian tengah malam sampe dini hari tadi, kejadian berhari-hari yang gue alami selama tinggal disini, ah semuanya keputer gitu aja di pikiran gue, tanpa sensor dan gak banget deh. Kalau yang tanpa disensor itu adalah salah satu adegan di Film “Air Terjun Pengantin” sih gak masalah ya, tapi kalau yang tanpa sensor itu adegan kayak tadi malam, ih ogah banget deh, mending disensor sekalian aja, kalau perlu dicut aja tuh semua adegannya.

“Benerin dia lagi nyender gitu, depan pintu rumah dia!”

Ih, rese banget nih adek gue. Pengen gue jitak tuh bocah. Tadi bilangnya ada si “Tetangga masa gitu” di depan pintu rumah kita, tapi sekarang bilangnya di depan pintu rumah tuh tetangga. Bikin jantung gue mau copot aja.

“Yaelah…ngapain ribet sih ngurusin orang yang lagi berdiri depan pintu rumahnya!?! Gue kira depan pintu rumah kita..”gue manyun pas ngelontarin kata-kata ini.

“Ya udah deh gini aja…sekarang loe keluarin motor, terus cabut nganter mamah ke pasar. Toh si ‘Tetangga masa gitu’ juga lagi depan rumahnya. Udah sono pergi!” titah gue sambil ngelus-ngelus HP bersiap update status BBM.

“Gue takut tau, Ceu. Loe sih pake acara cerita segala. Kalau loe gak cerita kan gue gak takut…”

“Kok gue sih yang disalahin? Udah deh, cepetan sana anterin mamah!” semprot gue ke adek. Kalau dipikir-pikir sih bener juga, ngapain tadi pagi gue cerita ke adek soal si “Tetangga masa gitu?”, padahal pas kejadian sepanjang malam itu terjadi, adek sama sekali gak nyadar and asyik tidur. Argh, tapi gue gak nahan sih kalau gak cerita kejadian fenomenal yang gue alami semalam.

“Ok, tapi loe mesti anter gue ke depan pintu. Mau gak?” bujuk adek gue sambil tetep bisik-bisik.

“Ya ampun, manja banget sih. Ngapain juga minta anterin gue, kan Cuma depan situ doang. Udah sana pergi!” tolak gue sambil melototin dia.

“Pokoknya anter. Gue takut tau! Kalau gue diapa-apain sama si ‘Tetangga masa gitu’, giamana hayo?”

Sumpah deh, ke-PD-an banget sih ini anak. Mana ada yang mau ngapa-ngapain dia. Dia yang kena derita dari nyokap, eh gue juga keseret-seret. Apa ini yang namanya ‘Keadilan’ ya?

“Ya udah deh gue anter. Cepetan loe bangun!” gue mulai bangkit dari tempat tidur, tapi tiba-tiba adek gue belingsutan and ribut tertahan.

“Nunduk!! Nunduk!! Tiarap!! Tiarap!” adek gue yang ibarat kopi – susu kalau jejeran sama gue (dia kopinya, gue susunya ahahaha) itu gelagapan sambil nahan suaranya biar gak kedengeran ke luar rumah.

“Ih, ngapain sih nyuruh gue tiarap?! Udah deh cepetan berdiri. Ayo gue anterin. Ini udah siang, mamah mesti ke pasar. Loe juga kan mesti prepare buat pulkam. Cepetan deh!” sahut gue sambil tetep berdiri and gak nurutin kata-kata dia.

“Kalau loe gak tiarap, bisa-bisa si ‘Tetangga masa gitu’ ngelihat kita tau gak sih! Ayo nunduk!” timpal adek masih rebahan di tenpat tidurnya.

Gila aja ini anak. Dulu nyokap gue ngidam apa ya pas hamil dia. Kok aneh gini. Ngapain juga tiarap di dalam rumah. Gila aja, masa iya gue ngesot dari kamar ke ruang tamu hanya gara-gara ngehidnarin si “Tetangga masa gitu”. Jendela kamar juga udah ketutup sama tirai, jadi orang di luar juga gak bakal bisa lihat ke dalam. Ada-ada aja.

Alhasil setelah berdebat gak penting gitu, gue and adek berhasil berdiri gemeteran di ruang tamu. Gue and adek “Maju mundur maju mundur cantik” gitu. Kenapa? Yep tentu karena di antara kami gak ada yang mau ngalah bukain pintu. Kenapa? Yep tentu karena pesona si “Tetangga masa gitu”. Tetangga kami yang masa gitu itu tuh emang mempesona dengan harmonica yang selalu dimainin tiap hari. Tapi….kalian gak pada ngeh kalau “Tetangga masa gitu?”. Kenapa? Udah deh, pokoknya kalian bakalan bilang “Tetangga masa gitu?” pas tahu kelakuan tetangga yang mirip pendekar harmonika saking seringnya main harmonika itu.

“Aduh, itu si ‘Tetangga masa gitu’ ada di depan rumahnya. Gimana nih? Loe bukain pintu sana…” adek gue bisik-bisik ketakutan, sedangkan gue? Gue juga sama-sama takut, tapi gue sih gak mencolok gitu takutnya.

“Ssttt…gak usah berisik deh. Cepetan loe siap-siap keluarin motor, soal pintu biar gue yang buka,” ucap gue sambil ngelangkahin kaki ke arah pintu.

Beberapa saat kemudian, adek udah tancap gas tanpa permisi, cabut dengan kecepatan tinggi. Gue juga buru-buru ngunci pintu and masuk lagi ke kamar.

Gue rebahan di kasur. Dada gue dag dig dug gak beraturan. Di luar gue denger ada yang komat-kamit pake bahasa mandarin. Gue berasa lagi nonton film-film China jadinya. Hmm, tapi tiba-tiba gue keinget kejadian malam tadi. Campur aduk perasaan jadi satu…Emang ada apaan sih? Penasaran? Well, check it out!

00.10 malam – di kamar kontrakan, tidur jejeran sama adek and nyokap

Kruyuk…kruyuk…kruyuk…perut gue tiba-tiba keruyukan. Males juga, tapi ditahan juga gak bisa. Alhasil gue mutusin buat ngelangkahin kaki ke arah dapur. Pelan-pelan banget gue ngelangkah, termasuk pas buka pintu kamar. Gue gak mau ngebangunin adek and nyokap soalnya gue yakin banget nyokap capek seharian jualan, sedangkan adek gue, dia harus istirahat cukup soalnya pagi nanti harus pulang kampung ke Jawa. Satu…dua…tiga..dan sekian langkah berikutnya gue udah nyampe di kamar mandi berpintu seng. Lho, kok belok ke kamar mandi? Bukannya tadi gue bilang perut gue kruyukan? Yep, emang bener banget, perut gue kruyukan tapi bukan karena laper, melainkan karena panggilan alam. Setelah stres ngunciin pintu kamar mandi yang bermasalah, akhirnya gue berhasil menempati closet yang berguna banget buat gue, khususnya malam ini pas perut gue lagi gak bisa dikompromi. Kran air pun gue buka. Air ngalir gak begitu kenceng. Gue emang sengaja gak nyalain air kenceng-kenceng soalnya takut ganggu tetangga juga. Maklum aja, rumah kontrakan nyokap itu nempel satu dengan lainnya, jadi pasti aktifitas yang ada di satu rumah bisa kedengeran ke rumah lain, termasuk kalau tetangga sebelah kiri gue yang notabene anak SMA lagi makan, suara denting sendok garpunya pasti kedengeran.

Gue sekuat tenaga ngeluarin benda asing yang ganggu perut gue malam-malam gini. Sembari berusaha, gue iseng nyanyi pelan-pelan lagu Cita Citata yang judulnya ‘Sakitnya tuh disini’. Belakangan ini gue emang lagi hobi banget nyanyiin lagu yang sebenernya udah beken dari bulan-bulan sebelumnya. Tiba-tiba pas gue lagi asyik nyanyi, gue denger ada orang yang lagi mengaum-ngaum gitu. Hmm, ngaum juga gak sih. Teriak kali ya. Hmm, teriak jgua gak. Pokoknya kayak suara macan lagi mabok gitu deh. Nah lho, suara macan mabok tuh kayak gimana sih? *Tahu deh heheh*

“Suara apaan tuh? Suara ngorok nyokap kali ya? Apa suara ngorok adek?” pikir gue.

Yep, gue pikir itu suara ngorok nyokap atau adek. Gue bisa mikir begitu soalnya terkadang mereka ngoroknya kayak macan masuk angin gitu deh. Nah, kali aja abis masuk angin, macannya mabok. Alhasil gue cuekin deh suara macan mabok yang lumayan jelas kedengeran itu. Then, gue lanjutin lagi nyanyi ‘Sakitnya tuh disini’ sambil tetep usaha ngebuang benda asing di perut gue. Tapi semenit kemudian, gue denger suara macan mabok lagi, kali ini lebih jelas dari sebelumnya. Akhirnya gue mattiin kran air, trus dengan seksama gue pasang kuping gue yang menurut sebagian orang ‘Budek’ *kadang-kadang hahaha*

“Lho, kok suara macan yang lagi mabok beda sama suara keluarga gue? Suara macan maboknya cowok dewasa, dan yang mengejutkan adalah macannya pake baahasa mandarin!” benak gue komat-kamit.

Well, dari penemuan itu, gue baru sadar kalau ternyata itu adalah suara yang sering gue denger tiap malam and tiap dini hari. Gue takut gak? Gak takut sama sekali soalnya gue yakin banget itu pasti suara-suara tetangga gue yang lagi ngobrol sama keluarganya. Gue berkesimpulan kayak gitu soalnya tetangga gue disini 90% adalah warga tionghoa yang setahu gue mereka itu kalau ngobrol di antara keluarga yang sama-sama tionghoa itu pake bahasa mandarin. Cuekin aja deh!

Tik tok tik tok…beberapa menit berlalu. Gue sekarang udah melangkah masuk ke kamar, tapi tiba-tiba nyokap ngagetin gue…

“Mamah dari setengah dua belas tadi kok gak bisa tidur ya…” ucap nyokap gue.

“Lho emang kenapa?” tanya gue sambil nendang kaki adek gue yang ngehalangi jalan.

“Tahu deh kenapa, tapi mamah ngerasa ada yang beraktifitas di luar sana..”

“Oh..pasti mamah denger suara orang jalan trus ngedenger suara orang ngaum-ngaum gitu ya?” kata gue sok tahu.

“Hmmm…” nyokap gak langsung jawab, tapi tiga detik kemudian dia bilang, “Bukan mengaum sih, tapi kayak ada orang ngobrol-ngobrol gitu…”

“Binggo!!” seru gue ke nyokap sambil nyingkiran tangan adek yang jatuh di kepala gue.

“Nah itu dia mah, tepat banget! Eka juga kalau malem sering denger orang ngobrol dan langkah kaki orang depan situ tuh. Mamah pasti denger suara orang ngobrol pake bahasa mandarin kan?” lanjut gue.

“Gak tahu juga sih, suaranya samar-samar sih soalnya. Emangnya kamu gak takut denger suara orang ngelangkahin kaki malam-malam gini?” nyokap balik interogasi gue. Gue pun menjawab sambil geleng-geleng.

“Gak sih, Eka gak takut, soalnya itu palingan tetangga kita…” cuek banget gue pas ngelontarin kata-kata ini.

Obrolan di antara nyokap and gue pun terputus ketika gue asyik sama laptop gue yang ternyata lupa gue shut down gara-gara gue ketiduran pas baca novel di laptop. Nyokap pun gue rasa udah mulai terlelap lagi. Tik tok tik tok tik tok…waktu pun berlalu gitu aja sampai akhirnya jarum jam nunjukin pukul 01.00.

Perut gue kruyukan lagi. Sialan! Padahal gue lagi asyik ngotak-atik youtube nih. Mau gak mau gue pun harus balik ke kamar mandi. Ngerjain bener-bener deh ini perut!

Sesampenya di kamar mandi, aktifitas serupa sama moment kamar mandi pas jam dua belasan tadi pun terulang; gue berusaha ngeluarin benda asing sambil nyalain kran air and sambil nyanyi-nyanyi. Di tengah-tengah aktifitas gue itu, tiba-tiba gue denger suara macan mabok lagi, tapi kali ini beda banget. Kayaknya itu macan mabok gak sekedar mabok gara-gara masuk angin, tapi mabok gara-gara mirasantika. (Mirasantika : minuman keras dan narkotika). Perhatian gue pun tercuri. Sambil masang kuping baik-baik, gue pun matiin kran air. Segala macam bentuk suara yang ada di luar kedengeran jelas banget sekarang, termasuk suara macan mabok plus sakau itu.

“Astaghfirullah. Suara apa itu?” gue terkaget-kaget plus tertakut-takut.

Gue kaget setengah mati. Suara yang tadi kayak macan mabok sekarang berubah jadi suara orang ngamuk-ngamuk, trus tiba-tiba berubah lagi jadi saura orang cekikikan ketawa, hmmm..bukan suara cekikian manusia deng, tapi lebih mirip monyet yang lagi ketawa cekikikan. Hmm, tapi terkadang suaranya berubah kayak ada suara cewek yang lagi teriak-teriak. Wah, suaranya campur aduk, kayak lagi ada orang yang sahut-sahutan, dan bahasa yang dipake masih bahasa mandarin. Sesekali gue denger ada suara cewek nyanyi lagu mandarin yang gue gak ngerti apa artinya, tapi gue yakin banget itu bukan suara dari TV, tapi suara yang dinyanyiin langsung. Gue jadi merinding sekarang. Gimana gak, bayangin aja malam-malam gini ada suara beragam yang saling bersahutan padahal kalau didenger-denger itu suara berasal dari makhluk yang sama.

Buru-buru gue udahin aktifitas gue. Gue langsung cebok dengan air seadanya. Mau gimana lagi, nyalain kran juga takut. Yep, takut orang di luar sana yang kayak lagi maen teater denger suara air dari rumah kontrakan nyokap yang letaknya di depan rumah suara itu berasal. Dengan langkah ketakutan, gue maju ke arah kamar yang itu tandanya makin deket ke arah sumber suara secara kamar gue letaknya di depan. Pas gue masuk kamar, nyokap ternyata udah terjaga dan langsung komen ketakutan gitu.

“Iya, Ka. Ternyata ada suara orang-orang teriak pake bahasa mandarin. Dan ternyata itu berasal dari rumah depan situ tuh, yang ujung…” ujar nyokap gue.

“Tuh kan bener kata Eka. Ada yang ngoceh-ngoceh pake Bahasa Mandarin!” timpal gue sambil ngedeprok di kasur.

“Ya ampun, Ka!” nyokap gue setengah berteriak sambil nahan kentut, eh maksudnya nahan ketawa. Refleks gue pun langsung nengok ke arah nyokap.

“Ada apa sih, Mah?”

“Orang itu, Ka. Orang itu tuh, si tetangga...tetangga yang depan situ tuh..” kata nyokap gak begitu jelas.

“Kenapa sih, Mah?” tanya gue penasaran sambil ngegeserin kepala adek gue yang makin nyosor ke pantat gue.

“Itu orang stres apa lagi ibadah sih?”

“Iiihh mamah lagi ngapain sih? Ngomong tuh yang jelas dong, Mah!” protes gue sambil manyun.

“Ini nih mamah lagi ngintip di jendela. Lagi ngintip si tetangga yang dari tadi ngoceh-ngoceh pake Bahasa Mandarin...”

“Emang dia kenapa, Mah?” kata gue penasaran, tapi pertanyaan gue malah dijawab sama dengkuran adek yang mirip suara babi nelen biji kedondong.

“Awas lho, Mah, nanti mamah ketahuan trus diamuk sama itu tetangga! Gak sopan ah!” lanjut gue sedikit ngritik kelakuan emak-emak yang katanya dulu pernah masuk koran gara-gara presentasi PKK se-Kabupaten *hahahaha*.

“Ya ampun, Ka. Dia itu lagi ngelakuin gerakan-gerakan aneh. Iiihh ya ampun...kakinya...” nyokap coba deskripsiin tanpa ngelihat ke arah gue.

“Kenapa kakinya, Mah?” tanya gue penasaran.

“Iiihh ya ampun...kakinya...kakinya kayak lagi goyang ngecor...” gue mikir denger kata-kata nyokap. Goyang ngecor itu macam apa ya? Macam Uut Permatasari bukan sih? *Loading deh*

“Mamah!!” kata gue kesel plus penasaran dan kali ini nyokap gue sadar kalau anak gadisnya lagi kepo binggo sama apa yang dia lihat.

“Ya ampun...” lagi-lagi nyokap ngomong ‘Ya ampun’, tapi kali ini dia ngomongnya sambil ngelihatin gue.

“Tadi si tetangga itu, pintunya dibuka. Trus dari sini mamah bisa ngelihat jelas banget dong apa yang ada di ruang tamunya. Nah, di ruang tamu situ, ada boneka kecil kayak dewi gitu dan boneka itu dikelilingi lilin...” terang nyokap sambil megap-megap *tau deh megap-megap kenapa*.

“Serius, Mah?”

“Iya. Terus...si tetangga itu cekikikan sambil goyang ngecor menghadap ke boneka yang dikelilingi lilin itu. Dia goyang-goyang, badannya digoyang ke depan terus ke belakang...”

“Goyang ngecor?” tanya gue kayak anak oon.

“Iya. Dia berdiri, terus salah satu kakinya dilipat ke lutut kaki sebelahnya. Terus goyang-goyang depan belakang deh...”

“Oooh...” gue melongo sok ngerti.

“Selain itu, dia juga berenang...”

“Berenang?” tanya gue kaget. Setahu gue di kompleks kontrakan ini gak ada kolam renang, apa lagi di rumah si ‘Tetangga Masa Gitu’.

“Iya, dia kayak orang berenang, tapi berenang di lantai. Dia tengkurep di depan boneka itu, terus bergaya kayak orang berenang...”

“Iiihhh kenapa itu orang...” kata gue sambil bergidik ngeri.

“Ada lagi nih, Ka...”

“Dia itu ‘Cilukba-in’ boneka dewi itu!” Gue diem sesaat. Bayangin plus coba memunculkan gerakan ‘Cilukba-in’ boneka yang notabene benda mati. Gimana serunya tuh?

“Hwaaa...hwaaa...” nyokap gue niruin gaya si ‘Tetangga Masa Gitu’.

“Dia ‘Hwa hwaaa’ gitu sambil kayak emak-emak lagi ‘Cilukba-in’ anak bayi” terang nyokap gue dengan nada semangat tapi ngeri-ngeri gimana gitu.

“Ya ampun, kronis banget ya...” batin gue berucap.
“Tapi gue mikir, yang kronis tuh si “Tetangga Masa Gitu’ apa nyokap gue ya?” ucap gue masih dalam hati.

Seiring obrolan gue and nyokap, suara-suara mirip monyet cekikikan pun kedengeran. Gue and nyokap langsung diem dan merhatiin suara itu. Bulu kuduk gue berdiri. Suaranya ngeri banget, bener-bener mirip monyet cekikikan.

“Itu lagi ketawa ya?” tanya gue ke nyokap.

“Gak tahu deh...dari sini gak kelihatan...” jawab nyokap sambil ngintip di balik tirai kamar gue.

Gak lama setelah itu, suaranya berganti jadi suara tangisan. Yep, si ‘Tetangga Masa Gitu’ sekarang lagi nangis. Nangisnya bener-bener mengiris, tapi yang bikin gue rada mikir adalah suara tangisan itu mirip banget sama tangisan cewek, padahal udah jelas-jelas si ‘Tetangga Masa Gitu’ berjenis kelamin cowok.

Di sela-sela otak gue yang loading mikir soal suara tangis cewek itu, nyokap tiba-tiba bersorak tertahan mirip anggota pemandu sorak yang keselek gara-gara mangap terlalu lebar.

“Iihh ngapain itu!” kata nyokap dan bikin gue kepo binggo.

“Ya ampun, itu orang kenapa?” lanjut nyokap dan bikin rasa penasaran gue diujung banget.

“Ada apa sih, Mah?”

“Itu dia kayak marah-marah dan gemes sama boneka dewi itu. Dia gemes mau mukul boneka dewi itu tapi gak sampe mukul. Pokoknya kayak gemes sebel gitu...” terang nyokap.

“Itu orang stres apa lagi ibadah sih?” tanya nyokap ke gue. Nyokap pikir gue anak serba tahu kali, tapi kan gue gak mempelajari berbagai macam keyakinan dan kepercayaan orang, jadi ya gak  tahu deh itu si ‘Tetangga Masa Gitu’ lagi ibadah atau lagi ‘Galau’ yang efeknya jadi ‘Gelo’ gitu.

“Hmm, masa sih dia lagi ibadah?” ucap gue gak berharap dapet jawaban dari nhokap karena gue sadar nyokap pasti gak tahu jawabannya *ngakak*.

“Masa ibadah begitu ya? Tapi, ada boneka dewi yang disembah sama dia...” timpal nyokap.

“Tahu deh, Mah. Coba aja deh besok tanyain sama yang punya kontrakan. Oke?”

Ucapan gue pun akhirnya menjadi penutup obrolan gue and nyokap dini hari ini. Sekian detik kemudian, nyokap udah ngorok dan gue masih mencoba update status di Facebook. Sesekali gue masih denger suara gemerisik langkah kaki depan jendela kamar gue sembari diiringi semprotan bibir mirip bayi yang lagi belajar ngucapin kata tapi gagal terus dan Cuma ludahnya aja yang nyemprot. Merinding sih tentu, tapi gue yakin aja sih kalau tirai jendela kamar gue mampu nutupi sexy-nya badan gue yang lagi asoy di atas kasur *pengen muntah hahaha*. Anyway langkah kaki plus suara semprotan ludah itu bersumber dari si ‘Tetangga Masa Gitu’. Selain itu, aksi silat pun gak kalah kedengeran di dini hari yang sepi ditambah gerimis mengundang. Yep, si ‘Tetangga Masa Gitu’ memang sering banget memamerkan aksi silat di pagi hari sambil komat-kamit Bahasa Mandarin yang sama sekali gak gue ngerti apa artinya.

Scene balik lagi ke gue yang tadi abis debat sama adek...

Ngeeekkkk....nggeeeooookkk...ngeeekkkk....

Suara apaan tuh?

Itu suara harmonica. Serius? Yep, anggap aja begitu...

Well, suara harmonica itu bunyi lagi, merangsek masuk ke telinga gue dan bikin lamunan gue kembali ke kesadaran sepenuhnya. Lamunan gue tentang kejadian semalam udah ilang dan keganti sama kenyataan pagi hari yang di sana, di luar sana, gak jauh dari kamar gue ada si ‘Tetangga Masa Gitu’ yang harmonica-nya mampu ngembaliin gue ke dunia nyata. Dada gue deg-degan. Sekarang suara harmonica itu bikin gue ngeri. Dulu pas gue baru dateng di kota ini dan jadi tetangganya si ‘Tetangga Masa Gitu’, gue pikir bunyi harmonica itu memang salah satu media sodara-sodara warga keturunan Tionghoa dalam beribadah, tapi ternyata si ‘Tetangga Masa Gitu’ gak begitu. Gimana gak, tuh denger aja, dia nangis, nangis sesenggukan. Gue jadi kaget. Tadi main harmonica, eh abis itu nangis. Gak tahu deh kenapa, yang jelas bukan karena gue! Nah, gimana, cocok kan kita bilang, “Tetangga Masa Gitu?”

Note :
Tulisan ini gak bermaksud mendiskreditkan golongan atau ras atau agama tertentu. Tulisan ini semata-mata pengalaman pribadi yang coba didokumentasikan oleh cewek standar yang kadang berasa cantik kalau lagi senyum *hehehehee*

- Eka Pratiwi Taufanty -