Tampilkan postingan dengan label praka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label praka. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 April 2015

BERBUAT KEBAIKAN, KENAPA MALU?

Pernahkah mendengar kalimat usil semacam ini??

“Cie…cie…cie…tumben pagi-pagi udah nongkrong di sekolah…”

Atau mungkin kalimat usil yang ini???

“Ah, kerasukan setan mana loe, bro, tumben mau bersih-bersih rumah!?!?”

Mungkin yang ini???

“Wah, mau jadi anak mamih ya loe, tumben pagi-pagi udah nganterin nyokap belanja!”

Atau bahkan kalimat super usil yang ini??

“Kesambet jin putih dari mana loe, bro, tumben sholat!”

Rentetan kalimat di atas tentu sudah tak asing lagi di telinga kita, apa lagi di kalangan mereka yang menamai diri si anak muda. Kalimat-kalimat ‘usil’ tersebut seolah kelakar yang dengan mudah dilemparkan pada siapa saja yang sedang mencoba ‘tekun’ pada nilai dan norma. Dengan mudah bahkan lebih mudah dari PR yang mereka dapat dari sekolah, kalimat-kalimat semacam tadi terus didengungkan tanpa sadar akan efek dari kalimat yang dilemparkan tersebut.

‘Kebaikan’, itulah tujuan yang diusung oleh mereka yang dihadiahi rentetan kalimat usil tadi. Maksud hati ingin menunaikan kebaikan sekaligus pembuktian terhadap kata “Taubat” yang disampaikan pada Tuhan, justru mendapat rintangan berupa kalimat usil semacam tadi. Sebagai individu yang masih dalam proses mewujudkan kebaikan yang bisa jadi telah ditinggalkan sekian lama, tentu akan goyah ketika mendapat kelakar tak beralasan sebagai komentar.

Lantas efek apa yang timbul dari keusilan semacam tadi?

‘Malu’, itulah rasa yang sebetulnya menjadi efek dari kalimat usil tak bertanggungjawab sebagai komentar bagi mereka yang ingin tekun. Menurut opini penulis, mereka yang sedang berusaha menunaikan kebaikan akan merasa ‘malu’ ketika ada pihak lain yang mengomentari usahanya tersebut, lebih-lebih jika komentar yang dilemparkan berupa ejekan. Sebetulnya sudah wajar adanya rasa malu itu timbul ketika seseorang sedang melakukan kebaikan, namun tidak untuk kasus pada remaja. Betapa tidak, remaja merupakan masa dimana rasa ‘gengsi’ itu punya andil besar pada diri mereka. Oleh karena itulah, ketika ada pihak yang mengejek dan menilai bahwa kebaikan yang sedang ditunaikan itu adalah hal konyol sekaligus ‘tumben-tumbenanan’, si pelaku kebaikan langsung undur diri, bahkan tak lagi bernafsu untuk menunaikan kebaikan tersebut.

Lantas, jika malu telah melanda, apa yang akan terjadi??

Umumnya jika malu telah mendera, lebih-lebih pada mereka yang tak punya tekad yang kuat, keesokan harinya kebaikan itu tak akan ditunaikan. Dengan kata lain, mereka akan kembali pada zona sebelumnya. Kebaikan pun kemudian tersimpan jauh dalam angan. Hilang?? Bukan hilang, namun lebih kepada mengendap dalam angan yang entah kapan akan direalisasikan. Jika sudah demikian, tentu sulit untuk mengembalikan situasi, kecuali kalimat usil dilempar jauh dari budaya para remaja.

Karena adanya budaya yang tercermin pada kalimat-kalimat usil di atas, penulis beranggapan bahwa hal itulah yang justru menghambat menjamurnya kebaikan di kalangan remaja. Para tunas bangsa itu seolah lebih berkonsentrasi pada seberapa banyak teman yang berkomentar dari pada esensi kebaikan itu sendiri. Karena konsentrasi mereka terfokus pada komentar teman, pada akhirnya mereka akan mudah goyah dan cenderung melepaskan janji mereka untuk berbuat kebaikan. Dampaknya, ketika hendak melakukan amalan-amalan yang ditetapkan pada nilai dan norma, mereka akan berpikir beribu-ribu kali, bukan untuk berpikir seberapa besar manfaat dari amalan tersebut, namun lebih kepada seberapa banyak kata ‘tumben’ yang temannya lemparkan.

Penulis coba ambil contoh dari realita yang ada. Sebagai contoh adalah adik penulis yang kini duduk di bangku SMP. Pernah suatu ketika ia bangun pagi, kemudian bergegas merappikan tempat tidur, mencuci sepatu dan membersihkan rumah. Tak hanya itu, ia pun getol menawarkan bantuan yang bisa ia lakukan. Tentu hal itu membuat seisi rumah takjub dan terheran-heran. Pasalnya ia memang terkenal malas di rumah. Akhirnya penulis yang memang kerap menggodanya, tergelitik untuk melempar canda.

“Cie…cie…tumben rajin amat! Kerasukan setan dari mana, bro??” goda penulis sambil cekikikan.

Mendengar kalimat usil dari penulis, ia pun nampak gondok. Terbukti dari mulutnya yang maju lima senti. Tak sampai disitu, penulis lagi-lagi menggodanya dengan berkata, “Gitu dong, Bro. Jadi anak tuh yang rajin. Kalau gitu kan bisa disayang mertua.”

Rupanya komentar-komentar usil yang penulis berikan memberi efek ‘jera’ pada sang adik. Kontan ia langsung menghentikan aktivitasnya dan ngeloyor entah kemana. Usut punya usut, ketika diintrogasi hari berikutnya, ia mengaku malu sebab penulis terus menggodanya. Tak hanya itu, sang ibu yang memamerkan tindakan adik itu pun menjadi penyumbang dalam mogoknya aksi bersih-bersih yang dilakukan adik.

Dari contoh dan sedikit uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam melakukan kebaikan yang tercantum dalam nilai dan norma, setiap individu harus memiliki niat terlebih dahulu. Jika niat telah ada, ditambah lagi dengan tekad yang kuat, maka apa pun kendala dan godaan, tak akan menjadi soal. Kemudian, rasa malu hendaknya dibuang jauh-jauh sebab ‘kebaikan’ merupakan hal terpuji, sehingga tak perlu merasa malu dan ragu dalam menunaikannya. Bandingkan dengan serentetan keburukan yang pernah dilakukan, pernahkah kita memikirkan atau pun merasa malu ketika melakukannya? Penulis rasa jarang kita merasa malu atas tindakan yang dilakukan, bahkan tak jarang siswa-siswi sekolah yang kedapatan mencuri dan cabut dari sekolah. Bukankah hal itu merupakan hal buruk yang seharusnya dihindari? Namun faktanya banyak remaja yang menikmati hal buruk tersebut. Oleh karena itu, tak perlu malu melakukan kebaikan yang tentu saja ditunaikan dengan cara yang baik pula.


LOCAL LANGUAGE (SCRIPT PIDATO BAHASA INGGRIS)

Semester 2 lalu, mungkin sekitar tahun 2013 kalau gak salah, aku pernah ikut speech contest di UNNES. It was an unforgetable moment. Panas dingin gimana gitu pas ikut, tapi seru! Nih dia di bawah aku kasih tahu script pidato aku. Asli lho, bukan jiplakan! Check it out!

Ladies and gentlemen
It is a great honor for me to stand right here in front of you all to deliver a speech on “Should local language be deleted in 2013 curriculum?”
Ladies and gentlemen
To begin this speech, I would like to ask all of us about one thing. Have you ever heard about “BhinekaTunggallIka”? Yeah, I think all of us have heard
about it; besides, we understand the meaning of “Bhineka Tunggal Ika”.
As we know, “Bhineka Tunggal Ika” is Indonesia’s slogan which means “Unity in Diversity”. Therefore, we know that our nation consists of different cultures,
ethnic groups, and local languages; nevertheless, we are still one that is Indonesia.
Ladies and gentlemen
We know that Indonesia is a rich nation, not only because of its natural resources, but also its diversity. Because of that, Indonesia grows to be a beautiful
nation; moreover, Indonesia can attract the attention of other nations with all its local cultures and wisdoms.
Ladies and gentlemen
Have we ever asked ourselves why Indonesia can become a beautiful nation like a little girl who grows up to be a teenager who has a good behavior? The
answer of that question is”Culture”! Yes, “Culture” is like a mother who teaches moral values to her children so that her children become a figure with
strong characteristics. Moreover, one thing that makes Indonesia different from other nations is its “Local languages”. Then, what will happen if local
languagesaren’t learnt at school? Should it be deleted in 2013curriculum?
Ladies and gentlemen
Actually we don’t need to ask if local language should be deleted in 2013 curriculum because the answer has been stated in the constitution of 1945 article
32 subsection (2) which declares “State respects and preserves local languages as national cultural wealth”.So, if the government deletes local language
in 2013 curriculum, it means that the government doesn’t apply the constitution.
Ladies and gentlemen
Here I have the other reasons as to why Local languages should not be deleted in the curriculum.
First, we are the ones responsible for preserving our culturesincluding local languages.
Ladies and gentlemen, if we stop at this point without trying to preserve our local language anymore, what will we see in the future of our nation? We
will see nothing. Indonesia won’t be a beautiful nation anymore, Indonesia will lose its character and Indonesia will be like other nations which do not
have cultural diversity. Moreover, the young generation will be affected by the globalization without taking a shield which one is line with the wisdom
of the local culture.
It’s so ironic. Indonesia was born with its cultural diversity; but it has to die because we kill its cultural diversity. IfI may, Ladies and Gentlemen,
I will call this “a culture suicide”.
Second, there’s philosophy in the local language that can develop character of the young generation such as etiquette in Javanese. As we learn the etiquette,
we will learn about “Courtesy”. Isn’t it compatible with the 2013 curriculum which focuses on the character and moral development?? Another example, if
the local language is not studied at school, how can the young generation understand Javanese language and script?? It means that if the young generation
doesn’t know how to read and write Javanese script, the Javanese script will eventually fade away.
Third, there are many people who depend on the local language such as teachers and students of Javanese or other local language departments at university.

Ladies and gentlemen, the local language elimination will affect some local language teachers. They will lose their job; otherwise, they will be forced
to teach different subjects that are not compatible with the background of their education. For example, Javanese teacher has to teach Mathematics. Then
if it happens in our educational environment, it will raise a problem about professionalism. In fact, professionalism is one important thing to createqualified
young generations.
Ladies and gentlemen, if the local language is deleted in the curriculum, what will the students of, say, Javanesedepartment do?? Should they change their
study? If they change their study and choose another department, it means that they waste their effort, time, and money.
Ladies and gentlemen
I think the government must concern with the quality, facilities, and props that can support the learning activity than make itself busy changing curriculum
every year.
Deleting local languages in the curriculum is the same as killing the character of our nation!! It is the same as tearing up “Bhineka Tunggal Ika”!!!
So, think twice before it’s late! Think twice before deleting the local language in 2013 curriculum!!
That’s all my speech. Thank you for your attention.

Kamis, 26 Juli 2012

PUISI : ADA NAMUN TIADA

Rindu itu datang padaku
Mengemis cinta, mengais tanya
Indah kah wajahnya yg polos tanpa cumbu kata juga gerak merah jambu???
Lepaskan rindu itu dalam jujur hati tanpa harus ingkar mengingkari!!
Berkawan dengan rasa tanpa kata hanya akan membuat rindu itu mati

Layu mungkin si rindu itu
Nyaris mati karena tak ada yang mau peduli
Lelah sudah rindu itu menari
Berlenggak-lenggok di padang hati sang pesona duniawi
Haus sudah terlanjur basah oleh resah
Gerimis itu tak kunjung basuh haus itu
Sudahlah....
Biarkan tetap sama...
Rindu itu tegar
Tak mudah patah tertiup sikap redup dalam lingkaran temaram

Rindu itu akan tetap bersemi
Menanti gerimis meski kerontang telah merasuk hingga sanubari
Percayalah rindu itu akan selalu ada...
Tetap ada sampai cinta mau berkata padanya...
Sampai tanya tak lagi bersanyawa dalam pengharapannya...