Senin, 20 April 2015

BERBUAT KEBAIKAN, KENAPA MALU?

Pernahkah mendengar kalimat usil semacam ini??

“Cie…cie…cie…tumben pagi-pagi udah nongkrong di sekolah…”

Atau mungkin kalimat usil yang ini???

“Ah, kerasukan setan mana loe, bro, tumben mau bersih-bersih rumah!?!?”

Mungkin yang ini???

“Wah, mau jadi anak mamih ya loe, tumben pagi-pagi udah nganterin nyokap belanja!”

Atau bahkan kalimat super usil yang ini??

“Kesambet jin putih dari mana loe, bro, tumben sholat!”

Rentetan kalimat di atas tentu sudah tak asing lagi di telinga kita, apa lagi di kalangan mereka yang menamai diri si anak muda. Kalimat-kalimat ‘usil’ tersebut seolah kelakar yang dengan mudah dilemparkan pada siapa saja yang sedang mencoba ‘tekun’ pada nilai dan norma. Dengan mudah bahkan lebih mudah dari PR yang mereka dapat dari sekolah, kalimat-kalimat semacam tadi terus didengungkan tanpa sadar akan efek dari kalimat yang dilemparkan tersebut.

‘Kebaikan’, itulah tujuan yang diusung oleh mereka yang dihadiahi rentetan kalimat usil tadi. Maksud hati ingin menunaikan kebaikan sekaligus pembuktian terhadap kata “Taubat” yang disampaikan pada Tuhan, justru mendapat rintangan berupa kalimat usil semacam tadi. Sebagai individu yang masih dalam proses mewujudkan kebaikan yang bisa jadi telah ditinggalkan sekian lama, tentu akan goyah ketika mendapat kelakar tak beralasan sebagai komentar.

Lantas efek apa yang timbul dari keusilan semacam tadi?

‘Malu’, itulah rasa yang sebetulnya menjadi efek dari kalimat usil tak bertanggungjawab sebagai komentar bagi mereka yang ingin tekun. Menurut opini penulis, mereka yang sedang berusaha menunaikan kebaikan akan merasa ‘malu’ ketika ada pihak lain yang mengomentari usahanya tersebut, lebih-lebih jika komentar yang dilemparkan berupa ejekan. Sebetulnya sudah wajar adanya rasa malu itu timbul ketika seseorang sedang melakukan kebaikan, namun tidak untuk kasus pada remaja. Betapa tidak, remaja merupakan masa dimana rasa ‘gengsi’ itu punya andil besar pada diri mereka. Oleh karena itulah, ketika ada pihak yang mengejek dan menilai bahwa kebaikan yang sedang ditunaikan itu adalah hal konyol sekaligus ‘tumben-tumbenanan’, si pelaku kebaikan langsung undur diri, bahkan tak lagi bernafsu untuk menunaikan kebaikan tersebut.

Lantas, jika malu telah melanda, apa yang akan terjadi??

Umumnya jika malu telah mendera, lebih-lebih pada mereka yang tak punya tekad yang kuat, keesokan harinya kebaikan itu tak akan ditunaikan. Dengan kata lain, mereka akan kembali pada zona sebelumnya. Kebaikan pun kemudian tersimpan jauh dalam angan. Hilang?? Bukan hilang, namun lebih kepada mengendap dalam angan yang entah kapan akan direalisasikan. Jika sudah demikian, tentu sulit untuk mengembalikan situasi, kecuali kalimat usil dilempar jauh dari budaya para remaja.

Karena adanya budaya yang tercermin pada kalimat-kalimat usil di atas, penulis beranggapan bahwa hal itulah yang justru menghambat menjamurnya kebaikan di kalangan remaja. Para tunas bangsa itu seolah lebih berkonsentrasi pada seberapa banyak teman yang berkomentar dari pada esensi kebaikan itu sendiri. Karena konsentrasi mereka terfokus pada komentar teman, pada akhirnya mereka akan mudah goyah dan cenderung melepaskan janji mereka untuk berbuat kebaikan. Dampaknya, ketika hendak melakukan amalan-amalan yang ditetapkan pada nilai dan norma, mereka akan berpikir beribu-ribu kali, bukan untuk berpikir seberapa besar manfaat dari amalan tersebut, namun lebih kepada seberapa banyak kata ‘tumben’ yang temannya lemparkan.

Penulis coba ambil contoh dari realita yang ada. Sebagai contoh adalah adik penulis yang kini duduk di bangku SMP. Pernah suatu ketika ia bangun pagi, kemudian bergegas merappikan tempat tidur, mencuci sepatu dan membersihkan rumah. Tak hanya itu, ia pun getol menawarkan bantuan yang bisa ia lakukan. Tentu hal itu membuat seisi rumah takjub dan terheran-heran. Pasalnya ia memang terkenal malas di rumah. Akhirnya penulis yang memang kerap menggodanya, tergelitik untuk melempar canda.

“Cie…cie…tumben rajin amat! Kerasukan setan dari mana, bro??” goda penulis sambil cekikikan.

Mendengar kalimat usil dari penulis, ia pun nampak gondok. Terbukti dari mulutnya yang maju lima senti. Tak sampai disitu, penulis lagi-lagi menggodanya dengan berkata, “Gitu dong, Bro. Jadi anak tuh yang rajin. Kalau gitu kan bisa disayang mertua.”

Rupanya komentar-komentar usil yang penulis berikan memberi efek ‘jera’ pada sang adik. Kontan ia langsung menghentikan aktivitasnya dan ngeloyor entah kemana. Usut punya usut, ketika diintrogasi hari berikutnya, ia mengaku malu sebab penulis terus menggodanya. Tak hanya itu, sang ibu yang memamerkan tindakan adik itu pun menjadi penyumbang dalam mogoknya aksi bersih-bersih yang dilakukan adik.

Dari contoh dan sedikit uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam melakukan kebaikan yang tercantum dalam nilai dan norma, setiap individu harus memiliki niat terlebih dahulu. Jika niat telah ada, ditambah lagi dengan tekad yang kuat, maka apa pun kendala dan godaan, tak akan menjadi soal. Kemudian, rasa malu hendaknya dibuang jauh-jauh sebab ‘kebaikan’ merupakan hal terpuji, sehingga tak perlu merasa malu dan ragu dalam menunaikannya. Bandingkan dengan serentetan keburukan yang pernah dilakukan, pernahkah kita memikirkan atau pun merasa malu ketika melakukannya? Penulis rasa jarang kita merasa malu atas tindakan yang dilakukan, bahkan tak jarang siswa-siswi sekolah yang kedapatan mencuri dan cabut dari sekolah. Bukankah hal itu merupakan hal buruk yang seharusnya dihindari? Namun faktanya banyak remaja yang menikmati hal buruk tersebut. Oleh karena itu, tak perlu malu melakukan kebaikan yang tentu saja ditunaikan dengan cara yang baik pula.


LOCAL LANGUAGE (SCRIPT PIDATO BAHASA INGGRIS)

Semester 2 lalu, mungkin sekitar tahun 2013 kalau gak salah, aku pernah ikut speech contest di UNNES. It was an unforgetable moment. Panas dingin gimana gitu pas ikut, tapi seru! Nih dia di bawah aku kasih tahu script pidato aku. Asli lho, bukan jiplakan! Check it out!

Ladies and gentlemen
It is a great honor for me to stand right here in front of you all to deliver a speech on “Should local language be deleted in 2013 curriculum?”
Ladies and gentlemen
To begin this speech, I would like to ask all of us about one thing. Have you ever heard about “BhinekaTunggallIka”? Yeah, I think all of us have heard
about it; besides, we understand the meaning of “Bhineka Tunggal Ika”.
As we know, “Bhineka Tunggal Ika” is Indonesia’s slogan which means “Unity in Diversity”. Therefore, we know that our nation consists of different cultures,
ethnic groups, and local languages; nevertheless, we are still one that is Indonesia.
Ladies and gentlemen
We know that Indonesia is a rich nation, not only because of its natural resources, but also its diversity. Because of that, Indonesia grows to be a beautiful
nation; moreover, Indonesia can attract the attention of other nations with all its local cultures and wisdoms.
Ladies and gentlemen
Have we ever asked ourselves why Indonesia can become a beautiful nation like a little girl who grows up to be a teenager who has a good behavior? The
answer of that question is”Culture”! Yes, “Culture” is like a mother who teaches moral values to her children so that her children become a figure with
strong characteristics. Moreover, one thing that makes Indonesia different from other nations is its “Local languages”. Then, what will happen if local
languagesaren’t learnt at school? Should it be deleted in 2013curriculum?
Ladies and gentlemen
Actually we don’t need to ask if local language should be deleted in 2013 curriculum because the answer has been stated in the constitution of 1945 article
32 subsection (2) which declares “State respects and preserves local languages as national cultural wealth”.So, if the government deletes local language
in 2013 curriculum, it means that the government doesn’t apply the constitution.
Ladies and gentlemen
Here I have the other reasons as to why Local languages should not be deleted in the curriculum.
First, we are the ones responsible for preserving our culturesincluding local languages.
Ladies and gentlemen, if we stop at this point without trying to preserve our local language anymore, what will we see in the future of our nation? We
will see nothing. Indonesia won’t be a beautiful nation anymore, Indonesia will lose its character and Indonesia will be like other nations which do not
have cultural diversity. Moreover, the young generation will be affected by the globalization without taking a shield which one is line with the wisdom
of the local culture.
It’s so ironic. Indonesia was born with its cultural diversity; but it has to die because we kill its cultural diversity. IfI may, Ladies and Gentlemen,
I will call this “a culture suicide”.
Second, there’s philosophy in the local language that can develop character of the young generation such as etiquette in Javanese. As we learn the etiquette,
we will learn about “Courtesy”. Isn’t it compatible with the 2013 curriculum which focuses on the character and moral development?? Another example, if
the local language is not studied at school, how can the young generation understand Javanese language and script?? It means that if the young generation
doesn’t know how to read and write Javanese script, the Javanese script will eventually fade away.
Third, there are many people who depend on the local language such as teachers and students of Javanese or other local language departments at university.

Ladies and gentlemen, the local language elimination will affect some local language teachers. They will lose their job; otherwise, they will be forced
to teach different subjects that are not compatible with the background of their education. For example, Javanese teacher has to teach Mathematics. Then
if it happens in our educational environment, it will raise a problem about professionalism. In fact, professionalism is one important thing to createqualified
young generations.
Ladies and gentlemen, if the local language is deleted in the curriculum, what will the students of, say, Javanesedepartment do?? Should they change their
study? If they change their study and choose another department, it means that they waste their effort, time, and money.
Ladies and gentlemen
I think the government must concern with the quality, facilities, and props that can support the learning activity than make itself busy changing curriculum
every year.
Deleting local languages in the curriculum is the same as killing the character of our nation!! It is the same as tearing up “Bhineka Tunggal Ika”!!!
So, think twice before it’s late! Think twice before deleting the local language in 2013 curriculum!!
That’s all my speech. Thank you for your attention.

CATATAN SEORANG DEMONSTRAN : CATATAN-CATATAN SOE HOK GIE DALAM BUKU HARIANNYA

Gak tau kenapa, aku ngefans sama Gie. Terserah orang berpendapat apa tentang sosoknya, yang jelas aku suka idealisme-nya sebagai seorang pemuda Indonesia,
dan yang paling utama aku suka puisi-puisi serta kata-kata bijaknya....so, ada masalah? Gak! Gimana pun sosok Gie, aku tetep suka. Ok, yang mau baca, ini
ada beebrapa catatan Gie dalam buku hariannya :

` Nobody can see the trouble I see, nobody knows my sorrow.” ― Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran“
` Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak
dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua (Catatan Seorang Demonstran, h. 96)” ― Soe Hok Gie“
` Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan” ― Soe Hok Gie
` “Tapi sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. seseorang mau berkorban buat sesuatu,

katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa (Catatan Seorang Demonstran, h. 101)” ― Soe Hok Gie“
` Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: ‘dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan’. Tanpa itu semua maka kita
tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah
kehilangan itu maka absurdlah hidup kita” ― Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran“
` Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi (Catatan Seorang Demonstran,
h. 93)” ― Soe Hok Gie“
` Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa
kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai
sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.

Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” ― Soe Hok Gie, Catatan Seorang

Demonstran“
` Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi
pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya

sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia. ” ― Soe Hok Gie“
` Dunia ini adalah dunia yang aneh. Dunia yang hijau tapi
lucu. Dunia yang kotor tapi indah. Mungkin karena itulah saya telah jatuh cinta dengan kehidupan. Dan saya akan mengisinya, membuat mimpi-mimpi yang indah

dan membius diri saya dalam segala-galanya. Semua dengan kesadaran. Setelah itu hati rasanya menjadi lega.” ― Soe Hok Gie“
`Makhluk kecil kembalilah. Dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu.” ― Soe Hok Gie,
Catatan Seorang Demonstran“
`Karena aku cinta pada keberanian hidup” ― Soe Hok Gie“
`Saya mimpi tentang sebuah dunia dimana ulama, imam, buruh, dan pemuda bangkit dan berkata, “stop semua kemunafikan ! Stop semua pembunuhan atas nama apapun..
dan para politisi di PBB, sibuk mengatur pengangkatan gandum, susu, dan beras buat anak-anak yang lapar di 3 benua, dan lupa akan diplomasi. Tak ada lagi
rasa benci pada siapapun, agama apapun, ras apapun, dan bangsa apapun..dan
melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.” ― Soe Hok Gie“
` Aku kira dan bagiku itulah kesadaran sejarah.
Sadar akan hidup dan kesia-siaan nilai.” ― Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran“Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan:

‘dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan’. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa

cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurdlah hidup kita.” ― Soe Hok Gie, Catatan

Seorang Demonstran“
` Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.”
― Soe Hok Gie“
`Ketika Hitler mulai membuas maka kelompok Inge School berkata tidak. Mereka (pemuda-pemuda Jerman ini) punya keberanian untuk berkata “tidak”.
Mereka, walaupun masih muda, telah berani menentang pemimpin-pemimpin gang-gang bajingan, rezim Nazi yang semua identik. Bahwa mereka mati, bagiku bukan
soal. Mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir. Tidak ada indahnya (dalam arti romantik) penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain
bicara tentang kebenaran.” ― Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran“
Tetapi kenang-kenangan demonstrasi akan tetap hidup. Dia adalah batu tapal daripada perjuangan mahasiswa Indonesia, batu tapal dalam revolusi Indonesia
dan batu tapal dalam sejarah Indonesia. Karena yang dibelanya adalah keadilan dan kejujuran.”
― Soe Hok Gie“The eagle flies alone” ― Soe Hok Gie, Sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan

adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan” ― Soe Hok Gie

JIKA 'RASA' BERKATA : VERSI LABIRIN

Ada sedikit ungkapan sang 'Rasa'. Ini sebenernya lanjutan dari tulisan 'Epilog' Jika Rasa Berkata Versi 'Cermin'. Mungkin teman-teman bingung maksud atau
jalan cerita tulisanku ini, tapi nikmati aja ya hehehe, syukur-syukur komen dan ikut analissis hehehe. Tulisan ini jg diposting di Kartunet (
www.kartunet.com)

Hope you enjoy it!

---

Gulita memeluk mereka. Pekat tanpa cahaya, di sana mereka berada. Tangan hanya mampu meraba, penuh harap agar bertemu dengan malaikat dari syurga. Pandangan
terlempar ke segala arah namun gulita itu lebih matang dan dewasa sehingga cahaya tak kunjung datang jua.

-(0)-

Nafasnya terengah, memburu dengan waktu, mencoba mengusir diri dari pekat yang menenggelamkannya. Namun itu sia-sia. Entah telah berapa lama ia berputar,
menjejakkan kaki dari satu alur ke alur lainnya. Ia tak tahu harus mencari titik dimana lagi. Semuanya penuh dengan pekat! Tak ada cahaya, lantaas bagaimana
bisa keluar dari tempat ia berada?

“Tolong!”

Bibir tipisnya terbuka, melemparkan udara yang menggumpal menjadi kata-kata, kemudian melemparkannya ke langit-langit yang menjulang seolah tak berujung.
Namun kalimatnya hanya menguap di udara, memantul dari sudut satu ke sudut lainnya. Andai kalimat itu membeku dan menghantam pintu keluar yang ia cari
agar ia dapat keluar, tentu itu akan membuatnya bahagia.

“Kau akan mati di tempat ini!”

Ia mendengar suara menggema di sekitarnya. Bulu kuduknya berdiri, dadanya berdegup kencang, seolah-olah dinding-dinding di sekitarnya semakin bergerak ke
arahnya dan siap menghimpit tubuh kecilnya.

“Tolong!”

Suaranya kembali melolong bagai anjing yang lapar oleh dinginnya malam. Jejak kakinya berpindah mengikuti arahan dari hati kecilnya. Terus berdetak menciptakan
melodi di tempat asing tanpa terang. Yang ia harap hanya temukan terang meski nafasnya terasa sesak karena ketakutan yang memburu dalam dada.

“Uhuk…”

Ia terbatuk di tengah-tengah jejak kakinya. Nafasnya begitu sesak. Keringat dingin mengalir di dahinya tanpa peduli hal itu justru dapat menambah level
ketakutannya. Udara sepertinya semakin menipis, terbukti dari batuk yang semakin sering ia lontarkan. Ah, sial! Ketakutannya tentu menang sebab ia pasti
menganggap ia akan mati! Tak lagi ada kesempatan untuk lari! Ia akan mati di tempat asing, di tempat yang diisi oleh pekat yang tak bersahabat!

“Bersiaplah untuk mati!” ada suara merangsek ke telinganya. Suara itu semakin dekat terdengar. Apakah itu suara malaikat maut?? Ah, tidak! Bukan malaikat
maut yang ia harap, namun malaikat pembawa terang yang ia nanti kehadirannya!

“Tidak! Aku tidak akan mati di tempat ini! Aku pasti bisa keluar!”

Tak terduga! Ia menjerit melawan suara yang sedari tadi berdzikir untuk kematiannya. Ia kembali melangkah. Perlahan mengatur nafasnya, perlahan membagi
sisa udara agar masuk ke seluruh aliran kerongkongannya. Rupanya ambang kematian tak menghapus harapan dalam dirinya. Tanpa peduli sudah berapa kali ia
berputar-putar dalam pekat, ia terus jejakkan kakinya. Jalan itu pasti ada, begitu yang ada di pikirannya.

“Tuhan, ijinkan aku tetap hidup. Ijinkan aku keluar dari tempat ini. Aku ingin hidup Tuhan…”

Kini bibirnya melantunkan harap kepada Tuhan. Ia tak peduli jikalau Tuhan sebetulnya tengah mengirim malaikat maut untuk mengambil nyawanya. Ah, bisakah
ia melawan maut?? Bisakah takdirnya berubah? Omong kosong! Namun orang bijak sering berkata bahwa apabila pengharapan telah habis, maka habis pula jalan
hidupmu. Entah karena perkataaan orang bijak itu, atau karena ia yang menganggap maut tak akan datang sebelum ia merasakan tubuh mungil dalam gendongannya,
ia tetap berani menjejakkan kakinya pada poros gulita yang ada. Ia tak sadar sebetulnya hal itu dapat menghabiskan tenaganya yang sudah di batas ambang.

Dug! Ia terjatuh. Tubuhnya lemas. Pucat sekali rautnya. Inikah akhir dari hidupnya?? Akan berakhir sia-siakah detak kakinya yang ia seret sedari tadi??
Apakah Tuhan menjawab dzikirnya dengan malaikat maut yang memang telah ia siapkan???

Ia masih terduduk di lantai beku. Dingin menjalari tubuhnya, bercampur dengan rasa takut yang membakar jiwa. Air matanya kini meleleh meski basahnya hanya
ia yang dapat merasa. Lantas digerakan tangannya agar menyentuh gundukkan di perutnya. Dalam sesak ia usapkan jemarinya. Bibirnya gemetar, sedikit terbuka,
sedikit melepas udara. Ada sejuta kasih yang memancar darinya. Kasih yang coba ia utarakan pada gundukkan di perutnya.

“Malang sekali nasibmu, nak. Mengapa kau harus lahir dari rahimku?? Mengapa kau harus lahir tanpa ada lelaki di sampingmu??”

“Haruskah kau mati di sini bersamaku?? Bukankah ini dosaku, nak??”

Ia tergugu. Dicengkramnya kuat-kuat gundukan di perutnya. Ingin sekali ia keluarkan isi dalam gundukkan itu agar tak ikut mati bersamanya. Namun itu sia-sia.
Nyawa di dalam gundukkan itu terlalu kuat sepertinya. Isi dalam gundukkan itu seolah berkata, “Aku pasti hidup!”. Perkataan yang seolah-olah terbang berputar
di kepalanya itu sebetulnya justru membuat ia semakin tersiksa. Dilema, ia benar-benar dilema. Harus bagaimana?? Sementara tenaga sudah tak ada, apakah
kaki itu harus terus melangkah??

Jalan pikirannya buntu. Tak ada lelaki yang dapat memapahnya agar tetap mampu melangkah mencari terang dan jalan keluar. Ia seorang diri, hanya berteman
gulita yang sesakkan dada. Ikatan sebuah harapan seolah ingin ia lepaskan. Ia tak kuat, benar-benar tak kuat. Ia tak lagi punya tenaga. Lantas disentuhkannya
jemari lembutnya pada lantai yang ia duduki. Cukup lama ia jejakkan jemarinya disana. Beku, benar-benar beku. “Haruskah lantai ini menjadi alas kematianku?”
ia bertanya pada dirinya sendiri.

Detik berikutnya, ia usap lantai beku itu. Setelah itu, kepalanya telah tenang di atas lantai. Rambut lurusnya tergerai, jatuh dari bahu ke lantai. Ia telah
siap, begitu pun dengan kaki yang lurus di atas lantai. Sementara itu, kedua tangannya yang telah siap di atas gundukkan pada perutnya ia sempatkan mengusap
basah di kedua pipinya.

Ia menghela nafas panjang dan berat. Dari tarikannya, seolah itu adalah nafas terakhirnya. Ia seolah tak sanggup menghirup udara lagi. Kemudian ia pun berkata,
“Inikah akhir segalanya?? Akankah berakhir disini???”

“Bila memang ini takdirmu, Tuhan, biarkan yang ada dalam rahim ini mati bersamaku. Aku siap bila memang harus sekarang, Tuhan…” lemah bibirnya berucap.
Seiring dengan lemahnya bibir itu, kedua kelopak mata pun ikut melemah. Ia hendak memejamkan matanya. Untuk terakhir…ya…untuk terakhir kalinya.

‘Namun’ itu selalu ada pada setiap untaian kata, termasuk skenario sang sutradara. Maka, pengecualian itu tetap ada pada takdir makhluk di dunia…

Mata itu nyaris tertutup ketika dentang terdengar dari sudut yang tak terjamah oleh mata. Yang jelas, dentang itu ada di tempat yang sama. Ya, di tempat
yang sama dengan tubuh yang sedang meregang nyawa di atas marmer tak bernyawa.

>>Bersambung>>

BEROPINI DALAM KELAKAR SNMPTN 2014

Note : Tulisan ini dibuat ketika masa-masa heboh SNMPTN 2014 yang melarang disabilitas mendaftar di beberapa jurusan...

Sedang mencoba beropini. Bukan dan tanpa bermaksud apa-apa, hanya ingin belajar menulis sekaligus suarakan harapan yang ada. Semoga opini yang ada tak jadi
perpecahan di antara kita. Mari bersama berjabat tangan demi kemajuan dunia pendidikan. Bagi yang ingin ikutan, silahkan layangkan opini lewat kolom komentar.
Sekali lagi tak ada maksud memprovokasi atau cari sensasi, melainkan hanya ingin "Belajar" lewat tulisan. Happy reading!

---

Indonesia belumlah begitu tua. Usianya tak lebih tua dari kakek-nenek kita. Namun siapa sangka wajahnya telah nampak keriput oleh beban yang dicipta oleh

mereka yang merasa penguasa di Indonesia?

Hari demi hari, masalah bertubi datang hampiri Indonesia yang tengah menata diri demi masa depan berarti bagi anak-cucu negeri. Belum usai kasus korupsi
yang rupanya jadi hobi pejabat negeri, kini koloni problematika justru kembali tiba tanpa nurani pada dunia pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri. Tak
cukup puas mengotak-atik sistem pendidikan yang terkadang kurang realistis dengan kondisi bangsa, kini mereka yang duduk di garis kuasa atas Seleksi Nasional
Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sekilas dianggap tengah cari “Gara-gara”.

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2014 kini memang tengah jadi problematika bagi kami penyandang disabilitas yang haknya kerap diperkosa.
Entah tutup mata, entah tutup telinga atau pada nyatanya tak tahu apa-apa, mereka yang duduk pada garis kuasa kebijakan SNMPTN 2014 dengan mudah memberi
“Kode” pada beberapa program studi yang dilelang dalam pesta kelahiran cendekiawan bangsa. Dengan tanpa khotbah atau ceramah, mereka pukul palu pada kami
yang hidup penuh stigma dengan ketunaan yang kami punya. Tanpa bertanya, kami diminta meninggalkan zona terlarang dalam lelang. Kedokteran, keperawatan,
psikologi, Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, bahkan Bahasa Indonesia serta beberapa program studi lainnya menjadi terlarang bagi Tunanetra, Tunarungu, Tunawicara,
Tunadaksa, dengan tak lupa juga bagi mereka yang buta warna. Kami para disabilitas seolah dipaksa menyerah sebelum berperang tanpa ada kesempatan beri
pembuktian.

Ironik memang. Di tengah kerontangnya pemenuhan hak bagi disabilitas, problematika ini justru seolah menjadi belati yang mengoyak nurani. Jangankan diberi
kemudahan akses dalam pendidikan tinggi, justru kami dibuat mati dengan kode-kode yang sepintas mencolok bagai diskriminasi. Sementara itu, Tebalnya peraturan
tentang kesamaan mengakses pendidikan bagi setiap warga negara Indonesia, seolah menjadi tumpukkan kata yang usang dimakan usia. Tak adakah niat lebih
besar tuk membuat kami (disabilitas) “Sejajar”?

Tutup mata kah, tutup telinga kah, atau memang tak tahu apa-apa kah mereka yang duduk di garis kuasa SNMPTN 2014 bila Bahasa Indonesia saja yang notabene
Bahasa kesatuan Republik Indonesia dijadikan terlarang untuk disabilitas? Lucu sekaligus penuh ironi. Ketika bangsa lain berlomba benahi diri hapuskan
diskriminasi bagi disabilitas yang kerap dianggap membebani, bangsa ini justru ciptakan degradasi bagi anak bangsa yang punya mimpi. Dengan dalih mengarahkan
program studi agar lebih “Manusiawi”, mereka putuskan “Syarat fisik” pada beberapa program studi, padahal justru dapat batasi mimpi. Adilkah kelakar semacam
itu? Bila yang berjuluk non-disabilitas saja diberi akses selebar-lebarnya atas program studi yang diminati, lantas mengapa disabilitas justru diberi akses
selebar daun kelor? Memang keterlaluan bila Bahasa Indonesia menjadi terlarang bagi Tunanetra, Tunarungu dan Tunawicara.

Setiap aksi pasti punya reaksi. Setiap kebijakan yang tak pakai nurani pasti datangkan kontroversi. “Disabilitas menggugat”, itulah headline yang pantas
jadi reaksi atas aksi pencantuman kode syarat fisik pada beberapa program studi di Perguruan Tinggi Negeri. Mereka yang panas oleh isu diskriminasi pada
pendidikan tinggi, lari kesana-kemari demi tumbangkan kebijakan yang dibuat tanpa diskusi. Mulai dari petisi hingga turun ke lembaga yang punya relevansi
atas kasus semacam ini, itulah reaksi yang dinjukkan oleh objek yang didzalimi. Geram, muak, penat, tentu ingin ditumpahkan pada si pemnbuat kebijakan.
Namun, haruskah reaksi mentok pada petisi dan emosi?

Banyak opini yang menawarkan diri pada problematika SNMPTN 2014 ini. Namun bagi penulis dan teman-teman di organisasi, petisi dan emosi akan mandul bila
tak dibarengi pembuktian diri. Tentu tak ada salah dengan petisi dan geram yang menjelma pada “Emosi”, namun alur pikiran lain sejatinya bisa dijadikan
alat untuk bereaksi. Bisa jadi kebijakan yang tak memihak pada kaum minoritas ini timbul karena disengaja, meski bisa jadi pula karena ketidaktahuan yang
dipaksa. Bila memang mereka yang duduk di garis kuasa SNMPTN 2014 sengaja tutup mata dan telinga, itu memang tak beda hina dengan benda mati yang tak punya
hati. Namun beda cerita bila kebijakan yang ada dicipta karena ketidaktahuan yang dipaksa. Bila faktanya mereka tak tahu apa-apa namun salah langkah dengan
enggan tuk bertanya, tentu kita (disabilitas) harus buka mata dan telinga mereka tentang siapa diri kita. Lewat pembuktian, lewat dialog aman, itulah alur
pikiran yang penulis dan teman-teman coba tawarkan. Penulis dan teman-teman organisasi beranggapan bahwa bila ingin menggugat mereka, cobalah sadarkan
logika serta nurani yang mereka punya. Terlebih bagi kampus yang telah nyatakan diri sebagai bagian dari kampus inklusif, sejatinya perlu diingatkan kembali
mengapa kode syarat fisik itu perlu membatasi disabilitas. Dalam proses penyadaran lewat dialog itu, coba beri tahu mereka dengan bukti nyata lewat mahasiswa
yang telah atau tengah menimba ilmu pada program studi yang masuk zona terlarang pada SNMPTN 2014. Demo nyata tentang bagaimana disabilitas mengakses perkuliahan,
strategi serta hasil yang sejauh ini didapat, hendaknya menjadi bukti nyata sebagai usaha bukakan mata, hati dan telinga mereka. Secara detail hendaknya
kita (disabilitas) jelentrehkan apa yang kita bisa entah lewat tekhnologi atau media lainnya. Bila mereka telah mengerti bahwa kita (disabilitas) mampu
bersaing dalam program studi yang diminati, tentu mereka tak lagi sangsi. Oleh karena itu, penulis dan teman-teman organisasi beranggapan bahwa dalam tempo
sekarang ini, lebih arif bila coba siapkan diri tunjukkan jati diri. Beritahu lewat demo tekhnologi tentang alat bantu, atau bukti yang bisa mengamini
kemampuan yang dimiliki. Dengan bukti nyata, tak mustahil bila kebijakan diskriminasi itu tumbang tanpa paksaan.

Menyoal tentang kode syarat fisik pada SNMPTN 2014, penulis pribadi merasa tak perlu. Sejatinya tanpa diberi tahu semcam itu, kami (disabilitas) pun sadar
sampai mana batas kemampuan kami. Coba ambil contoh seorang Tunanetra. Tentu Tunanetra akan berpikir ulang ketika hendak mengambil program kedokteran.
Memang dirasa sulit bila Tunanetra harus melakukan bedah pada pasien, seumpama. Namun kesulitan itu bukan berarti jadi larangan. Hak biarkan jadi hak.
Biarkan hak kebebasan mengakses pendidikan dimiliki oleh si Tunanetra atau disabilitas lainnya, smentara menyoal perkara sulitnya akses dalam mempelajari
bedah tubuh, seumpama, biarkan kembalikan pada si disabilitasnya. Kewajiban pejabat negeri adalah berikan hak penuh pada setiap warga. Sekali lagi penulis
pribadi berpendapat bahwa tanpa diberi peringatan berupa kode syarat fisik, kami (disabilitas) pun “Tahu diri”. Yang terpenting adalah hak biarkan tetap
jadi hak.

Untuk info program studi yang terlarang bagi disabilitas, bisa dicek di link berikut :
Universitas Indonesia silahkan di link :
https://web.snmptn.ac.id/ptn/31

Bagi yang Undip silahkan di link :
https://web.snmptn.ac.id/ptn/43-->

Minggu, 19 April 2015

HOROR : KENAPA TAKUT?

Note ini adalah salah satu part kecil dalam tumpukan diary aku. Udah lewat hari dan bulannya, tapi siapa tahu ada yang pengen baca diary pribadi aku hahhaa.
Silahkan menikmati dan berkomentar ya! Oia, note ini juga diposting di Kartunet... Oia, note ini gak bermaksud menyudutkan siapa pun, tapi ini murni perasaan
dan pengalamanku..

KENAPA TAKUT?

Sabtu, 05 April 2014

Aku terdiam. Mulut terkunci dengan nafas yang berhembus pelan. Kepalaku kubiarkan tersandar. Pikiranku menerawang, dan pandanganku kosong menembus kaca
mobil yang sedang kutumpangi. Bosan? Bukan bosan. Marah? Tidak juga. Lantas? Entahlah perasaan ini apa namanya. Yang jelas, aku tak ingin mobil yang kutumpangi
cepat mencapai tujuan. Aku ingin mobil ini berjalan di tempat, atau bahkan mogok sampai hari senin tiba.

Jahat kah pikiranku itu? Tidak, kurasa tidak, sebab apa yang kupanjatkan semata-mata bukan karena aku ingin terjadi apa-apa dengan seisi penumpang di mobil
ini, namun karena sebab lain, sebab yang bisa kukatakan tidak masuk akal. Mengapa kukatakan demikian? Alasannya karena aku takut. Takut? Ya, takut, aku
takut. Tak ada alasan lain selain rasa takut yang sejak kemarin menghantuiku.

“Kenapa kok diem aja, Ka?” lelaki yang duduk di sebelahku tergelitik atas sikap bungkamku selama perjalanan kami menuju rumah. Aku terkesiap dan spontan
menggeleng meski kusadar sosok di sebelahku ini tak dapat menangkap gerak kepalaku karena indera penglihatannya yang tak lagi berfungsi.

“Gak apa-apa kok, Pak,” jawabku lirih pada lelaki yang menjadi Ketua di DPD Pertuni Jawa Tengah. Aku berusaha menyembunyikan rasa takutku darinya. Bukan
apa-apa, aku hanya malu mengungkap perasaan takut yang bagi sebagian orang tak beralasan itu.

Entah telah berapa banyak detik yang terbuang. Entah telah berapa banyak lampu merah yang telah kulewati. Entah berapa banyak doa yang telah kupanjatkan
demi mogoknya kendaraan beroda empat ini. Semuanya sia-sia belaka. Kini aku tepat berada di depan rumah kosku. Bulu kudukku berdiri. Raut wajah cemas semakin
kentara dan dapat dengan mudah dideteksi oleh siapa saja yang melihatku. Untung sepasang suami-istri pemilik mobil yang kutumpangi yang notabene orang
tua dari lelaki yang tadi duduk di sebelahku tak sampai memperhatikan wajahku mengingat posisi tempat duduk kami tak sejajar.

“Udah sampe ya?” tanyaku basa-basi.

“Iya, silahkan dan hati-hati ya!” ucap ketiga orang di dalam mobil. Aku melempar senyum pada mereka, berusaha ceria meski detak jantungku tak lagi wajar.

“Terima kasih ya, Pak, Bu. Mohon maaf merepotkan,” kataku sambil menuruni mobil milik orang tua Pak Suryandaru, sang ketua.

“Iya, sama-sama, Mbak…”

“Mari…Wasalamualaikum…” aku membanting pintu mobil. Sedetik kemudian mobil melaju dan lenyap dari pendengaranku.

Aku melangkahkan kakiku dengan ragu. Detak jantungku masih memburu. Cemas di wajahku masih tetap ada. Aku tak ingin, rasanya tak ingin masuk ke dalam rumah
kos yang sudah satu tahun lebih menjadi tempat singgahku. Namun kenyataan rupanya tak mendukung. Aku harus masuk, harus tetap langkahkan kaki ke dalam,
sebab bila tak disini, dimana lagi aku akan melewatkan malam?

Aku menyentuhkan tanganku pada gerbang. Menarik perlahan, namun tak ada respon gerakan pintu gerbang. Kucoba sekali lagi, kali ini pada pintu di sisi yang
lain, namun hasilnya tetap sama. Mendapati itu, kecemasanku semakin berlipat-lipat. Lututku lemas. Aku tak ingin, benar-benar tak ingin meneruskan tahap
selanjutnya. Namun lagi-lagi aku teringat pada malam yang mulai menjelang serta bunyi adzan yang mengalun di setiap sudut kota. Bila sudah begitu, aku
tak lagi punya pilihan. Aku harus masuk, harus melawan segalanya, dan lewatkan malam di dalam kamar dengan nasib yang entah seperti apa jadinya.

Setelah tekadku bulat, aku merunduk di depan gerbang, kemudian memasukan tangan di antara sela-sela pintu. Lantas kugerakkan tanganku, meraba ke setiap
bidang demi menemukan gerendel pintu gerbang yang menjadi tujuan. Meski tangan tidak diam, namun dalam pikiran justru berharap gerendel telah digembok
dengan kunci super canggih, atau bahkan bila perlu kunci yang dipakai untuk gembok telah dilarung ke laut dan termakan oleh hiu di sana. Namun ingin hanya
tetap jadi ingin. Tanganku ternyata menemukan gerendel pintu yang tak tergembok. Bila begitu adanya, itu berarti aku bisa lolos dari pintu gerbang dan
tinggal melangkah masuk ke dalam rumah lalu naik ke kamar.

Aku menghela nafas berat, sangat berat, bahkan jantungkunyaris copot dan tergeletak di lantai. Namun aku telah bertekad bahwa aku harus jadi pemberani,
toh aku tidak sedang ikut uji nyali, jadi untuk apa takut?

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, sampai beberapa langkah dan akhirnya aku tepat berdiri di depan pintu masuk ke dalam rumah. Jantungku masih berdetak
kencang. Keringatku kini mengalir entah karena hawa panas atau hal lain. Aku menarik nafas dalam-dalam, kemudian mengulurkan tanganku pada gagang pintu
di hadapanku dan berkata, “Aku harus berani! Gak ada apa-apa!”

Gagang pintu itu kutekan, lalu daun pintu kudorong kuat-kuat. Eh, namun, pintu itu diam, tak bereaksi apapun. Ada apa ini? Anugerah atau justru bencana?
Ah, aku berani bertaruh untuk yang kedua! Betaapa tidak, bila pintu terkunci, bisa jadi penghuni kos lainnya tak sedang berada di dalam. Lalu aku bagaimana?

Kalut kini kurasakan. Panik dan berbagai perasaan kelu lainnya menggumpal jadi satu dalam dada. Aku tak dapat berpikir jernih. Otakku mampet, tersumbat
rasa-rasa aneh yang terus menghantui. Kini pilihannya jadi dilematis. Tetap berdiri di depan pintu kos yang sejak kemarin begitu mengerikan, atau lari
dan mengungsi sampai ada tanda-tanda kehidupan di dalam? Ah, bila kubertaruh untuk yang kedua, lantas siapa yang akan menjadi tempat pengungsianku padahal
hari sudah malam? Diam, menggigit bibir bagian bawah, dan menarik nafas panjang, berusaha mengendalikan diri. Itu yang kulakukan beberapa saat setelah
kudapati pintu masuk tak dapat terbuka. Akhirnya kuputuskan untuk menggedor pintu sekencang-kencangnya, berharap di dalam masih ada nafas yang bisa membuka
pintu akses itu.

Dog…dog…dog…tanganku beradu kencang dengan pintu. Suara tangan yang beradu terdengar gaduh, mirip seseorang yang tengah marah-marah. Beruntung salam meluncur
di tengah-tengah aktivitas menggdor pintu itu, sehingga aku tak sedang dikira marah-marah. Sekali, dua kali, sampai berkali-kali kugedor pintu kos sekuat-kuatnya,
namun tak ada jawaban langkah kaki atau suara yang menyahut salamku.

Aku diam. Menghentikan aktivitas menggedor pintu, dan mencoba peruntungan lain. Tanganku kusentuhkan lagi pada gagang pintu. Bersiap menekannya kuat-kuat
seraya berkata, “Mbak Lili!!”

Aku berteriak-teriak memanggil sang penjaga kos, namun nihil. Gagang pintu yang kutarik-tarik dan mengeluarkan suara gaduh ternyata tak membangunkan siapa
pun yang ada di dalam. Sial, benar-benar sial. Pasti di dalam tak ada siapa-siapa. Akhirnya aku menyerah. Menarik tanganku dari gagang pintu dan melangkah
menjauhi benda yang tak memberiku kebhagiaan itu. Kakiku lemas. Wjahku kusut. Kedua bola mataku panas. Bila sudah begini, alamat hujan deras di mataku.
Namun aku berusaha tenang, tidak panik, dan menggap hari ini aku tidak sedang diliputi rasa takut, dan pintu kos yang tak dapat terbuka ini hanyalah insiden
biasa. Ya, aku harus berpikir begitu bila tak ingin semakin kacau.

Tak ada yang bisa kulakukan bila sudah begini. Satu-satunya cara yang bisa kulakukan hanyalah menelpon orang-orang yang berkepentingan. Ah, sial, ternyata
setelah kuingat-ingat, di ponselku hanya ada tiga nomor orang yang punya kepentingan. Pertama adalah sang penjaga kos; kedua adalah Rizki, teman sekosku,
dan terakhir adalah Mbak Tya, yang juga teman sekosku. Namun sayangnya Mbak Tya sedang pulang kampung, maka sudah barang tenttu ia tak dapat membukakan
pintu buatku. Akhirnya kuputuskan untuk menelpon Mbak Lili, sang penjaga kos.

Lantas kukeluarkan ponsel dari dalam saku celanaku. Kudekatkan ponsel itu ke telinga kananku demi bisa mendengar suara screen reader. Kutekan huruf ‘M’
hingga kutemukan nama ‘Mbak Lili’ di kontak teleponku. Tanpa pikir panjang, tombol ‘dial’ langsung kutekan. Nada tersambung terdengar dari ujung telepon.
Suaranya timbul tenggelam, seperti kehilangan sinyal. Aku jadi ketar-ketir, cemas akan mendapat bencana yang berikutnya. Ah, namun bencana memang datang.
Ia tak menjawab teleponku. Sial, hari yang sial. Namun aku tak patah arang. Kucoba sekali lagi. Kutekan tombol ‘dial’ sekali lagi, meski setelah menunggu
jawaban tak lagi ada. Coba lagi. Aku mencobanya lagi. Namun nihil lagi-lagi kudapati. Merasa percuma, akhirnya kuputuskan mengirim SMS saja. SMS sudah
berhasil kukirim, dan harapanku tentu nasib baik. Selesai dengan Mbak Lili, kucoba peruntungan lainnya. Rizki, kini ialah yang jadi targetku. Kutekan-tekan
ponselku, mencari nama ‘Rizki Udinus’ di dalamnya. Berhasil, aku telah menemukannya. Dengan perasaan kalut, aku menelpon gadis Tunanetra itu. Harapanku
besar padanya sebab dia adalah penghuni kos satu-satunya setelah aku yang paling jarang kelayaban di luar kos. Ah, namun bencana lagi-lagi datang!

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktiv”

Benarkah apa yang kudengar?? Tak mungkin, aku merasa itu tak mungkin. Akhirnya kucoba sekali lagi. Ternyata ponsel gadis yang pintar bermain biola itu memang
tak aktif. Aku makin kalut. Ternyata aku baru sadar kalau dia sedang pergi ke gereja.

“Kamu nanti malam ada di kos kan, Riz?” kataku tadi pagi ketika aku sedang menemaninya belajar komputer bersama Ari, sang instruktur.

“Ya, saya di kos. Tapi sore jam 5 saya ke gereja. Hari Jum’at besok kan paskah,” balasnya dengan logat Papua yang kentara.

“Yaaaa…kamu gak ada di kos dong. Aku gak ada temennya dong nanti sepulang dari Pertuni,” nada kecewa kentara betul dalam kalimatku.

“Tenang, sayang. Ke gereja paling jam 9 juga udah pulang,”

Obrolanku dengan Rizki terputar kembali dalam benakku. Lututku jadi lemas. Aku sadar sekrang sudah lebih dari jam enam sore, dan pasti Rizki tidak sedang
di kos. Gereja, ya, dia sedang ada di gereja. Lantas bagaimana nasibku sekarang? Menunggu? Haruskah aku menunggu di depan kos yang tepat berhadapan dengan
jalan ramai yang siapa saja bisa lewat, bahkan penjahat sekali pun?

Di tengah kekalutanku, aku berusaha tetap tegak dengan berpegangan pada pintu gerbang. Aku tak punya cukup nyali untuk berdiri di dalam garasi. Tempat itu
terlalu menyeramkan, setidaknya sejak kemarin, sejak berita itu mampir ke telingaku. Kini tangan kiriku bertumpu pada pintu gerbang. Tubuhku terasa berat.
Sepertinya itu akibat dari berbagai rasa yang menggumpal. Lelah karena seharian pergi, takut yang sedari kemarin menjalari, dan kesal karena tak ada satu
pun orang yang menjawab kegusaranku akan kos yang terkunci ini bersatu padu menghancurkan pertahananku. Aku menangkat tangan kananku. Dengan pendengaranku,
kuperhatikan ponsel yang tergenggam di tangan. Namun ponsel itu tetap bisu. Lama kuamati, namun ponsel itu tak juga mengeluarkan dering, yang terdengar
hanya bunyi screen reader yang mengoceh entah minta apa. Aku kecewa. Seolah tak ada harapan. Haruskah aku berdiam di depan kos sampai Rizki pulang dari
gereja? Yang benar saja? Tidakkah merasa bodoh bila aku harus berdiri disini hingga pukul sembilan tiba? Tidak, sepertinya aku tak ingin menjadi sebodoh
itu, dan sebuah nama di ponselku menjadi tempatku mencari pertimbangan.

“Haloo…” suraku gemetar meski sedikit kehangatan merasuk dalam jiwaku tepat ketika suara itu membalas ucapanku.

“Iya…” suaranya beradu dengan musik. Kurasa ia masih di jalan, di dalam bus lebih tepatnya.

“Mas, aku takut. Aku sedih. Aku gak bisa masuk kos,” aku merajuk, persis seperti anak kecil yang mengadu pada ayahnya atas perlakuan teman yang mengambil
mainannya.

“Kok bisa?”

“Gak tahu. Gak ada yang bukain pintu. Aku udah gedor-gedor juga gak ada yang bukain. Nelpon Mbak Lili juga gak diangkat. Di-SMS juga gak dibales. Nelpon
Rizki juga gmalah gak aktiv nomernya,” panjagn lebar kujelentrehkan nasib sialku pada pemuda itu. Namun, belum sempat dia menjawab, telponku berbunyi ‘bip
bip bip’, tandanya ada telepon masuk ke ponselku. Akhirnya kuminta pemuda itu mengakhiri pembicaraan kami agar aku bisa menerima panggilaln masuk ke ponselku.

“Hallooo…” kataku dengan harapan sebesar-besarnya.

“Iya, Mbak. Mbak Eka dimana?” aku tahu siapa penelpon itu. Mbak Lili, dialah penelpon yang teleponnya kutunggu sejak tadi.

“Aku di depan kos, Mbak. Aku gak bisa masuk. Aku udah gedor pintu tapi gak ada yang bukain. Mbak Lili dimana? Di dalam ada siapa, Mbak?” kalimatku memburu.
Terdengar tak sabar, dan tentu berharap ada kalimat penyejuk yang datang dari perempuan berstatus mahasiswa itu.

“Saya tidak ada di kos, Mbak. Bukannya kemarin sudah dibagi kunci masing-masing? Kenapa tidak dipakai?” aku gondok. Jalan keluar tak kudapati, namun kunci
yang dibagi Cuma-Cuma kemarin malah dijadikan alasan.

“Aku lupa bawa, Mbak. Kuncinya aku tinggal di kamar, soalnya kan kemarin juga anak-anak pada gak pake kunci, Mbak,” kataku membela diri.

“Terus di dalam ada siapa, Mbak?” lanjutku mencari angin segar.

“Aduh, saya tidak tahu, Mbak. Coba hubungi Mbak Cinde,” pintanya.

“Gak punya, Mbak. Aku gak punya nomer temen-temen. Rizki juga malah gak aktif nomernya,”

“Ya udah saya kirim nomernya Mbak Cinde ya,”

Pembicaraan di antara kami pun berakhir. Jujur aku sudah agak tenang, meski belum benar-benar tenang. Aku tahu Cinde, salah seorang teman kosku tidak sedang
berada di kos, sebab bila dia ada di kos, sudah barang tentu dia bukakan pintu yang kugedor tadi. Mustahil bila pintu yang kugedor kuat-kuat tadi tak ada
yang mendengar. Namun, satu menit, lima menit, sepuluh menit, Mbak Lili tak kunjung memberikan nomer teleppon yang kuminta. Ketika kukirim SMS pun dia
tak membalas. Gondok, aku benar-benar gondok. Rasanya ingin marah, namun ini bukankah murni kesalahanku? Benar kan?

Aku tak lagi bergairah. Aku pasrah, tak ingin ambil pusing dengan segalanya. Biar nasibku kupertaruhkan saja pada waktu. Bila sudah bertakdir pintu terbuka
dan aku bisa masuk, ya beruntunglah aku. Namun bila aku harus di depan kos dengan perasaan kalut dan takut hingga pukul sembilan tiba, ya tetap harus kuterima.
Ibu, kurasa ibuku adalah tempat yang tepat. Lantas kutelepon beliau, berharap mendapat ketenangan dan pencerahan.

“Hallooo, Assalamuallaikum,” ibuku bersuara dari ujung telepon. Suaranya dekat dan hangat, meski ia berrada begitu jauh dengnaku.

“Wa’alaikumsalam…” aku menjawab salamnya dengan nada suara parau.

“Ada apa? Sudah pulang dari Pertuni?” tanyanya.

“Udah, tadi ikut sama orang tuanya Pak Ndaru. Tapi, Mah, Eka gak bisa masuk kos. Pintunya kekunci…” aku mulai masuk ke dalam cerita tentang nasib sialku
sore ini.

“Kok bisa? Sudah menelpon Mbak Lili?” ada nada kecemasan dalam kalimat beliau.

“Udah. Udah telepon dan minta nomer temen, tapi belum dibalesin. Eka takut, Mah. Takut…” entah mengapa kuutarakan ketakutanku padanya, padahal selama ini
aku tak pernah megnatkan kata ‘takut’ meskipun aku harus berangkat ke kampus malam hari.

“Terus ini d depan kos?”

“Iya, ini di depan kos. Takut, Mah,” panas mataku semakin terasa. Entah dan entah, kata itu berputar-putar di benakku. Ya, entah mengapa aku menjadi penakut
seperti ini. Bukankah berada di jalanan sudah tak jadi soal buatku?

“Ya udah, ditunggu aja SMS dari Mbak Lili. Kamu berdoa. Kalau takut, coba berdiri dekat gerbang, tapi jagnan di luar gerbang. Gerbangnya biar ditutup aja,”

“Udah gak usah takut. Mamah mau sholat dulu,” ia mengakhiri pembicaraan kami. Jujur aku masih tak karuan meski petuah telah ibuku sampaikan. Aku celingukan.
Telinga kupasang betul-betul, sedang ponsel, digenggam erat seolah ada orang lain yang hendak merampasnya. Hingga kemudian, pemuda itu, yang tadi kutelepon,
suaranya kembali mengisi ponselku.

“Mas, aku takut. Gimana ini?” kataku dengan nada parau.

“Beneran gak ada yang bukain pintu? Mbak Mona gak bukain pintu?”

Mendengar nama ‘Mona’, bulu kudukku berdiri semua. Aku kacau. Mataku panas. Kakiku gemetar, begitu pun dengan tangan yang menggenggam ponsel. Nyaris kulepaskan
ponsel dalam genggamanku. Jantungku berdetak tak karuan. Kalut, benar-benar kalut, bahkan kali ini kekalutanku sudah naik ke tingkat paling tinggi dari
kalut yang pernah kurasakan.

“Mas! Aku takut! Kamu apa-apaan sih?” air mataku meleleh. Rasa takutku membuncah. Aku tak tahu lagi bagaimana cara mengendalikan rasa takutku itu. Berbagai
macam memori dan bayangan berkelibat dalam benakku. Tentu hal itu semakin membuatku takut. Mengapa pemuda itu sempat-sempatnya melemparkan nama itu di
tengah kekcauan hatiku sejak kemarin?

“Kamu kok jahat sih, Mas. Aku…aku kan sendirian…aku kan lagi…” aku tak bernafsu melanjutkan ucapanku. Aku terlanjur kecewa dengan pemuda itu. Aku sesaat
tak ingin mengenal pemuda yang setega itu mengaduk-aduk perasaan takutku yang sudah menjadi sejak teleponku yang pertama.

Teleppon itu kini sudah mati tak tersisa suara apa pun, yang ada hanya isakan. Ya, aku terisak. Air mataku meleleh. Sedikit lucu, sebab aku menagis karena
hal yang sehrusnya tak membuatku menangis. Namun bukankah tiap individu punya ‘warna-nya’ masing-masing? Lantas wajar adanya kan bila aku menangis karena
‘takut’?

Air mataku terus meleleh. Aku tak dapat mengontrol diriku. Bulu kudukku masih berdiri. Aku teringat banyak hal. Berkali-kali aku menoleh pada arah belakang,
seolah-olah aku tengah memastikan tak ada bayangan atau sosok apa pun di belakangku, meski sebetulnya itu konyol. Ya, tentu konyol, sebab aku adalah seorang
Tunanetra, maka tak mungkin bila aku bisa melihat sosok atau bayangan di sekitarku. Sebetulnya apa yang terjadi padaku? Cerita apa yang terjadi kemarin
hingga aku menjadi kalut dan takut?

Ponselku berdering. Ada SMS masuk di ponsel yang sejak tadi kugenggam. Ternyata yang mengirim SMS adalah seseorang yang sedari tadi kutunggu SMS-nya. Mbak
Lili mengirim nomer telepon dua orang teman kosku yaitu Nindi dan Cinde. Akhirnya pertama kali kuputar nomer telepon Nindi. Beda dengan nomer-nomer sebelumnya
yang sulit kuhubungi, mahasiswa semester dua itu justru langsung mengangkat teleponku. Namun, suara di sekitar Nindi begitu gaduh. Tentu dari suara-suara
itu aku bisa menebak bila Nindi sedang tak ada di kos. Tak apa, pikirku. Yang terpenting adalah, aku bisa tahu keberadaan teman-teman lainnya, yang siapa
tahu ada di dalam kos dan tertidur sehingga tak mendengar pintu yang kugedor.

“Nindi, kamu gak ada di kos ya?” tanyaku to the point.

“Ini Mbak Eka ya?” ia balas tanya.

“Iya, Nin. Aku mau masuk kos, tapi kok kosnya kekunci ya? Kok gak bisa dibuka ya?”

“Aduh aku gak ada di kos, Mbak. Dini dan Mbak Cinde juga gak ada. Emang Mbak Eka gak bawa kunci?”

“Gak, Nin. Aku lupa bawa. Terus gimana ya? Di dalam ada siapa ya?”

“Kurang tahu, Mbak. Tapi kalau Mbak mau masuk, coba cari kunci di sekitar garasi. Tadi aku naro kunci disitu buat Dini,”

Pembicaraan berakhir. Entah nasib baik tengah datang padaku, atau justru kesialan yang lagi-lagi datang. Teman-teman kosku ternyata tak ada di dalam, sedang
aku diberi jalan masuk namun ketika aku masuk, aku akan sendirian di dalam. Mampukah aku berada di dalam dengan kabar yang kemarin kuterima? Tidakkah aku
mati berdiri di dalam? Lantas, akan kupaksakan masuk atau tetap berada di luar? Ah, aku tak cukup punya banyak keberanian sepeertinya. Lantas bagaimana
ini?

Aku menimbang cukup lama. Air mataku masih meleleh, teringat perkataan pemuda tadi. Aku paranoid. Aku takut. Aku ingin berlari menghambur ke pelukan seseorang
dan bersembunyi di pelukannya. Aku ingin dilindungi dari rasa takut tak beralasan dan konyol ini. Kemudian, kukeluarkan ponsel yang tadi sempat kumasukan
ke dalam kantong celana. Kucari nama temanku untuk kuajak menamaniku disini. ‘Guspur Udinus’, itulah nama yang kutuju. Nada tersambung mengalun di ponselku,
namun ternyata tak ada jawaban. Aku galau. Siapa lagi kiranya yang bisa kutanyai dan kumintai pertimbangan? Pemuda itu lagi? Ah, benarkah aku akan menelpon
pemuda itu lagi? Bukankah tadi aku sempat kesal padanya? Namun aku rupanya tak cukup kuat bertahan untuk tak meneleponnya. Dan sebuah suara pemuda pun
menjawab segalanya.

“Gimana?” tanyanya.

“Kamu kok jahat sih, Mas…” aku mengulangi kalimat yang kulontarkan pada obrolan kami sebelumnya. Tangisku masih pecah, meski tak separah sebeelumnya.

“Terus wae gembenge digede-gedeke” ucapnya tenang namun menohok. Mendengar ucapannya itu, dadaku makin sesak. Menelpon dia, sepertinya bukan jalan yang
tepat. Belum lagi, dari depan gerbang kudengar ada sepeda motor terhenti namun tak kudapati seseorang membuka pintu gerbang. Perihal siapa pengguna sepeda
motor itu, aku tak tahu, dan hal itu jujur membuatku semakin paranoid.

“Lebih baik kumatikan telepon ini,” kataku dalam hati. Namun belum sempat aku tutup, dari arah pintu kos, kudengar ada kunci yang diputar.

“Siapa itu?” tanyaku dalam benak. Dan betapa bahagianya aku ketika kudapati seseorang keluar dari dalam kos. Tanpa pikir panjang dan belum sempat kumatikan
teleponku, kulontarkan sapa pada sosok yang baru keluar itu.

“Permisi. Siapa ya?” Langkah itu terhenti tepat di hadapanku ketika kulontarkan sapa tadi. Aku berusaha mengenali langkah itu, namun ingatanku belum mampu
mengenalinya. Namun sebuah kalimat singkat yang sosok itu lontarkan, akhirnya membuatku mampu mengenali sosok itu.

“Tyas ya?” kataku dengan yakin. Ya, tentu kuyakin seratus persen bahwa sosok itu adalah Tyas, mahasiswa semester dua asal Pemalang.

“Iya, Mbak…”

“Kamu ngapain disini, Yas?”

“Mau ngambil delivery, Mbak…”

Ah, rupanya sepeda motor yang tadi terhenti adalah delivery yang mengantar makanan milik Tyas. Aku tentu bahagia, meski rasa takutku masih ada ketika Tyas
menyampaikan padaku bahwa di dalam kos sangatlah sepi.

Kami pun masuk ke dalam bersamaan. Ia bertugas mengunci pintu, sementara aku naik ke lantai dua dan siap masuk kamar. Namun, ketika hendak naik ke lantai
dua, bulu kudukku berdiri. Tak ada apa-apa, kuyakin tak ada apa-apa. Namun entah mengapa sejak kemarin, kawasan dekat tangga menjadi tempat yang membuatku
merinding. Buru-buru kulangkahkan kakiku menaikki tangga. Beberapa kali nayris kakiku terselip di tangga karena saking terburu-burunya naik. Beruntung
aku tak sampai terselip dan jatuh menggelundung ke bawah. Sesampainya di lantai dua, angin berhembus menerpa wajahku. Angin itu terasa sejuk namun aku
tak suka. Entah mengapa, beberapa hal di dalam kos, seperti angin yang sudah biasa masuk dari loteng dan merayap menuruni tangga menuju lantai dua, khusus
sejak kemarin hingga hari ini terasa berbeda dan menyebalkan.

Dengan cepat aku menuju kamarku yang berada di ujung lorong. Agar tak jatuh tersandung barang-barang, tangan kananku berpegangan pada jendela kamar-kamar
yang kulewati. Hingga akhirnya aku sampai di kamarku. Buru-buru kubuka pintu kamar, namun semakin aku terburu-buru, kunci itu tak berhasil masuk ke lubangnya.
Tenang, tenang, aku harus tenang. Akhirnya setelah kuatur nafasku, kukendalikan diriku, kunci itu berhasil masuk dan pintu pun terbuka.

Bruk! Aku menutup pintu kencang-kencang. Buru-buru kulempar tubuhku di atas kasur. Boneka koala besar yang menghuni pojok kasur pun aku tarik dan kupeluk.
Sesaat kemudian, aku terlentang menghadap langit-langit kamar. Aku menarik nafas, mencoba melupakan segala yang terjadi beberapa waktu tadi. Aku mengerjap-ngerjapkan
mataku. Pikiranku menerawang pada ketakutan tak masuk akal yang kubawa sejak kemarin.

“Kenapa aku ini?” tanyaku pada diri sendiri.

“Kenapa aku takut sama Mbak Mona?”

“Kenapa?”

Bukankah dia teman kos yang baik?”

“Dia bukan hantu kan? Lantas kenapa aku takut?”

“Apa yang perlu ditakuti dari sosok yang kerap membantu mengangkat barangku, membukakan pintu kos bila penjaga kos sedang tak ada dan sosok yang ramah itu?
Kenapa? Kenapa dengan Mbak Mona?”

Bukankah dia cantik? Bukankah dia bukan hantu? Lantas kenapa takut?” Aku terus melemparkan pertanyaan pada diriku sendiri.

Kemarin, tepat pada tanggal 4 April 2014, aku mendengar kabar dari salah seorang teman kosku. Ia memberitahuku bahwa Mbak Mona, salah satu teman kos, tengah
koma di rumah sakit akibat kecelakaan. Ya, mahasiswa jurusan kesehatan itu tengah terbaring koma, bahkan temannya yang juga berada dalam kecelakaan itu
harus rela menghadap Tuhan lebih dulu. Sebetulnya tak ada alasan buatku untuk takut. Namun, teman-teman di kampus sudah terlanjur merasuki pikiranku, akibatnya
aku selalu membayangkan yang tidak-tidak. Betapa tidak, teman Mbak Mona yang meninggal itu sebetulnya kerap main ke kosku, dan berita itu langsung dimanfaatkan
teman-temanku untuk menakut-nakutiku.

“Biasanya kalau orang meninggal karena kecelakaan, arwahnya gentayangan ke tempat-tempat yang biasa dia datengi lho. Apa lagi dia sering main ke kosmu,
pasti sering datang tuh arwahnya,” Mendengar kalimat itu tentu aku langsung bergidik ngeri. Belum lagi kalimat lain yang tak kalah menakutkan.

“Mbak Mona kan koma, nah biasanya orang koma itu arwahnya keliaran kemana-mana. Udah pasti arwahnya keliaran ke kosmu, kan disitu tempat ia menghabiskan
hari-harinya…”

Ah, aku jadi gila mendengar kalimat-kalimat yang menakutkan itu. Sejak kabar itu kuterima, aku langsung kacau. Tubuhku selalu gemetar. Aku tak karuan. Aku
sebetulnya malu dengan apa yang kulakukan, namun aku tak dapat berbuat apa-apa. Rasa takutku terlalu besar. Aku tak bisa melawan rasa takut yang tak beralasan
itu. Ah, sungguh aku malu, sebab rasa takut itu sampai membuatku menangis di depan kos dan nyaris menggelinding di tanga. Sampai detik ini, aku masih berbalut
rasa takut, dan entah kapan akan berakhir.

Sejak hari Jum’at hingga hari Minggu, kosan memang sepi. Banyak penghuni kos yang pulang kampung, termasuk penjaga kos yang asli Demak. Dengan kondisi kos
yang sepi, ditambah kabar mengharukan perihal kecelakaan yang menimpa teman kosku, tentu aku jadi kurang nyaman di kos. Maklum saja, di lantai dua hanya
ada aku dan Rizki, selebihnya kamar-kamar ditinggalkan pemiliknya. Tak jauh dengan lantai dua, lantai satu pun kosong melompong, hanya segelintir anak
saja yang ada disana. Kapan kosan kembali ramai? Aku sudah tak sabar. Aku terlalu tersiksa dengan perasaan takut yang kucipta sendiri…

-    Nakula Raya 2, Semarang –

Foot note :

Terus wae gembenge digede-gedeke artinya “Terus saja cengengnya dibesar-besarkan”

Pertuni : Persatuan Tunanetra Indonesia

EDISI HONG KONG : SETENGAH CEBOK, JIJIK, BUT IT'S REAL!

Warning!!
Dilarang membawa, mengunyah, menelan atau mengkonsumsi makanan selama membaca tulisan ini demi keberlangsungan hidup Anda! Jika Anda memaksa, resiko ditanggung
sendiri, dan jika bencana datang, silahkan hubungi dokter terdekat!

Culture shock…apa itu? Dulu, seinget gue, pas gue semester 3 dulu, gue belajar tentang culture shock di matkul Cross Culture Understanding. Culture shock
itu kurang lebih merupakan kondisi dimana seseorang merasa asing dan gak familiar dan ngerasa gak banget sama budaya yang baru dia temui atau alami. Culture
shock biasanya terjadi kalau kita pergi ke luar negeri. Sebetulnya gak Cuma itu sih, culture shock bisa juga menimpa kita pas kita pergi ke daerah lain
di Indonesia. Contohnya, gue sebagai orang Jawa pergi ke Manado, pasti banyak banget keterkejutan budaya yang gue alami kayak lihat orang sana makan daging
kelelawar dan sebagainya.

Pas gue belajar culture shock, dosen gue, sebut aja Bu Neni *Nama sebenarnya*, ngasih contoh culture shock yang beliau alami pas ke China dan negara-negara
lain, termasuk pas beliau baru awal-awal tinggal di Semarang. Salah satu culture shock yang beliau alami pas di China adalah toilet disana. Dan tahu gak
sih, gue ngalami culture shock yang ada kaitannya sama toilet lho!

Gak percaya?
Gue serius!
Masih gak percaya sama gue?
Ok, simak aja cerita berikut ini!

Tanggal 20 November 2014 lalu, gue berangkat ke Hong Kong sama temen gue and satu orang dosen gue. Kami pergi kesana bukan karena acara holiday, tapi karena
ada seminar yang harus gue and Ari *nama temen gue* hadiri.

Kami pake pesawat Air Asia dari Jakarta transit di Kuala Lumpur, trus lanjut ke HK. Nah, pas di Soekarno-Hatta, gue tahu banget kalau toilet di bandara
itu gak bermasalah. Maksud gue, toiletnya normal dengan closet duduk lengkap pake air dan tissue. Air yang disedian bisa buat nyiram benda asing yang nyemplung
ke closet dengan cara mencet tombol atau tuas yang nempel di closet, dan selang biasanya buat cebok. Kita tinggal arahin aja tuh selang ke *Maaf* pantat
kita sampe bersih. Selain itu, ada juga yang buat ceboknya langsung nyemprot dari dalam closet. Air bakalan keluar setelah kita pencet tombol yang juga
nempel di closet. So, pas mau cebok, kita Cuma butuh ngepasin aja *Sorry bukan bermaksud porno hahaha*. Normal kan? Closet macem itu udah sering gue lihat
di mall-mall, pom bensin, hotel, bahkan kamar mandi mantan gue, sebut aja namanya Kamboja *bukan nama sebenarnya*.

Pas di bandara Kuala Lumpur, gue sempet ke toilet juga, bahkan gue sama team gue sempet nyoba kran air minum yang tersedia. Culture shock juga sih. Kalau
kata orang jawa, gue “Gumun” gitu pas nyobain. Gumun apa sih? Gumun itu kayak heboh *Kalau gak salah*. Gimana gak heboh coba? Pas mau minum, gue Cuma butuh
muter kran dan gleg gleg gleg minum deh tuh air. Di Indonesia, tepatnya di bandara yang pernah gue lalui kayak Achmad Yani, Soekarno-Hatta and Dipati Amir,
belum ada yang punya kran minum kayak gitu. Iya gak sih? Kalau gue salah mohon diralat ya.

Setelah minum-minum air dari kran *bukan kran toilet*, gue nyobain toiletnya. Seinget gue, closetnya gak jauh beda sama di Indonesia; closetnya dilengkapi
sama selang buat cebok, tombol buat guyur benda asing berbau yang kita keluarin, and ada tissue juga yang disedian. Gak beda sama yang ada di Indonesia,
tapi jujur kalau yang di Kuala Lumpur itu lebih besar ruangannya.

Sejauh ini sih gak ada culture shock yang berarti ya. Masih terkendali. Eits, tapi gue galau pas udah sampe di HK. Kok bisa?

Yep, nyampe di bandara International HK, gue kebelet pipis. Akhirnya gue, Pak dosen *Sebut aja Pak Arief, dan itu nama sebenarnya*, plus Ari pergi ke toilet.
Finally kami nemu toilet khusus disabilitas, dan berhubung gue itu tunanetra, gue nyobain deh itu toilet. Wow, gumun lagi nih gue. Gimana gak, mau masuk
aja pintunya udah otomatis. Tinggal pencet tombol, dan jleg jleg jleg pintu toilet kebuka. Terus, pas badan gue udah masuk ke ruangan toilet, pintunya
otomatis nutup, kayak di elevator gitu deh. Bener deh, toiletnya memudahkan penyandang disabilitas. Menurut gue, model pintu kayak gitu jadi memudahkan
temen-temen tunadaksa yang mungkin bermasalah sama tangannya. Well, pas udah masuk ke dalam, ruangannya gede banget, sampe-sampe gue bisa main gobag sodor
disitu *Jangan ditiru*.

Sampe main gobag sodor, segalanya masih indah dan terkendali, tapi sehabis gue duduk di atas closet, bencana pun datang.

Galau gue!

Pas gue selesai pipis, gue bingung nyari selang buat cebok. Gak nemu sama sekali, padahal gue udah raba sana sini. Gak nemu, guys. Gimana gue cebok kalau
gak ada air. Kalau buat guyur sih gue gak bingung, soalnya closetnya udah otomatis, so pas gue berdiri, air bakalan otomatis guyur itu cairan yang gue
keluarin.

Selang…selang..where are you?

Nyerah deh! Itu selang emang gak disedian, dan satu-satunya cara buat cebok ya pake tissue. Untungya gue bawa tissue basah, so gue gak terlalu risih deh.


Rada bete sih, tapi bersyukur juga soalnya gue gak pup. Kebayang deh kalau pup gimana jadinya? Well, it’s time to say “Iiiiuuuuhhhhhh”

Gue and Ari udah nyadar kalau di HK kami ngalami culture shock kaitannya sama closet. Bukan Cuma itu, culture shock gue and Ari makin akut pas kami sampe
di hostel tempat kami nginep. Emang apa sih yang terjadi?

Yep, kami sadar ternyata kami tinggal Cuma di hostel, dan kamar mandi plus toiletnya terpisah dari kamar. So, kalau mau pup, pipis and mandi harus ke toilet
umum.

Gak masalah sih, soalnya kamar mandi umumnya asyik meskipun tiap bilik Cuma dibatasi pake gorden. Kalau gue pikir-pikir, model bilik kamar mandi kayak
gitu tuh mirip sama kamar mandi yang ada di Jepang *dulu gue pernah lihat film Jepang model kamar mandinya kayak gitu*.

Ok, gak ada trouble ya sama kamar mandi, tapi gimana soal closet? Gak begitu kaget, soalnya gue and Ari udah sadar kalau closetnya pasti gak pake air buat
cebok. But anyway, masalah yang gue and Ari hadapi adalah “Serius kita gak cebok kalau kebelet pup?”

Caranya gimana dong? Namanya manusia, pasti butuh pup, apa lagi gue and Ari bakalan stay di hostel selama 5 hari. Masa iya selama 5 hari itu gak pengen
pup?

“Gak! Gue gak bakal pup!” gue bertekad kayak gitu, tapi faktanya?

Menyedihkan, gue denger tips and trik dari temen gue katanya kalau mau pup sekalian aja pas mau mandi. Maksudnya? Gue gak begitu ngeh, tapi setelah ngeraba-raba
maksud perkataan temen gue, gue baru sadar kalau ternyata gue harus cebok di kamar mandi pake shower yang ngalir. Oh wow, can I say “Iuuuuhhhhh”?

Oh my…jorok banget…tapi itu triknya. Kalau gak puas cebok pake tissue, ya udah deh cebok pake shower, tapi harus pagi-pagi atau malem buta biar gak ada
orang hahahaha ngakak.

Meskipun gue udah tahu tips and triknya, tapi gue masih bertekad sebulat-bulatnya, bahkan lebih bulat dari muka gue sndiri bahwa “Gue gak bakalan pup!
Gue bisa tahan!”

Gitu deh tekad bulat gue. Itu prinsip gue, dan gue harus menjunjung tinggi apa yang udah gue ikrarin. Gak ada yang bisa ngehalangi tekad and prinsip gue
itu, kecuali perut yang udah sangat sangat teramat amat amat mules banget sekali parah akut stadium akhir.

Galau! Gue kebelet! Gue kebelet di pagi hari! Tahu deh semalam makan apa pas cocktail party di Cyberport. Seinget gue sih gue Cuma minum orange juice and
snack kecil-kecil salmon, jamur sama apa gitu gue lupa, tapi kok efeknya kebelet gini ya?

Gue masih bertahan. Tetep berusaha biar gak sampe duduk di atas closet pagi itu. Tapi….susah…tarikannya terlalu kuat…

Alhasil gue ngibrit ke toilet pagi-pagi buta. Gak lupa gue sekalian bawa perlengkapan mandi, biar langsung mandi. Yep, gue kan inget tips and trik yang
dikasih sama temen gue ‘Cara Cebok Jitu dengan Closet tanpa Air’.

Sesampainya gue di dalam toilet, gue gak langsung duduk di atas closet. Gue mikir dulu. Serius gak ya gue ngorbanin prinsip gue yang udah sedemikian rupa
gue ikrarin? Ah, kelamaan mikir, bisa-bisa bencana lain malah dateng. Finally gue duduk dan *lanjutin sendiri imajinasinya*.

Benda asing udah gue keluarin, sekarang tinggal cari cara buat bersihin badan. Dan setelah pake tissue, Dengan perasaan campur aduk, gue langsung ngelangkahin
kaki ke kamar mandi. Untungnya kamar mandinya deket banget, sampingan malah. Di dalam kamar mandi, gue langsung cebok sebersih-bersihnya, dan tentu aja
sambil mandi. Selesai mandi, gue langsung semprot-semprot deh itu lantai biar bersih kinclong hahaha. Tanpa gue semprot-semprotin juga sebenernya udah
bersih, soalnya kan air shower and krannya kenceng banget.

Sumpah geli banget kalau inget pengalman itu, tapi mau gimana lagi? Gue sebagai orang Indonesia yang udah kebiasaan pake air, rasanya gimana gitu kalau
gak pake air. Untungnya gak Cuma gue aja yang pake tips and trik kayak gitu, temen gue pun gitu. Dan tahu gak sih gimana pendapat temen dari negara lain?


Suatu malam, gue, Ari and temen gue dari Laos, sebut aja Lengkuas *bukan nama sebenarnya* ngerumpi depan kamar gue. Trus iseng aja gitu gue and Ari tanya
pengalaman si Lengkuas itu kaitannya soal closet. Selain itu, gue and Ari juga pengen tahu gimana culture di Laos, murni tissue atau pake air juga. Kurang
lebih begini conversation di antara kami bertiga :

Ari    : Lengkuas, are you familiar with the closet in this hostel?
Lengkuas    : What do you mean?
Gue    : Hmm, when you want to pup, are you familiar with the closet in this hostel? You know, in HK we only use tissue for washing our ass. We don’t find
water. How about the culture in your country?
Lengkuas    : What do you mean? (Keliatan gak ngerti banget)
Ari    : Yeah, have you used the closet in this hostel? Maybe pup? (Ari nyoba ngejelasin)
Lengkuas    : Ah..eh..hhh..I don’t understand (sambil cengar-cengir ketawa)
Gue and Ari    : (garuk-garuk kepala)
Gue and Ari    : Pup..pup..you know..pup…(sekuat tenaga ngejelasin)
Lengkuas    : Pup? What is it? Can you explain it?
Gue and Ari    : (ngelus dada)
Ari    : Ok, I’ll explain it to you. Pup is eehhhh (Ari meragain gaya pup dengan suara ngeden)
Gue    : (Ngakak saking gelinya)
Lengkuas    : (Ketawa, tapi gue gak yakin kalau dia ngerti)
Ari    : Get it? (Gue masih cekikikan)
Lengkuas    : Yeah..yeah..pup..yeah some of people in my country use tissue, and some use water.

Ok, gue cut segitu aja dulu conversationnya, soalnya itu yang paling crusial hahahaha. Tapi dari conversation kami bertiga, kelihatan banget ya gue, Ari
and si Lengkuas kayak trio idiot ahhahaha. Di antara kami bertiga, Englishnya gak ada yang mumpuni alias pas-pasan semua hahahahahah.

Begitu deh culture shock yang gue alami selama di HK. Ribet sih memang. Nyusahin juga, tapi itu kan umum di HK meskipun ya buat orang Indonesia kayak gue
yang kebiasaan pake air, pastinya ribet dan iuh banget kalau harus cebok pake tissue doang. Ya gue ngerti banget itu tissue yang dipake bukan tissue biasa.
Gue yakin tissue nya khusus soalnya gak mudah rusak kecuali kalau kita buang ke closet trus kita guyur, baru deh dia ancur. Tapi ya jujur deh buat gue
itu gak banget kalau harus cebok Cuma pake tissue, berasa gak bersih gitu *Maaf gak bermaksud jorok*.

Well, cerita yang gue tulis ini fakta lho. Gue and Ari ngalami culture shock yang parah gila. Masalahnya sih bukan terletak di model toilet di HK, tapi
masalah terletak di diri gue and Ari yang susah nyesuain diri sama culture disana hahahaha. Moral value yang bisa gue dapet dari kisah ini adalah “Bawalah
tissue basah ketika Anda melancong ke luar negeri, bila perlu bawa selalu ember dan gayung demi keberlangsungan performa Anda di luar negeri” *Ngakak*.